Part 22

56 3 0
                                        


Semenjak kejadian itu, Shanny selalu menghindari Tamon. Bertatapan mata sedetik saja, Shanny langsung memalingkan muka. Shanny seperti menganggap Tamon nggak ada, menganggapnya roh halus yang sama sekali nggak bisa berkomukasi dengannya.

Mendapat perlakuan seperti itu dari Shanny, membuat Tamon risih. Tamon sadar, sebenarnya dari lubuk hatinya yang terdalam dia sangat menyayangi Shanny, membutuhkan kehadiran cewek itu untuk mengisi hari-harinya. Dia cuma gengsi mengakuinya, makanya dia berkata kasar pada Shanny. Kalau saja waktu bisa berputar kembali, pasti Tamon nggak akan mengatakan kata-kata yang menyakiti hati Shanny.

Tamon takut kehilangan cewek itu. Apalagi udah tersebar gosip kalau mereka sudah putus dan Shanny kembali lagi pada Gino. Mendengar gosip itu, jelas Tamon langsung kembang kempis, dia sama sekali nggak suka dengan gosip itu. Demi menepis gosip itu, Tamon meminta bantuan Livi untuk mempertemukannya dengan Shanny agar mereka bisa bicara empat mata.

Alhasil, di sana lah Tamon duduk, di kafe Chocolate. Shanny tak kunjung datang, Tamon takut kalau Shanny udah tahu tentang pertemuan rahasia ini dan nggak mau menemuinya. Tamon udah punya skenario terburuk yang akan dilakukannya kalo Shanny nggak datang ke kafe Chocolate.

Tamon berjanji akan menunggui Shanny di depan rumahnya, seperti yang terjadi di film-film. Tamon memang mendapat inspirasi dari film. Memang sih itu hal yang insane banget, apalagi kalo dilakukan waktu hari hujan. Oh My God! Mau cari mati kali ya? Tapi ini adalah jalan satu-satunya. Tamon berharap Shanny masih punya hati, sehingga cewek itu nggak akan tega membiarkannya menunggu semalaman di depan rumah cewek itu.

Tamon melihat jam tangannya, jam 5. Padahal seharusnya mereka bertemu jam 2. Tamon menarik nafas dalam-dalam, 5 gelas capucino tergeletak kosong di mejanya. Tamon memantapkan hatinya, 1 jam lagi, kalo Shanny masih belum datang juga. He'll do it.

Here we go, the worst scenario...

"Heh, Shasha jelek. Di luar ada temenmu tuh."

Shanny berhenti mengkuteks kukunya, dia menoleh, mendapati Vee udah berada di depan pintu kamarnya. "Siapa?" tanya Shanny sambil melanjutkan mengkuteks kukunya.

"Namanya Tamon. Pacarmu ya?"

Mendengar nama terlarang itu terlontar dari mulut Vee, darah Shanny langsung mendidih.

"Suruh pergi aja. Aku nggak mau ketemu dia."

"Kenapa? Padahal dia ganteng lho. Kamu beruntung banget bisa dapet cowok ganteng, padahal kamunya jelek."

"Sapa yang bilang kalo dia pacarku?"

"Lho? Bukan ya?"

"Ya bukan lah."

"Oh... pantesan, mana mungkin si jelek bisa dapet cowok seganteng ko Tamon."

Shanny melempar pandangan jijik. "Ko Tamon? Iih... Sejak kapan kamu jadi najis banget gitu, Vee?"

"Terserah kamu mau ngomong apa, yang penting ko Tamon ganteng. Bye jelek! Aku mau ngapelin ko Tamon dulu."

Shanny mengambil bantal yang berada paling dekat darinya, lalu segera melemparnya ke arah Vee. Sayang, Vee gesit dan segera menghindar.

"Pergi sana!"

"Ko Tamon, si Shanny nggak mau ketemu."

Tamon menghela nafas, dia udah tahu kalo Shanny pasti nggak mau menemuinya.

"Vee, tolong bilangin Shanny, aku akan nungguin dia di sini sampai dia mau menemuiku."

"Tapi Shanny itu keras kepala lho, ko. Sekali dia bilang nggak ya nggak. Si jelek itu nggak pernah mengubah keputusannya lho, ko."

Cry Baby In LoveCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang