Gue hanya menghela napas saat membaca chat dari Arvan yang barusan masuk.
Arvan: Woy.
Arvan: Kita musuhan.
Arvan: Gak usah ngomong sama gue lagi.
Arvan: Gak usah main kerumah gue lagi.
Arvan: Kemana lo tadi? Kabur?
Arvan: Bagus ya lo! Ada kemajuan, sekarang bisa cuma ngeread pesan orang.
Terus dia langsung off. Gue menghela napas kasar, lalu dengan cepat ganti baju, pengin meluncur langsung ke rumah dia karena udah gak tahan sama kelakuan makhluk yang satu itu. Setelah selesai ganti baju, gue langsung ngacir ke rumah Arvan.
"ASSALAMUALAIKUM, WOII." Bodoamat lah.
Gak lama Bi Yemi datang lalu mempersilahkan gue masuk. "Mau minum apa Elisha?"
"Kalau lagi kesel gini enaknya minum matcha latte yang hangat ya Bi." Bi Yemi mengangguk dan masuk ke dalam rumah duluan. Tanggung kalau cuma minta air putih doang di rumah orang kaya.
Gue langsung masuk dan menuju kamar Arvan. "Arvan!" Gue mendobrak pintu kamar. Sengaja biar pintunya rusak, toh bakal diganti juga nanti.
Arvan diam lagi duduk di meja belajarnya, gak berkutik. Gue langsung lompat ke tempat tidurnya.
Yang tadi niatnya mau marah-marah seakan lenyap karena suasana kamar dia yang adem gini. Gue melihat Arvan lagi sibuk nulis, mungkin lagi ngerjain tugas. Biasalah, anak rajin mah tiap hari makan tugas.
"Van," ucap gue datar, dia cuma berdeham kecil sambil membelakangi gue.
"Kenapa sih lo ngambek," gue diam sebentar, "Kayak bocah tau."
Dia masih diam. Dih, tadi sok marah sama gue. Sekarang mana? Lo diam kan.
Gue menghela napas kesal. Emang ya si Arvan ini kaya bocah banget. Apa karena didikan dia nya jadi anak manja.
"Van, kok lo diam aja sih dari tadi. Gue berasa ngomong sama patung tahu gak." Gue mengomel sendiri.
"BACOT." Arvan masih sibuk nulis membelakangi gue. "Kan gue udah bilang jangan ngomong sama gue lagi."
SABAR ELISHA, SABAR. SEKARANG LO HANYA SEDANG MENDAPAT COBAAN YANG AGAK BERAT.
Gue mencoba setenang mungkin agar gak ngamuk dan ngancurin perabotan disini.
"Van ...," kata gue selembut mungkin walaupun terkesan aneh, "Gue gak pulang sama lo itu ada alasannya."
Arvan sama sekali gak menoleh ke gue.
"Tadi gue pulang sama Adrian," gue diam sejenak, "Dia yang minta pulang bareng. Katanya mau temenin dia ke rumah sepupunya."
Arvan masih diam.
"Gue temenin karena kasihan lihat dia. Gak ada yang mau nemenin katanya," ucap gue, padahal dikasih iming-iming cilok juga. Tapi bagian itu gak gue masukin, nanti kesan gue bukannya baik tapi malah sebaliknya.
Gue bisa mendengar Arvan mendengus kesal. Nih bocah gak mau ya berdamai sama gue? Heran gue.
"Van, lo masih marah?" tanya gue memastikan. Gue yang dari tadi duduk ditepi ranjang jadi merasa gak enak sama dia. Ini kan rumah nya, masa gue datang seenaknya cuma mau ngamuk. Lagian kalau dipikir-pikir, musuhan sama Arvan tuh gak enak juga.
"Banget," jawabnya sinis. Ya elah, gue ngomong baik-baik malah di jawab kayak gitu.
"Van, gue mau ngomong." Gue diam sejenak, ragu mau bilang atau enggak masalah gue sama Adrian.
"Adrian tadi kayak nembak gue," kata gue agak ragu.
Arvan berbalik membalas pandangan gue.
"Terus lo terima?" kata Arvan sengit, mengangkat sebelah alisnya.
Gue menggeleng. "Gak tahu."
Gue emang bener-bener gak tahu si Adrian itu apakah nembak gue beneran atau enggak.
"Oh, bagus," jawabnya pendek.
YA AMPUN ARVAN, PLISS NGERTIIN DULU DONG SITUASI GUE. GUE MAU DAPAT PENCERAHAN DARI LO TAHU GAK.
"Van gue bingung," kata gue manyun sambil menatap dia dengan tatapan yang mungkin kalau dilihat orang lain bakal mengira gue lagi sedih.
"Bingung apa lagi?"
"Kalau Adrian beneran nembak gue jadi gimana?" kata gue sambil mengulum bibir.
"Kalau lo gak mau, ya udah tolak. Gitu kok susah amat." Arvan balik lagi membelakangi gue.
Gue berdecak pelan, dia kira bakal mudah gitu nolak orang. Masalahnya gue gak bisa ngomong apa-apa tahu gak.
"Kok lo jutek gitu sih Van, lo masih ngambek?" Gue mencibir. "Dasar bocah."
Arvan melengos lalu berbalik, beranjak dan berjalan menuju gue. Dia membalas tatapan gue dan sedikit membungkuk dengan wajah tepat didepan gue. Gue menggigit bibir, gugup. Kenapa wajah Arvan sedekat ini sama gue.
"Lo masih nganggep gue bocah?"
Gue bisa merasakan hembusan napas Arvan yang hangat.
INI KENAPA TUBUH GUE GAK BISA DIGERAKIN SIH? MALAH MEMBALAS TATAPAN DIA JUGA.
"Lihat, tingkah gue gak kaya bocah tuh."
Napas gue mulai memburu. Gue gak bisa bilang apa-apa sekarang. Mulut sama otak gue sedang gak berteman kayaknya.
"Gue gak kaya bocah kan?" Kali ini salah satu alis Arvan terangkat seakan sedang menantang gue.
YA AMPUN. IYA, LO GAK KAYA BOCAH. JADI SEKARANG JAUHIN MUKA LO ITU VAN.
"Kenapa muka lo kaya lagi ngumpatin gue?" Arvan tersenyum seakan sudah memenangi pertandingan.
YA ELAH, GAK MUNGKIN GUE GAK NGUMPATIN LO DI OTAK GUE.
Tiba-tiba Bi Yemi membuka pintu kamar. "Ini minumannya Elish—" Kalimat Bi Yemi terpotong saat melihat kami.
Arvan sontak menjauhkan wajahnya dari gue dan duduk disebelah gue.
"Taruh aja diatas meja Bi." Arvan berdeham dengan wajah yang memerah sambil mengusap hidung.
"Maaf." Bi Yemi buru-buru menaruh minuman itu di meja sebelah lemari Arvan lalu kembali berbalik keluar kamar.
Arvan melengos sambil berjalan untuk menutup kembali pintu kamar. "Minuman lo tuh di habisin."
YA ELAH JUTEKNYA KAMBUH LAGI.
Terimakasih sudah mau membaca cerita absurd saya hehe:)
Maaf kalau ada yang typo atau gak nyambung.
Voments nya oke?
KAMU SEDANG MEMBACA
Goodboy VS Fakboy
Teen FictionIni Gue Siswi paling pemalas nan mageran yang entah kenapa bisa terseret masuk ke dalam kelas penuh orang genius dan berbakat. INI GIMANA CERITANYA WOY?! ***** 11 IPA 1, kelas berisi orang-orang dengan kasta yang berbeda. Dari anak olimpiade astro...
