Tahun Pertama Masa Putih Abu-Abu
Hazel mengulas senyum saat melihat Elianra yang tertidur pulas di sebelahnya. Tangannya terjulur untuk mengambil pena yang masih digenggam oleh El. Sepulang sekolah, El memang datang ke rumah Hazel, memintanya mengajarkan materi Fisika yang tidak dimengerti. Hazel terkekeh pelan saat mengingat El yang terus-terusan protes setiap kali dia menjelaskan materi terlalu cepat.
Perasaan Hazel sedikit menghangat melihat El yang tidur begitu lelap. Dia terlihat sangat polos di saat tidur seperti itu. Wajah tampannya terlihat lebih natural saat tidur.
Tangan Hazel bergerak mengelus lembut kepala Elianra sebelum akhirnya beranjak dari posisinya. Ia berjalan meninggalkan El dan buku-buku yang masih berserakan, menuju dapur dan memeriksa isi kulkas. Hazel berniat membuat Frittata (makanan khas Italia berbahan dasar telur. Mirip dengan omelet telur. Biasanya dilengkapi dengan daging, keju, sayuran, atau pasta).
Elianra sangat suka makan dan Hazel suka sekali mencoba resep-resep makanan. Oleh karena itu, ia selalu mencoba membuat masakan setiap kali Elianra berkunjung ke rumah. Terkadang Hazel dibantu oleh Bunda, tapi seringnya dia berusaha sendiri.
El pernah bilang pada Hazel, suatu hari orang-orang akan jatuh cinta pada masakan buatannya. Sejak itu Hazel bermimpi akan mendirikan restoran sendiri dan bermimpi restorannya itu akan terkenal sebagai restoran yang paling diminati banyak orang.
Setiap ada waktu luang, pasti ada satu menu makanan yang berhasil ia buat. Dan Elianra-lah yang selalu menjadi kelinci percobaan yang pertama kali mencicipi makanannya.
Hazel sedang sibuk menghidangkan Frittata yang sudah jadi ke piring ketika Melinda datang menghampirinya. "Baru selesai belajar ya?" Beliau mencomot kentang goreng yang juga dibuat Hazel selain Frittata.
Hazel mengangguk sebagai jawaban. "Bunda mau makan atau mandi dulu?"
Tanpa menunggu jawaban, Hazel sudah tahu Bunda akan makan lebih dulu ketika melihat beliau menyendok nasi ke piringnya.
"Tumben?" Bunda tersenyum di sela-sela kunyahannya.
Hazel tertawa kecil. Elianra memang tipe cowok yang malas belajar, tak heran Bunda bertanya seperti itu saat melihat dia belajar. "Salah minum obat kali dia, Bun." Hazel menuangkan segelas air putih untuk Bunda kemudian membiarkan Bunda menikmati makanannya.
Malam sudah datang dan El masih terlelap. Sebenarnya Hazel tidak mau mengganggu tidur nyenyaknya, tapi ia harus membangunkannya. Perut El belum diisi apapun sejak pulang sekolah. Dan lagi, badannya pasti pegal karena tidur dalam posisi duduk bersila dan kepala yang terbaring di atas meja.
Hazel mengguncang bahunya pelan. Elianra menggumam sebentar sebelum menegakkan tubuhnya. Lalu dia menguap dan mengucek matanya. Lucu sekali, pikir Hazel.
"Sorry, gue ketiduran." El menggaruk tengkuknya yang Hazel yakini tidak gatal sama sekali. Hazel hanya tersenyum lalu memilih membereskan buku-buku. Elianra membantunya.
Hazel kemudian berjalan ke lantai atas untuk menyimpan buku-buku dan El mengekorinya. Dia menunggu di depan pintu kamar Hazel selama cewek itu mengembalikan buku-buku ke rak buku di dalam kamar. Hazel memang tidak pernah diperbolehkan membawa cowok ke kamarnya. Paling mentok ya di depan pintu.
Hazel menutup pintu kamarnya dan bertanya pada Elianra, "Mau makan? Aku masak Frittata."
"Apa gue masih perlu jawab?" balas El. Hazel hanya mengedikkan bahu lalu melangkah mendahuluinya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Rumah Untuk Cinta
Romance17+ Hazel membenci Elianra dan satu sekolah tahu akan hal itu. Kebencian itu semakin dalam ketika Elianra merenggut harta berharga perempuan itu dengan paksa. Membuat mereka harus terikat dalam kehidupan pernikahan. ... Semuanya akan meninggalkan be...
