[Dibuat untuk merayakan ulang tahun penulis]
Beberapa part telah ditarik demi kepentingan penerbitan🙏
Ketika kata naif masih melekat pada Saka dan Gala, keduanya pernah sama-sama bahagia. Mereka saling menautkan jari kelingking dan mengumbar janji...
"Bahkan jika hal tersebut telah kehilangan eksistensi, hanya potretlah yang mampu menjadikannya kepingan memori."
—Unknown
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Saka menyeret langkah beratnya dengan gontai. Sesekali ia menendang kerikil yang ia jumpai di jalanan. Kedua tangannya ia masukkan ke dalam saku celana. Dua kancing kemeja teratas ia buka dengan sengaja. Ia biarkan angin petang mengusik rambutnya.
Langkahnya terhenti di depan sebuah rumah yang tak terlalu besar tetapi terlihat bersih dan nyaman. Terdengar sedikit derit kala ia membuka pagar. Padahal ia sudah berusaha untuk mendorong pelan-pelan, tapi karat di sana tidak bisa dijadikan teman, selalu menimbulkan derit jika sedikit saja pagar itu bergeser.
Ia meraih kunci dari tempat biasa. Pintu itu terbuka dan Saka disambut oleh kegelapan. Ia meraba dinding sekitar, berusaha mencari sakelar, kemudian menyipit kala pupilnya berusaha beradaptasi dengan lampu yang menyala dan ruangan tiba-tiba menjadi terang.
Ah, kakaknya pasti belum pulang.
Saka menarik napas, kemudian membuangnya dengan keras. Ia kembali menyeret langkah, kali ini menuju kamar. Sama. Lagi-lagi gelap yang menyambut kala pintu kamar ia buka. Selalu seperti itu hampir setiap hari, jadi ia sudah terbiasa.
Setelah menyalakan lampu dan membiarkan tasnya tergeletak di lantai, ia melompat ke atas kasur dengan asal. Benda tua itu berderit kala harus menahan beban lima puluh dua kilogram. Saka berbaring telentang. Ia biarkan kedua tangan dan kakinya membuka lebar. Kini posisi tubuhnya persis seperti bintang.
Setelah itu, ia biarkan pikirannya melayang, pada hal apa saja yang sempat melintas dan masih mampu ia jerat ke dalam ingatan. Tentang nilai matematika yang kembali mendapat lima, tentang sang kakak yang kalau pulang semakin petang saja, tentang rasa bimbang antara ingin kuliah atau langsung bekerja, dan banyak hal lain yang Saka bahkan tidak mengerti mengapa bisa mampir di benaknya secara tiba-tiba.
Saka kembali membuang napas dengan kasar. Ia memejam, hanya sebentar, sebelum kembali melakukan hal random seperti menatap sekeliling ruangan. Padahal kamarnya itu sudah lama sekali tidak ia apa-apakan. Tidak ada posisi barang yang berubah secara signifikan. Bahkan, kardus usang yang sempat ingin ia buang masih tersimpan dengan manis di atas lemari pakaian.
Ah, iya, kardus itu, bagaimana kabarnya ya?
Saka beranjak dari atas kasur untuk kemudian melangkah mendekati lemari pakaian. Ia sedikit berjinjit untuk meraih satu-satunya kardus di sana. Lemari tersebut memiliki tinggi yang lebih beberapa senti dari jangkauan Saka, hingga meski sudah jinjit pun, ia masih kesusahan, bahkan hanya untuk menggeser kardus itu dari tempatnya.
Butuh usaha ekstra untuk memaksa tubuh meraih kardus tersebut. Tapi di dunia ini tidak ada yang sia-sia. Setelah hampir dua menit ia berjinjit, akhirnya kardus itu berhasil ia raih juga. Ia bawa benda itu dalam dekapan, kemudian kembali ke atas kasur dan duduk dengan nyaman.