"Ah elo, Chik ... seenaknya aja motong ucapan gue," semprot Zivi.
Hazel, Chika, Orin, dan Zivi sedang dalam moment video call mereka. Dan mereka sedang membahas hubungan Hazel dengan Elianra. Ketika Hazel bercerita bagaimana dia menghindari Elianra, ketiga sahabatnya tersebut langsung heboh menanggapi dengan segala macam bentuk kalimat. Sampai-sampai tidak ada satu kalimat pun yang berhasil Hazel ingat.
"Gue sependapat sama Orin. Emang harusnya ya, kejadian yang udah lama gak perlu dipermasalahin. Capek gak sih lo, Zel, harus buang muka ke arah lain setiap papasan sama El? Apalagi lo berdua seatap. Gila aja lo berdua gak ada ngomong or just greets to each other. At least, lo berdua harus ngomong kan? Tahan, lo, bisu bertahun-tahun sama dia?" sambung Zivi.
Kedua sahabat yang lain langsung mengiyakan pendapat Zivi, sementara Hazel mendengus.
"Makanya kalian itu dengerin dulu gue ngomong, baru komentar. Ini main serobot aja!"
"Emang kita salah tanggapin ya?" tanya Orin.
"Ya iyalah," kesal Hazel. "Gue lagi ngehindar dari El bukan karena masalah itu."
"Jadi apa?!" ketiganya serentak bertanya.
Dan tiba-tiba pipi Hazel menghangat. Dia mulai tersenyum tidak jelas. Membuat sahabat-sahabatnya kebingungan dengan tingkahnya.
"Lo sehat kan, Zel?" celetuk Chika.
"El gak kasih lo obat yang aneh-aneh kan?" sambung Orin.
"Ahaaa!!!" sambung Zivi dengan seruannya yang tiba-tiba. "Jangan bilang elo sama El udahhh ...."
"Apaan sihhh, Vi ...!" Dan pipi Hazel semakin memanas karenanya.
Lantas ketiga sahabatnya serentak berteriak, "CERITA!!!"
***
Hazel keluar dari tempat persembunyiannya - kamar - dikarenakan perutnya yang sudah berteriak minta diiisi. Dirinya terlalu asik bercerita bersama para sahabat gilanya. Lagi-lagi, pipi Hazel menghangat, mengingat apa yang baru saja dia ceritakan pada sahabat-sahabatnya itu.
Hazel berjalan mengendap-endap menyusuri jalan ke dapur. Dalam hati ia bertanya di mana Elianra. Dia sedang tidak sibuk dengan urusan kuliah. Setelah sibuk beberapa minggu mengurus keperluan dan data-data mahasiswa baru, Elianra tidak lagi berangkat ke kampus, sebab perkuliahan baru di mulai pada pertengahan September nanti. Masih ada waktu hampir dua minggu bagi Elianra untuk sekedar mempersiapkan tenaga dengan bersantai di apartemen bersama Hazel.
Diam-diam Hazel bersyukur dalam hati saat tak mendapati Elianra di sekitarnya. Dia tidak tahu harus bereaksi bagaimana jika menemui Elianra nanti.
"Bodoh sih, Zel!" dumelnya ketika kembali mengingat apa yang kemarin di lakukannya pada Elianra. Diketuk-ketuknya pelipis kanannya dengan jari telunjuk. "Bodoh ... bodoh!!! Kan jadi malu!!! Mau ditaruh di mana mukamu, Zel!"
"Kamu kenapa?"
Hazel terlonjak kaget mendengar pertanyaan yang datang tiba-tiba dari Elianra, dan hal itu membuat jari telunjuknya mengarah ke matanya. Bertepatan dengan ringisan kecil dari bibir Hazel.
Elianra mendekati Hazel seraya meminta maaf berkali-kali. "Zel, sorry aku ngagetin kamu." Lalu Elianra menangkup wajah Hazel dan mulai meniupi mata kanannya. Disingkirkannya anak-anak rambut Hazel yang tampak mengganggu.
KAMU SEDANG MEMBACA
Rumah Untuk Cinta
Romansa17+ Hazel membenci Elianra dan satu sekolah tahu akan hal itu. Kebencian itu semakin dalam ketika Elianra merenggut harta berharga perempuan itu dengan paksa. Membuat mereka harus terikat dalam kehidupan pernikahan. ... Semuanya akan meninggalkan be...
