Gue bisa merasakan kuncian tangan gue melonggar dan langsung gue tepis membuat Giselle sama Jihan sedikit tersentak.
"Kok lo belain dia sih?" Ucap Syafira cemberut bercampur kesal.
"Gue gak belain siapapun." Jawab Adrian masih dingin dan berwajah datar lalu melepaskan tangan Syafira.
Syafira mendecih. "Lo harus jelasin semua nya nanti." Syafira memberi kode kepada dua temannya untuk segera pergi.
Saat mereka bertiga pergi, gue memalingkan muka dari Adrian. Gak mau menatapnya.
"Sha, lo baik-baik aja?" Tanya Adrian lembut.
Gue diam, dengan muka datar. Gue bener-bener kesal sampai mau nangis. Baru kali ini gue kayak dilabrak padahal gue gak ada salah.
"Sha, maafin gue. Seharusnya gue gak ninggalin lo sama Gesha. Gue lupa kalo mereka berdua masih temenan sama Syafira."
Brengsek.
"Sha, lihat gue."
Bodo amat. Brengsek.
"Sha, lo marah?"
Gue mengatur napas, berusaha menahan tangis.
"Pulang." Kata gue datar, dingin dan menusuk.
"Ya udah, lagian udah sore juga." Adrian melengos, dia melepas jaketnya dan dipasangkan ke gue. Dia nuntun gue sampe ke motor.
Selama perjalanan, gue diam. Dia juga diam. Langit jingga terlihat jelas saat motor Adrian melewati tol. Gue mengadahkan wajah keatas, menahan air mata yang semakin memberontak. Gue menggigit bibir, dada gue seakan sakit. Baru kali ini gue dibilangin PHO sama orang. Dan biang masalahnya itu ada di depan gue sekarang.
Gue turun, melepas jaket dan menyodorkannya ke Adrian. Dia masih nanya sama gue, marah apa enggak.
Ya jelas lah gue marah sama lo.
Tapi gue diam, gak bilang apa-apa sampai Adrian pergi.
Saat gue mau buka pintu, ternyata pintunya dikunci. Gue langsung buka ponsel, ada notif dari ibu.
Ibu : Ibu ke rumah tante Ina, kuncinya ambil di pot bawah jendela. Di tempat biasa.
Sial. Ibu gak ada di rumah sekarang. Trus gue sendirian? Bacot.
___________________________________.
Gue cuma read semua pesan yang ada di grup kelas. Sekarang mereka pada rame nanyain gue setelah dilabrak. Sebenernya bukan dilabrak sih, tapi lebih mirip kayak tokoh antagonis yang marah karena salah paham ke tokoh protagonis.
Gak gue peduliin, biarin rame.
Gue langsung matiin ponsel gue, capek. Rumah gue sepi, ibu pergi ke rumah tante Ina sedangkan Ayah gue masih kerja. Gue sendirian dengan semua lampu yang gak gue hidupin. Hari semakin gelap dan sunyi.
Ingatan gue masih jelas, semua tamparan itu masih terasa nyata. Gue mau nangis sekarang tapi masih gue tahan. Gue malu sama diri gue sendiri kalo gue nangis. Gue seakan lemah dihadapan mereka yang tertawa melihat gue seperti pengecut. Gue menggigit bibir, menahan segala emosi. Gue hanya bisa menangis dalam diam.
Kini keadaan gue sedang kusut. Terduduk di ujung kasur dengan wajah yang, huh entahlah. Gue belum ganti baju sejak datang tadi. Rambut gue masih sedikit acak-acakan. Biarin, gue lagi badmood dengan semua keadaan. Ini yang namanya masa SMA? INIII?
Gue malu. GUE MALU KALO GUE NANGIS.
Mereka? SEMUANYA BRENGSEK, BACOT.
Gue berusaha mengatur napas yang sejak tadi terus memburu, sesak. SESAK TAHU NGGAK.
KAMU SEDANG MEMBACA
Goodboy VS Fakboy
Teen FictionIni Gue Siswi paling pemalas nan mageran yang entah kenapa bisa terseret masuk ke dalam kelas penuh orang genius dan berbakat. INI GIMANA CERITANYA WOY?! ***** 11 IPA 1, kelas berisi orang-orang dengan kasta yang berbeda. Dari anak olimpiade astro...
