The Lurker

15 3 0
                                        

"Gyaaaah! Grooaaa!"

Makhluk misterius di belakang mereka terdengar marah setelah menerima tembakan paku dari Alexander.

Tanah kemudian bergetar kuat dan memaksa ketiganya melambatkan kecepatan mereka.

"Tembak makhluk itu tanpa melihatnya!" perintah Alexander.

"Roger!" sahut Hana.

"Okay! Khihihie!" sahut Luna.

Alexander tidak mengerti bagaimana Luna masih bisa tertawa di situasi berbahaya. Hana dan Luna kemudian menembakkan pelontar paku mereka ke belakang tanpa melihat makhluk apa yang mengejar mereka.

Alexander, Hana, dan Luna secara bergantian menembakkan pelontar paku dengan jeda 10 detik, berharap hal itu akan akan menghambat pergerakan makhluk yang mengejar mereka.

Setelah melakukan hal itu selama 5 menit, Alexander merasa jika makhluk itu tidak lagi mengejar. Alexander kembali menembakkan pelontar pakunya untuk memastikan jika makhluk itu sudah menghilang.

Tidak ada jeritan atau raungan yang terdengar, Alexander menembakkan pelindung paku untuk kedua kalinya. Hasilnya sama, tidak ada respon seolah makhluk yang mengejar mereka sebelumnya menghilang ke udara tipis.

Alexander berhenti berlari untuk mengambil nafas dan mengistirahatkan dirinya. Begitu juga dengan Hana dan Luna yang berada di belakang Alexander, tubuh keduanya sudah dipenuhi oleh keringat dan nafas mereka juga tidak beraturan. Berlari selama hampir 20 menit dengan pikiran dan mental yang dipenuhi oleh teror tentu bukan hal yang mudah.

"Berapa jauh kita dari Coldwind Farm?" tanya Alexander.

"Aku tidak yakin, peta dipegang oleh Russel dan orang itu sudah mati, mungkin. Tapi menurutku kita sudah setengah jalan menuju tempat itu," jawab Hana.

"Kau yakin? Bagaimana jika aku mengatakan kita tidak bergerak sedikitpun dari hutan ini," tutur Luna sambil menunjuk tanah.

Alexander dan Hana melihat tanah yang ditunjuk oleh Luna, mereka melihat banyak jejak kaki dan sedikit percikan darah. Alexander dan Hana terkejut bukan main.

"Mungkinkah kita tidak bergerak sedikitpun dari tempat ini." Alexander memegangi kepalanya,

"Khihihihe... kau takut sekarang?" ejek Luna.

Hana melihat sekitarnya yang dikelilingi kegelapan. "Sekarang bagaimana kita harus keluar dari hutan ini?"

Luna menyilangkan tangannya ke dadanya. "Ini hanya dugaanku, tapi menurutku sebaiknya kita berjalan ke arah yang berlawanan."

Alexander mencerna perkataan Luna, ia juga memiliki pemikiran yang sama, menurutnya apapun yang dianggap benar belum tentu benar. Sama halnya dengan rute menuju Coldwind Farm yang mereka anggap benar belum tentu benar.

"Mari kita coba." Alexander memantapkan dirinya meskipun ada kemungkinan ia akan berhadapan dengan makhluk yang mengejar sebelumnya.

Ketiganya kemudian berjalan kembali ke arah Crotus Prenn Asylum. Untuk memastikan jika yang mereka lakukan benar, ketiganya meninggalkan jejak di tanah dengan senjata mereka.

Berjalan di hutan yang sangat gelap mempengaruhi persepsi ketiganya mengenai arah. Alexander bahkan tidak yakin apakah ia saat ini berjalan lurus atau tidak.

"Bukankah kita seharusnya menemukan mayat mereka?"

Sepanjang perjalanan, Alexander mencoba mencari mayat Russel dan Hibiki yang seharusnya mereka temui. Tidak lama kemudian ketiganya melihat cahaya dari ujung hutan. Karena keanehan yang berkali-kali mereka alami, ketiganya tidak terburu-buru dan berjalan dengan hati-hati ke arah cahaya.

Beberapa waktu kemudian ketiganya melihat apa yang menjadi sumber cahaya itu. Sumber cahaya itu adalah tempat yang mereka cari yaitu Coldwind Farm. Tidak ada yang spesial dari Coldwind Farm karena tempat itu hanya terlihat seperti pertanian biasa.

"Sekarang bagaimana cara kita menemukan pintu yang kau bilang itu?" Alexander melirik Hana.

"Aku tidak tahu, mari berpencar dan berkumpul di gubuk kecil itu setelah 10 menit." Hana menunjuk gubuk kecil bobrok yang berada di bawah tiang lampu. "Kau mengerti Luna?"

Sebuah jarum melesat ke arah Hana dan berhenti tepat 1 milimeter dari lehernya. "Jangan perlakukan aku seperti anak kecil."

Luna kemudian pergi ke bagian utara Coldwind Farm dengan wajah jengkel. Disusul dengan Hana yang pergi ke arah timur dan Alexander ke arah barat.

Berbagai tanaman yang menghalangi pandangan semakin mempersulit Alexander untuk mencari pintu yang dimaksud. Selain itu Alexander tidak memiliki petunjuk lain tentang keberadaan pintu itu. Satu-satunya petunjuk yang Alexander miliki adalah pintu itu terletak di tanah.

"Gyaaaaaaah!"

Alexander mendengar jeritan yang sama seperti jeritan makhluk yang mengejarnya di hutan. Jeritan makhluk itu memberikan efek buruk bagi tubuh dan pikiran Alexander. Namun, karena suara jeritan itu terdengar di bagian utara, Alexander tidak terburu-buru untuk menyembunyikan dirinya.

•••

"Orang-orang yang menyebalkan!" Luna mengayunkan senjatanya ke segala arah untuk melepaskan kemarahannya.

"Gyaaaaaaah!"

Kaki Luna melemas untuk beberapa saat begitu ia mendengar jeritan itu. Luna ingat jika jeritan itu berasal dari makhluk yang membunuh Russel dan Hibiki saat di hutan.

Semak belukar dengan tinggi yang sama dengan Luna bergerak-gerak diiringi jeritan aneh. Tanpa pikir panjang, Luna segera berlari ke arah yang berlawanan dengan jeritan itu dengan kecepatan tertingginya.

"Guys! Where the f*ck are you?!" teriak Luna, teriakannya menggema ke seluruhnya Coldwind Farm.

Walaupun sebenarnya Luna ingin melawan makhluk yang mengejarnya itu, tapi ia tidak berani melakukannya seorang diri setelah kematian Russel dan Hibiki.

"Alexander, aku butuh bantuan baj*ngan itu."

Luna berlari ke bagian barat Coldwind Farm untuk bertemu meminta bantuan Alexander. Karena dipenuhi rasa penasaran, Luna menengok ke belakang dan melihat wujud makhluk yang tengah mengejarnya.

Putih pucat, tanpa wajah, serta lengan dan kaki yang panjangnya mencapai 6 meter. Yang lebih mengerikan adalah makhluk itu berlari dengan tangan serta kakinya bagaikan seekor hewan. Kuku tangannya yang panjang juga meyakinkan Luna jika makhluk yang mengejarnya itu adalah seekor monster.

Luna meraih pelontar paku di pinggangnya dan menembaki monster itu selagi berlari mundur. Paku yang ditembakkan oleh Luna menancap tepat di kepala monster itu.

"Gyaaaah! Groaaaaa!" jerit sang monster.

Luna terus melepaskan tembakan hingga akhirnya ia kehabisan paku. Monster itu mendadak meningkatkan kecepatannya saat Luna tidak lagi menembakkan paku ke arahnya.

"Sial! Negara mana yang menciptakanmu?! Aku akan membunuh penciptamu setelah bebas dari tempat ini," ancam Luna.

Luna menggunakan berbagai macam benda yang ia bisa lempar ke arah monster itu untuk menahannya. Sudut mata Luna menangkap pergerakan lain di semak belukar, ia segera melemparkan batu di tangannya ke semak itu.

Sesaat kemudian Hana keluar dari semak yang dilempar dengan batu oleh Luna, ia berlari mendekati Luna yang tengah dikejar oleh monster aneh di belakangnya.

"Kenapa kau melemparku dengan batu?!" tanya Hana sedikit marah.

"Aku tidak bermaksud un-!"

Sebelum Luna menyelesaikan perkataannya ia tersandung dan terjatuh dengan keras ke tanah. Monster yang mengejar langsung menghujam kuku-kuku tajamnya ke arah jantung Luna.

Alcatraz [END]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang