Definisi Teman

141 11 2
                                        

Sore ini, kerjaan gue cuma guling-gulingan aja di kasur. Gue bener-bener gak tahu harus ngapain.

Kemarin Adrian, sekarang Aaron terus besok siapa lagi ha?

Jadi cerita nya tadi Aaron ngajak gue pulang bareng, tapi gue gak mau. Kalau nolak dia langsung kan gak enak. Yah, jadi gue diam-diam langsung pulang pas dia lagi keruangan OSIS. Jahat banget kan gue.

Tapi mau gimana lagi, entar dia ngajak gue mampir terus nembak gue kayak Adrian kemarin. Gue mau jawab apa? Masa gue harus lari juga.

YA AMPUN SHA, GE-ER BANGET LO.

Mungkin si Aaron bakalan ngambek kayak Adrian tadi. TERUS YANG SUSAH NYA KAN JUGA GUE.

Lagi kesal gini jadi ke ingat Arvan kan. Huh, jadi pengin lari kerumah dia terus senderan di kasurnya sambil curhat sama minum matcha, terus suruh dia pergi beli cilok.

Cilok?

NAH KAN SEKARANG GUE PENGIN CILOK.

Di rumah Arvan ada stok cilok gak ya? Tapi kalau datang cuma mau marah sama minta makan gak sopan banget gue.

BODO AMAT.

Gak peduli gue. Ini balasan karena dia suka jahatin gue.

Gue langsung ambil ponsel yang ada di meja belajar terus pamitan sama Ibu, bilang kalau gue mau kerumah Arvan, ada yang mau dipinjem. Lengkaplah dosa gue hari ini.

"Arvaaann," teriak gue sesaat setelah sampai di depan rumah dia.

"Eh, ada Elisha. Sini masuk, Arvannya ada dikamar." Itu mamanya Arvan, gak sengaja mau keluar juga.

"Tante mau pergi keluar, akrab-akrab ya sama Arvan," lanjut mama Arvan, lalu pergi melewati gue. Gue mengangguk mengerti. Gue itu mau akrab sama Arvan, tapi dia nya aja yang kadang buat gue kesal.

Gue langsung nyelonong masuk kamar Arvan. Tak lupa sebelum itu minta Bi Yemi buatin matcha.

"Van," sahut gue saat melihat Arvan duduk dimeja belajar sambil main ponsel.

Dia habis belajar atau masih belajar? Kok setiap kesini, Arvannya di meja belajar terus. Apa sepenting itukah belajar? Lebih baik Elisha yang bodoh ini gak usah banyak tanya deh.

Dia menoleh memandang gue heran. "Tumben kesini."

Gue langsung lompat kekasurnya terus rebahan. "Lagi bete," jawab gue sambil menatap langit-langit.

Arvan mendecih. "Cih, kalo lo susah nyari gue tapi pergi saat lo udah senang."

"Itu definisi teman." Gue mulai guling-guling lagi. Kalau disini lebih enak, lebih empuk. Kasur gue mah kentang.

Arvan gak menjawab. Dia masih sibuk dengan ponselnya.

"Van ..., gue mau curhat," ucap gue dengan nada mengayun.

"Kenapa semua orang jadi pada marah sama gue?" Kalimat gue berhenti sejenak. "Emang gue salah apaan sih Van?"

Arvan memutar kursinya dan menatap gue. "Emang siapa yang marah sama lo?"

Gue cemberut. "Adrian sama Aaron tuh. Sama lo juga."

Arvan mengangkat sebelah alisnya. "Gue gak marah sama lo." Terus dia berbalik lagi.

Gue cuma bisa menatap punggung Arvan. "Van, tadi kata Anita, Aaron suka sama gue."

Arvan hanya bergerak kecil, tapi gue gak bisa lihat ekspresi dia kayak gimana.

"Jadi gue harus gimana?" Gue beranjak untuk duduk sambil benerin rambut gue yang udah acak-acakan karena berguling dari tadi.

Arvan beranjak lalu berjalan ke arah gue, duduk di sebelah gue. Dengan jarak sedekat itu, gue sadar kalau Arvan punya lesung pipit dan wajahnya tak kalah mempesona dari Adrian.

"Tolak." Suara berat Arvan membuat gue mengerjap.

GIMANA MAU NOLAKNYA VAN? GUE AJA TADI LARI GAK BERANI KETEMU.

"Tapi gimana?" Gue berhenti sejenak. "Gue juga cuma mau nganggep mereka sebagai teman."

Gue bisa mendengar Arvan menghela napas kasar. "Gak usah dekat-dekat mereka lagi."

Ya ampun, gimana coba ngejauhin mereka berdua kalau mereka masih sekelas sama gue?

"Umm, Van." Gue pengin banget nanya ke dia tentang hubungannya dengan Fannia karena waktu itu Nathan mau ngasih tahu tapi gak jadi. Tapi gue rada malu gitu.

"Lo suka sama Fannia?" Akhirnya pertanyaan itu keluar juga dari mulut gue.

Arvan sontak menoleh ke gue, dengan dahi berkerut meminta penjelasan.

"Elo kok gak pernah cerita ke gue sih Van." Gue jadi mengulum bibir, gak mau natap dia.

Arvan diam.

"Untuk apa gue cerita ke lo," kata dia cuek mengalihkan pandangannya kearah lain.

Dih, dasar ya lo. Gue berdecak pelan, jadi tambah kesal.

"Itu kan definisi teman," lanjutnya saat Bi Yemi masuk mengantarkan minuman gue.

Saat Bi Yemi keluar, keadaan kembali senyap. Gue cuma sibuk menghabiskan minuman gue.

Rasanya sekarang agak canggung, apa karena gue tanya soal Fannia ke dia?
Mendadak gue teringat sama cilok.

Anjir, kenapa gue jadi ingat sih, kan jadi laper. Emang disini beneran ada stok cilok?

"Arvan, dirumah lo ada stok cilok gak?" Bodoh Sha, mana ada stok cilok disini.

"Gak ada." Kata Arvan pendek. Sekarang muka Arvan mendadak datar. Nah kan gak ada. Eh, apa dia marah juga sama gue juga?

"Keluar yuk beli cilok, sekalian cari udara segar. Otak gue rasanya penuh banget." Gue mencoba berdamai sama dia. Gak enak tahu kalo banyak orang yang marah sama gue.

Arvan menggeleng pelan sambil beranjak menuju meja belajarnya lagi.

"Gue gak bisa, mau belajar. Minggu depan udah lomba."

Gue menghela napas, kecewa. "Lomba dimana sih, kayak semua waktu lo untuk belajar aja."

"Luar kota," kata Arvan membelakangi gue.

"Dimana? Jauh ya dari Bandung?" tanya gue cemberut.

"Jakarta. Nginep tiga hari," jawabnya singkat, jelas, padat.

Bibir gue langsung manyun. Gak tahu rasanya gak enak gitu kalau Arvan pergi jauh-jauh, apalagi lama. Kan gak bisa kerumahnya. Ya kali gue main ke rumah Arvan tapi orangnya gak ada. Gue mau curhat sama siapa ha? Bi Yemi?













































Pendek ya?
Emang
Voment oke:)

Goodboy VS FakboyCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang