Haloo.... cerita black rose aku lanjut di dreame ya...
Paling di sini aku up sampai 5 atau gak 10 bab sisanya ada di dreame, insyaAllah bakal sampai 60 bab atau lebih keknya.
Happy Reading guys!!
Langkah seorang wanita itu begitu mantap menyusuri sungai yang beraliran deras, lengannya menggenggam beberapa tangkai bunga mawar yang perlahan mulai menghitam seiring langkahnya ke sebuah jalan setapak di samping sungai.
"Ternyata masih terasa nyaman, ku kira akan memberi kesan yang menyakitkan, namun ternyata, masih tetap sama seperti pertama kali aku datang, asing.." ujarnya sambil melangkah menyusuri jalan setapak, jalan yang akan berujung kepada sebuah pintu rahasia di salah satu rumah, rumah? Apa masih bisa tempat itu ia sebut rumah? Rumah yang menjijikan..
Seorang laki-laki tua tergopoh berjalan ke arah gadis tersebut, "kamu sudah sampai?" tanya seorang penjaga rumah sembari membukakan pintu untuk gadis tersebut.
"Seperti yang kamu lihat Joe? Aku kembali lagi kepada rumah yang menyedihkan," ujar gadis itu saat melewati lelaki penjaga yang ia sebut Joe.
Langkah gadis itu semakin cepat seolah ia dikejar oleh sesuatu yang menyeramkan, lengangnya menggenggam dengan erat bunga mawar yang sudah sepenuhnya menghitam, berhenti ada sebuah ruangan yang gelap tanpa ada pencahayaan sama sekali.
"Joe!" teriak gadis itu dengan suara yang menggelegar.
Joe yang merasa terpanggil melangkah dengan cepat bahkan setengah berlari, menghadap dengan tubuh yang membungkuk kepada gadis tersebut.
"Apa yang bisa aku bantu?" Joe membungkuk tanpa ada niat menatap manik mata hitam legam gadis tersebut.
Senyum sinis langsung menghiasi wajah gadis itu, mengangkat dagu lelaki tua, Joe, untuk menatap ke arahnya.
"Panggilkan pelayan dan siapkan ruanganku seerti biasa."
"Seperti yang kau minta Rose.." Joe membungkuk dan melangkah mundur dari hadapan gadis tersebut, Rose.
Lengan Rose yang sedari tadi memegang bunga mawar, perlahan meregang, meleas genggamannya.
"Apa yang haru aku lakukan Lucy?" bisik Rose dengan nada yang frustasi.
Sebuah bayangan hitam muncul di hadapan Rose, bayangan hitam yang tipis seperti kabut tipis di malam hari.
"Dear, sudah waktumu sekarang untuk muncul. Terima semuanya.." ucap Lucy, bayangan hitam tersebut.
"Tapi.."
"Bukankan ada Nic, Mahendra, atau Michel? Mereka siap membantumu, semua sudah menjadi takdir untukmu, jadi.. terimalah."
Rose mengeleng dan memilih menghempaskan tubuhnya di kursi kayu, menutup kedua matanya, namun pemikirannya melayang ke sana ke mari. Ternyata bebannya semakin berat, rasanya sudah lelah untuk bertahan dalam perasaan yang membingungkan.
"Lucy, tolong.." lirih Rose...
"Tenangkan dirimu Rose, sebelum apa yang selama ini kamu harapkan menjadi musnah tanpa sisa. Jadi untuk kali ini saja, aku memintamu untuk bertahan sebentar saja."
Lucy mendekat ke arah Rose dan sesaat tubuhnya menyatu dengan bayangan Rose, sesederhana itu Lucy datang dan pergi. Satu raga untuk dua jiwa.
Tok..tok... tok..
Ketukan pintu berhasil membuat mata Rose terbuka, tubuhnya sempoyongan untuk berdiri dan melangkah mendekati pintu.
"Nona, ruangan yang anda butuhkan sudah siap.." ucap seorang pelayan yang membungkuk di hadapan Rose.
KAMU SEDANG MEMBACA
Rose's
LobisomemBenci? Mungkin itu yang ada dalam fikiran Rose saat tau bahwa dia bukan bagian dari keluarga yang selama ini merawatnya dan yang membuatnya semakin benci adalah keluarganya adalah penghianat berdarah tinggi yang siap membunuhnya. Lalu siapa keluarg...
