Aku tidak tahu, rasa macam apa ini
Ketika melihatnya..
Kau merasa bahagia
Ketika melihatnya juga..
Kau merasakan sakit yang begitu kelu
Merambat masuk ke dalam, relung hatimu
Kau sakit, tapi bahagia
Kau luka, tapi tersenyum
Kau benci, tapi juga tulus
Bagai berdiri di atas lapisan es tipis yang,
Kau sendiri pun takut untuk hanya sekadar melangkah ke depan,
menggapai seseorang di sana
Karena, sekali melangkah kau akan jatuh ke dalam jurang kegelapan tak berujung
Gelap,
Sepi,
Sendiri,
Itulah yang nyatanya kau rasakan
Bukan kebahagiaan fana yang nantinya akan mendatangkan sesuatu yang lebih fana
--not bad--
Cukup lama aku termenung sampai tidak sadar kalau saat ini giliran kami yang bermain.
Aku segera beranjak dari tempatku dan melangkah menuju ke tengah lapangan. Kami akan main bola beracun yang seperti di Upin&Ipin. Peraturannya, kalau kakinya terkena lemparan bola maka dia keluar dari permainan.
Cukup simple, tapi butuh keberanian juga kerja sama tim yang besar juga kuat.
Aku tentu sangat antusias mengikutinya. Aku berada di barisan paling depan menghadapi tim musuh yang sialnya anak kelas 12-A.
Hh, sepertinya memang sudah takdir aku rival dengan mereka. Entah apa yang sudah mereka lakukan di masa lalu sampai aku bisa seperti ini kepada mereka. Tapi yasudahlah, anggap saja ini sebagai pembakar semangatku untuk lebih berani dan siap melawan mereka.
Persiapan. Aku berhadap-hadapan dengan Han Chul Gi, yang terkenal berbahaya jika bermain. Memang, saat pertama mengetahui aku yang berhadapan dengannya pun ia malah mengeluarkan smirk sambil menatapku remeh.
Hh, dia kira aku takut? Dia pikir dia lebih keren, hh tidak. Kunaikkan sudut bibirku membalasnya smirknya.
"Ayo, suit terlebih dahulu dia yang menang ambil alih bola pertama" jelas bu wasit. Aku pun suit mengeluarkan senjataku kertas dan dia batu, sudah jelas aku yang menang. Kunaikkan lagi sudut bibirku sambil menatapnya tajam.
"Baik, sudah siap?! 1.. 2.. 3.. MULAI!!" perintah wasit sambil memegang bola di tangan sebelum memeberikannya padaku.
Kami mundur perlahan lalu aku mulai melempar bola ke target kaki yang kuincar. Tidak kena, oke mereka cepat.
Tapi tidak lama, temanku di belakang terkena hantaman bola. Akhirnya ia harus keluar arena dan berpindah ke belakang daerah lawan. Babak pertama cukup banyak dari tim kami yang keluar.
Babak kedua, tidak terlalu banyak walau tim kami lebih banyak yang keluar daripada tim sebelah. Aku sangat kesal, aku sudah gugur di babak pertama, ck.
Tapi, saat aku menuju daerah lawan berkumpul bersama temanku yang sudah gugur duluan netraku tak sengaja menangkap sosok di samping belakangku, duduk sambil memperhatikan dari dekat permainan ini.
Aku kaget hampir terlonjak mengetahui Jimin berjarak cukup dekat lima langkah denganku. Ia duduk bersama temannya tepat di samping belakang tempatku berdiri.
Kualihkan pandanganku mencoba menyatukan fokusku kembali kepermainan.
Sampai akhirnya permainan berakhir begitu saja dengan poin tim kami yang lebih rendah dari tim kami yang lebih rendah. Walau tidak menang tapi tidak masalah yang penting kami sudah mencoba yang terbaik memainkannya.
"Kesel banget! Orang situ jelas kena kok ngga mau ngaku" kesal Ae Ra
"Ngga adil emang males deh" timpal Ji Ri ikut kesal sendiri pasalnya, tim lawan tidak mau mengaku jika terkena padahal jelas bola mengenai kakinya. huh
.
.
.
.
.
.
.
Kami kembali ke kelas istirahat sejenak sehabis bermain.
KAMU SEDANG MEMBACA
NOT BAD [PJM]
Teen FictionKetika sebuah senyuman mampu meluluhkan hatimu Ketika sebuah tatapan mampu menghipnotismu Ketika seseorang mampu membuat jatuh pada pesonanya berkali-kali Saat itulah kau akan merasakan hal berbeda dalam dirimu
![NOT BAD [PJM]](https://img.wattpad.com/cover/226669281-64-k383809.jpg)