[18]

168 7 0
                                        

Mr. Asthon menatap jengah Prof. Haylee yang memang dikenal akan emosinya yang labil. Dengan santai, ia kembali melanjutkan, "Ayolah.. Leyna sudah mati. Untuk apa lagi kau mengusik anak itu, huh?"

Prof. Haylee mengembuskan napas kasar seraya menyilangkan kedua lengan. Lalu wanita itu mulai menjawab, "Jika bukan karna kau, aku juga tidak akan sedendam ini pada Leyna. Kau pikir gampang di saat aku harus memilih adikku atau temanku sendiri, huh?!!"

"Dan satu lagi, kau pikir gampang untuk melupakan sosok Leyna di saat aku melihat anaknya setiap hari?!!" hardiknya lagi penuh penekanan.

"Kenapa kau jadi marah padaku?!! Aku hanya ingin menciptakan penemuan baru dari eksperimenku saat itu. Bukan urusanku mengenai Isabel dan hubunganmu dengan Leyna." ucap sang lelaki merasa tidak puas.

Prof. Haylee mendengus kesal mendengar jawaban yang tidak ia inginkan itu. "Sudahlah, aku sedang malas berdebat padamu."

Sebelum meninggalkan tempat, wanita tersebut berujar, "Pokoknya kau harus sembunyi, jangan sampai Alford menemukanmu. Jika kau tidak menurut, aku akan membongkar ulahmu pada seluruh penduduk kota Houston."

Sementara itu, Mr. Asthon masih menatap nyalang ke arah punggung sang teman yang perlahan menghilang dari pandangannya. Giginya bergemelutuk menahan kesal diiringi kepalan tangan yang semakin mengerat. "Jika kau bukan temanku, aku pasti akan menghabisimu duluan."

***
Sudah bukan hal yang aneh ketika mendapati Bryce menyibuki diri dengan merawat hewan ternak. Sementara itu, waktu telah menunjukkan sebentar lagi akan menjelang siang. Untung saja, matahari sedang berbaik hati untuk mengurangi daya teriknya sehingga gadis itu dapat memandikan ternak lembu dengan tenang tanpa sibuk mengenyahkan peluh keringat.

Namun berbeda seperti biasanya, Bryce terlihat tidak bersemangat. Pikirannya berkecambuk menebak dimana keberadaan Sam sejak semalam. Lelaki itu tidak menginap di peternakan dan hal ini sukses membuatnya gelisah.

Ia merasa sangat bersalah bila mengingat bagaimana perasaan Sam setelah kejadian kemarin malam. Siapa yang tidak akan merasa geli jika berciuman dengan sesama jenis. Tentu saja hal tersebut menggelikan dan menjijikkan bagi semua orang normal. 

Dengan gosokan malas, Bryce masih setia menyikat tubuh sang lembu. Tatapannya kosong kedepan seolah seluruh konsentrasinya telah dicuri oleh Sam.

"Kulitnya akan terkelupas jika kau cuman menyikat di bagian yang sama dari tadi." Suara berat khas seorang pria berhasil menyentaknya dari lamunan. Bryce menoleh dan ternyata sosok Sam berdiri tepat di sebelahnya. Ia terbelalak tak percaya ketika matanya bertemu dengan milik lelaki itu.

Sam terkekeh geli mengamati wajah kaget dari Bryce. "Kenapa kau terkejut?" tanyanya.

"Huh? O-ohh.. bukan apa-apa." jawab Bryce sedikit terbata berusaha menutupi rasa canggung yang mulai menyelimuti.

Ia kembali melanjutkan kegiatannya yang sempat tertunda dengan posisi Sam disebelahnya. "Soal kemarin malam, aku—" ujar Sam tiba-tiba memecah keheningan. Namun ucapannya terpotong oleh sang teman.

"Lupakan saja. Itu hanya kecelakaan dan anggap saja tidak pernah terjadi." Bryce menghadap sempurna kearah Sam. Setelah menyelesaikan sebaris kalimat, ia kembali melanjutkan, "Kau tahu, suasana canggung seperti ini membuatku tidak nyaman."

Berbeda dengan Bryce yang masih terlihat kaku, Sam malah tertawa renyah menanggapi perkataan temannya itu. "Memang seharusnya begitu. Aku tidak pernah memikirkannya."

"Oh? Benarkah? Baguslah kalau begitu." Entah mengapa, Bryce merasa kesal menyadari bahwa ternyata hanya ia seorang yang merasa uring-uringan. Rasa cemasnya selama ini hanyalah sia-sia.

Who Am I?Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang