Alexander terbangun di sebuah sel bobrok dengan jeruji besi yang masih terlihat sangat baru. Alexander memegangi kepalanya yang terasa sedikit sakit itu dan menuju wastafel yang ada di dalam sel untuk membasuh wajahnya.
"Sialan, mereka sebut ini penjara?"
Sofa yang sepenuhnya terbuat dari kapuk, toilet berukuran super kecil, dan wastafel. Alexander harus menghabiskan sisa hidupnya di tempat mengerikan itu jika ia tidak bisa melarikan diri.
Alexander mulai memutar otaknya dan memikirkan solusi terbaik untuk melarikan diri dari sel. Hal pertama yang bisa Alexander lakukan adalah mencari sesuatu yang bisa digunakan untuk membuka pintu sel.
Alexander mulai mencari benda yang bisa diubah menjadi kunci di setiap sudut sel, tapi sialnya tidak ada satupun yang bisa digunakan olehnya. Untuk menghabiskan waktu, Alexander melakukan olahraga yang cukup berat yaitu dengan melakukan berbagai macam Push Up.
Beberapa jam berlalu, Alexander akhirnya menghentikan kegiatannya, bukan karena kelelahan tapi karena jatah makannya telah diantarkan oleh Sipir. Setelah tugasnya selesai, Sipir itu langsung pergi tanpa mengucapkan satupun kata, bahkan tatapan Sipir itu terlihat seperti ikan mati.
Alexander tidak terlalu mempermasalahkan perilaku Sipir itu dan hanya menganggapnya orang aneh. Keanehan itu tidak berhenti pada Sel dan Sipir. Ketika Alexander memakan makanan yang di bawakan oleh Sipir, ia tidak merasakan apapun masuk ke dalam tubuhnya.
Alexander tetap tenang dan memikirkan apa yang terjadi pada tubuhnya. Sehari sebelumya, ketika Alexander masih ditahan di Chicago ia masih bisa makan dan merasakan sesuatu memasuki tubuhnya.
"Mungkinkah ini reaksi obat tidur yang mereka berikan? Tapi aku belum pernah mendengar reaksi seperti ini dari obat tidur," pikir Alexander.
Alexander menghabiskan kotak makanan pertamanya dan mencari sesuatu yang bisa digunakan sebagai kunci untuk membuka pintu sel. Entah kebetulan atau seseorang membantunya, Alexander menemukan sebuah Paper Clip di kotak makannya itu.
"Bingo." Alexander tersenyum penuh kemenangan. "This place can't stop me."
Mendapatkan Paper Clip tidak membuat Alexander terburu-buru untuk melarikan diri dari sel. Alexander berencana untuk tinggal lebih lama karena membutuhkan rute untuk melarikan diri.
Sulit bagi Alexander untuk melihat bagian luar sel karena tepat di depannya hanya ada dinding dan di kiri maupun kanan hanya terlihat lorong panjang. Alexander juga memperkirakan jika jarak antara setiap Sel adalah 1 meter, itu merupakan jarak terjauh yang ia pernah lihat.
Ada satu hal lagi yang menurut Alexander sangatlah aneh, selama ia berada di Sel, ia tidak pernah mendengar sedikitpun suara. Ketika Alex mengingat kembali kedatangan Sipir, ia juga tidak mendengar suara apapun, bahkan tidak dengan langkah kaki.
Alexander memutuskan tidur untuk menenangkan diri dan menghilang perasaan negatifnya.
•••
Alexander terbangun dari tidur nyenyaknya dan melakukan peregangan ringan agar tubuhnya tidak kaku.
"Aaaaaaaaah! Hentikan! Tidaaaak!"
Teriakan keras seorang pria terdengar di telinga Alexander, teriakan itu tidak bertahan lama karena keheningan menjemput teriakan itu.
"Hahahaha! Hentikaaaaaan! Tidaaaaaaaak!"
Sekali lagi, teriakan itu kembali terdengar di telinga Alexander, berbeda dengan sebelumnya, teriakan kali ini terdengar sangat putus asa dan berharap kematian segera menjemputnya.
"Hei! Apa yang terjadi di sana?!"
Tidak ada jawaban.
"Hei kau dengar aku?!"
Alexander tidak mendapatkan jawaban dari pertanyaannya, ia berpikir jika pria yang ada di sebelahnya itu sudah tidak lagi bernyawa. Meskipun mencoba untuk tenang, tapi otak Alexander menolak untuk menuruti perintahnya.
Alexander mengerti apa yang dialaminya, ia juga manusia yang takut akan hal yang tidak mereka ketahui. Terlebih lagi setelah datang ke Alcatraz, Alexander belum melihat seorangpun selain Sipir dengan mata yang seperti ikan mati. Dan sekarang Alexander harus mendengar teriakkan putus asa yang tidak ia ketahui apa yang terjadi pada pria itu.
Tanpa Alexander sadari, teriakan yang sebelumnya ia dengan saat ini sangat mempengaruhi mentalnya. Sungguh memalukan bagi seseorang yang telah mencabut ratusan nyawa dan melarikan diri hidup-hidup untuk merasa ketakutan.
"This is bullsh*t!" Alexander melihat kedua tangannya yang gemetar hebat.
Lampu yang menjadi satu-satunya sumber penerangan Alexander tiba-tiba saja berkedip beberapa kali sebelum akhirnya mati.
Tidak lama kemudian, teriakan lain terdengar dan itu lebih menyedihkan dari sebelumnya.
"Tidak! Tidak! Jangan aku! Aku tidak melihat ke belakang! Aaaaaaaaaaaaaah!"
Mendengar teriakan itu, Alexander secara reflek mengarahkan dirinya ke tembok dan tidak melihat ke belakangnya. Gemetar Alexander jadi lebih kuat, tubuhnya melemas, kepalanya pusing, dan ia merasa jika isi perutnya akan keluar kapan saja.
"Sial, aku panik."
Alexander belum pernah merasakan hal seperti itu hanya dengan mendengar teriakan seseorang. Itu terasa seperti ada seseorang yang tengah memainkan pikiran dan emosinya.
Bermeditasi tidak berguna, pikiran Alexander menolak untuk mengosongkan isinya. Yang bisa Alexander lakukan saat ini hanyalah memandangi dinding di hadapannya itu. Meskipun gelap, Alexander masih bisa mengingat jelas apa saja dan bagaimana isi dari Sel itu.
Suara rantai yang tergesek dengan lantai terdengar samar di telinga Alexander, suara gesekan rantai itu semakin jelas seolah-olah hampir sampai di belakangnya.
Cahaya oranye menyinari dinding yang Alexander lihat, ia ingin memutar kepalanya untuk melihat sumber dari cahaya oranye itu. Namun, Alexander teringat dengan teriakan yang sebelumnya ia dengar, ia segera menghapus pikirannya itu dan tetap menatap dinding.
Ketika suara rantai kembali terdengar, kepala Alexander terasa sangat ringan seolah-olah tidak ada lagi di tempatnya. Suara gesekan rantai itu perlahan menjauh hingga akhirnya tidak lagi terdengar, bersamaan dengan itu, lampu yang ada di Sel yang Alexander tempati kembali menyala.
Gemetar yang Alexander rasakan juga menjadi sedikit ringan tapi hati dan pikirannya masih dihantui oleh teriakan yang sebelumnya ia dengar.
'Tidak, ini bukan penjara! Aku harus melarikan diri!'
Alexander mengambil Paper Clip yang ia sembunyikan di bawah lidahnya dan memasukkannya ke lubang kunci Sel. Kemampuan Lock Picking Alexander sangatlah hebat, hanya saja karena pikirannya belum bisa tenang, ia mengalami kesulitan untuk membuka Sel. Ditambah dengan Paper Clip yang agak rapuh dan mudah bengkok, kesulitan untuk membuka pintu Sel semakin tinggi.
Hampir 10 menit berlalu, Alexander hampir mengangkat Pin yang ada di dalam lubang kunci. Keringat mengalir deras di dahi Alexander, mulutnya juga terasa sangat kering, ia dehidrasi. Alexander langsung menuju ke wastafel dan meminum air yang mengalir seperti orang yang baru saja menemukan sumber air di tengah gurun.
Alexander merasa sedikit lebih baik, tapi dahaganya masih belum terpuaskan entah kenapa. Ketika Alexander meminum lebih banyak air, hal yang sama masih terjadi. Alexander kembali ke lubang kunci dan meneruskan usahanya membuka pintu Sel.
Semua pin yang menahan pintu Sel berhasil terangkat setelah 5 menit berlalu dan bersamaan dengan itu, teriakan lain kembali terdengar.
"Sh*t!"
Alexander segera keluar dari Sel menuju arah yang berlawanan dengan sumber teriakan bersama dengan Paper Clipnya. Alexander berlari tanpa memperdulikan Sel yang ada di sebelahnya dan bagaimana kondisi orang di dalamnya. Namun, sudut mata Alexander menangkap apa yang terjadi, ia melihat seorang pria yang penuh akan darah di sekujur tubuhnya.
"Apa itu?!"
Alexander merasa agak mual, walaupun ia telah membunuh banyak orang, tapi ia tidak pernah sekalipun menyiksa mereka dan langsung menghabisi dengan satu serangan.
Alexander terus berlari di lorong yang ujungnya tidak terlihat.
KAMU SEDANG MEMBACA
Alcatraz [END]
Mystère / Thriller"Mungkin masih banyak penjara yang membiarkan tahanannya hidup dengan tenang, tapi tidak dengan tempat ini." "Selamat! Kau tahanan ke 10!" "Let's play some games, if you can win this game, you're free!" Itu adalah hal terakhir yang diingat oleh Alex...
![Alcatraz [END]](https://img.wattpad.com/cover/227940819-64-k441333.jpg)