Bag.8

106 74 39
                                    

Dhafin terbangun dengan luka lebam di area wajah-nya, lalu ia melihat Calya yang sedang mengobati dirinya.

"Udah baikan? " Tanya Calya kepada Dhafin.

"Lo ngapain disini? "

"Tadi gue disuruh pak Djarot buat ngobatin lo" Balas Calya seraya menaruh sebuah kain basah di bagian yang terluka.

"Makasih ya" Ucap Dhafin.

"Buat? "

"Makasih udah peduli sama gue" Balas Dhafin seraya berusaha untuk bangkit.

"Eh eh jangan bangun dulu, badan lo masih sakit, lo tiduran aja"

"Baru kali ini ada yang peduli sama gue" Balas Dhafin.

"Maksudnya? " Tanya Calya tidak mengerti.

"Lo peduli banget sama gue"

"Kalo bukan karena di suruh sama pak Djarot,gue ogah ngurusin orang kayak lo" Balas Calya seraya berusaha bangkit.

"Eh eh mau kemana? " Dhafin menahan pergelangan tangan Calya dan mengisyaratkan untuk tidak pergi.

"Mau balik ke kelas" Balas Calya.

"Temenin gue dulu"

"Ogah, ngapain juga"

"Gue bilangin bokap lo kalo lo gak mau ngobatin gue" Ancam Dhafin.

"Terus? Gue peduli gitu? Heh denger ya?! Gue gak suka,lo deket deket sama bokap gue! Sok akrab banget jadi orang" Calya menepis tangan Dhafin dengan paksa.

Dhafin tetap menahan tangan Calya untuk tidak pergi.

"Heh! Lepasin gak lo?!! Kok lo maksa sih! Lepas!! Tolong!! Tolong!! " Teriak Calya.

Dhafin berusaha menutup mulut Calya untuk tidak membuat kebisingan disini.

"Sstttt!!! Jangan berisik Cal, gue gak bakal nyulik lo kok" Balas Dhafin.

Namun, Calya berusaha menggigit tangan Dhafin yang hinggap dimulut-nya, dan akhirnya Calya bisa berusaha kabur darinya.

"Ihh nyebelin banget tuh cowok! "

🌵

Calya segera berlari menuju kelas nya dengan perasaan terengah-engah karena kelelahan. Alasan Calya berusaha untuk kabur karena ia tidak ingin ketinggalan pelajaran.

"Cal, dari mana aja? " Tanya Dela seraya menulis.

"Ngurusin si kelabang item" Balas Calya cuek.

"Hah? Kelabang? Lo berani ngurus kelabang? Gak geli apa? " Sambung Finaya terkejut dengan perkataan Calya barusan.

"Yaelah, si Dhafin lhoo, bukan gue yang ngurusin kelabang" Balas Calya tertawa.

"Hah? Dhafin? Serius?? " Finaya sangat terkejut dengan perkataan Calya barusan.

"Iya lah, mana gue di tarik tarik gak boleh pergi sama dia" Dumel Calya.

"Eh tau gak sih?! Dhafin itu gak pernah yang namanya deketin cewek Cal, lo jangan bohong" Balas Dela tak percaya.

"Eh dengerin gue ya, dia itu sok akrab banget sama bokap gue, kemaren aja dia tiba tiba dateng ke rumah gue terus nyuruh gue mijitin dia, emang dia kira gue tukang pijit? Terus juga tadi dia yang nyelamatin gue dari pak Djarot, dan tadi barusan, gue suruh ngerawat dia, ogah gue, emang gue ini babu nya apa? Nyebelin banget tuh cowok" Dumel Calya panjang lebar.

Finaya hanya terdiam membisu, dia hanya menanggapi pernyataan Calya dengan tersenyum tipis.

"Fin, lo kenapa? " Tanya Dela.

"Enggak gak papa"

"..."

🌵

Bell pulang sekolah berbunyi, Calya segera merapikan buku nya dan menyegerakan untuk pulang bersama Finaya dan Dela. Mereka hanya tertawa riang dengan candaan yang mereka ciptakan.

"Eh tau gak sih tadi si Edo celana nya jatoh, gara-gara dikejar Salsa karena dia ngabisin minum nya" Ucap Dela tertawa.

"Eh gila yang bener lo? " Sambung Finaya dengan tertawa.

"Beneran, terus juga tadi kertas ulangan gue di lipet jadi pesawat terbang sama si Edo, kurang ajar banget" Balas Dela kesal.

"Yah masih mending, tadi si Aldo malah tempat pensil gue dijadiin dompet emak nya, pantesan hilang 3 hari, kesel banget gue!" Dumel Finaya.

Calya yang hanya mendengarkan dumelan teman-nya hanya tertawa kecil, lalu pandangan nya beralih ke arah lelaki yang seperti nya sedang menjaga sepeda milik-nya.

"Dhafin? Ngapain dia disitu? "

🌵

CALYA STORY [ON GOING]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang