Udara malam berhembus dengan kencang, membuat bangun tua sedikit bergoyang. Kayu yang sudah reot sedikit berbunyi mengikuti hembusan angin.
"Masuk sekarang atau kamu akan sakit," ucap seorang pria yang menyampirkan kain tebal di pundak seorang gadis muda.
Dengan sedikit gemetar gadis tersebut melepas kain yang berada di pundaknya, "pergi Joe, aku.. aku hanya ingin berdiam. Mungkin merenung untuk sesaat."
Hembusan nafas Joe terdengar dengan kasar, "pergi disaat kamu akan mati? Ini ditengah badai, bodoh!"
"Sudahlah Joe, aku hanya meminta waktu untuk berdiam diri sejenak, aku.." gadis itu terdiam sejenak sebelum menatap ke arah badai, "siapa aku sebenarnya Joe, dimana ayah dan bunda sebenarnya Joe, kenapa harus aku yang menerima semuanya"
Joe terdiam sebelum menarik tubuh gadis yang bergetar, semua sudah menjadi catatan takdir. Gadis malang.
"Kamu bisa menganggap laki-laki tua ini sebagai orangtua kamu bukan?" Lengan tua yang awalnya memeluk tubuh gadis itu kini menangkap pipi gadis tersebut sembari menghapus air mata dengan ibu jarinya.
Menghela nafas panjang sebelum menatap ke arah badai malam, "kamu akan tau, saat semua telah siap Rose. Takdir dari leluhur harus kamu terima. Ini bukan salah siapa, tapi ini adalah jalanmu."
Gadis yang dipanggil rose hanya terdiam sebelum mengangguk dan mengeratkan pelukannya.
"Joe apa selamanya aku seperti ini?" Rose terdiam sebelum menggelengkan kepalanya, manatap ke arah badai yang mulai menggila malam ini.
"Aku takut, takdir mempermainkan aku, maksudku.. entahlah Joe, selama ini banyak yang berdusta hanya untuk mengambil untung dariku. Sedangkan aku?" Dia menggelengkan kepalanya dan mengadah menatap Joe yang kini tersenyum hangat.
"Kamu pemimpin bagi mereka, sadar atau tidak rose.." gumam Joe dengan pelan sepekan hembusan angin di tengah badai.
" golden guide? Kamu tau? " Tanya Joe di saat mereka melangkah ke dalam rumah tua.
"Aku pernah mendengar, lilo pernah mengucapkannya saat kami bertukar tubur. Tapi, apa itu?" Rose berjalan ke arah meja makan dan memilih duduk di kursinya.
"Satu kelompok yang akan diandalkan, satu kelompok yang menanti pemimpinnya dan satu kelompok yang akan membebaskan kesengsaraan ini, itu yang ditulis dalam buku ini." Joe mengangkat buku tua yang sudah lusuh lembarannya.
"Ketua? Sebentar.. apa selama ini mereka hadir tanpa seorang ketua? Mustahil Joe!" Hardik rose dengan kasar, lengannya menggenggam setangkai bunga mawar hitam yang tergeletak begitu saja di tengah meja.
"Kenapa kamu kesal?" Joe memancing membuat Lilo harus menguasai tubuh rose.
"Jaga bicaramu tua Bangka! Kamu kira aku akan tinggal diam saat kamu mulai menyudutkan Rose?!" Geram Lilo dengan mata yang memerah, ciri khas seorang Lilo, lengannya menghepas setangkai bunga mawar hitam.
"Jangan beri tau rose disaat dia belum siap menerima semuanya Joe! Banyak yang menjadi misteri! Jadi.." tatapan Lilo semakin dingin terhadap Joe, membuat lelaki tua tersebut terhenyak sebelum menunduk dan mengangguk faham.
"Baik tuan lilo, saya akan menuruti kemauan anda." Joe menunduk dan melangkah menjauh dari tubuh Lilo.
"Aku yang akan menjagamu Rose, dulu ataupun sekarang.." gumam Lilo sebelum melangkah ke arah ruangan bernuansa hitam melepas kain hitam yang tersampir di pundaknya.
"Pack itu harus siap menerima semuanya saat ini!" Lilo tersenyum sinis dan mulai menutup matanya .
🐺🐺🐺🐺🐺
Hola hola semuanya, assalamualaikum. Apa kabar? Semoga masih stay dengan cerita abstrak aku. Jujur ini cerita yang di luar dugaan aku, aku kurang faham sama genrenya tapi aku greget pengen nyoba. Oh iya, marhaban ya Ramadhan untuk semua yang menjalankannya..
Jangan lupa vote dan komen ya...
KAMU SEDANG MEMBACA
Rose's
Loup-garouBenci? Mungkin itu yang ada dalam fikiran Rose saat tau bahwa dia bukan bagian dari keluarga yang selama ini merawatnya dan yang membuatnya semakin benci adalah keluarganya adalah penghianat berdarah tinggi yang siap membunuhnya. Lalu siapa keluarg...
