9. Fana Merah Jambu

36 14 4
                                        

Rumah kakeknya masih terlihat sama seperti saat terakhir kali dia datang ke situ. Walaupun jaraknya dekat, Kiran terbilang jarang berkunjung. Halaman depannya ditanami dengan rumput sebagai tanaman hias. Beberapa tumbuhan dari mulai tanaman hias berbunga maupun tidak berbunga dan juga pohon mangga juga tumbuh dengan subur di situ. Rumah ini dikelilingi oleh pagar hidup alias pagar yang berasal dari tumbuhan. Di depan teras rumah terdapat pot-pot yang berjejer rapi. Brama--kakek Kiran--adalah seseorang yang sangat menyukai alam, dia juga memiliki hobi berkebun. Usia tidaklah menjadi hambatan untuk menekuni hobinya itu.

Kiran berdiri bersampingan dengan Ita di depan pintu rumah. Suara riuh terdengar dari dalam. Kiran mengembuskan napas panjang, dia tidak suka keramaian. Satu kali bel dibunyikan, belum ada yang membuka pintu. Untuk kedua kalinya Ita menekan bel, hingga akhirnya pintu terbuka.

Seorang wanita berperawakan agak gemuk dengan tinggi yang hampir sama dengan Ita tersenyum lebar dan langsung memeluknya erat.

"Ita, meni hese pengen ketemu sama kamu mah," ucapnya dengan logat Sunda yang khas. (Ita, susah banget pengen ketemu sama kamu.)

Ita hanya bisa memaksakan diri untuk tersenyum, karena jujur dia merasa risih dengan pelukan dari sepupunya itu.

"Eh, ini Kiran? Kamu udah kelas sembilan, ya?" tanyanya setelah mengurai pelukannya kepada Ita.

"Aku udah SMA, Bi." Kiran tersenyum canggung. Tubuhnya yang terlihat lebih pendek dari yang lain membuat keluarganya itu seringkali mengira dia masih duduk di bangku SMP. Keluarga Ita memang rata-rata memiliki tubuh yang tinggi. Bahkan, ibunya itu memiliki tinggi badan yang lebih dari ayahnya.

"Ratih, biarin mereka masuk dulu!"

"Eh, iya. Ayo masuk dulu atuh." Akhirnya, wanita yang dipanggil Ratih itu mempersilakan mereka masuk setelah mendengar seruan seorang pria dari dalam rumah.

Kiran mengikuti Ita menghampiri satu per satu orang di dalam sana. Walaupun hanya terdapat tujuh orang di situ, tetapi bagi Kiran, itu sudah terbilang ramai. Sebagai rasa hormat kepada yang lebih tua, Kiran menyalami tangan mereka. Tidak lupa senyum yang dibuat setulus mungkin terlukis di wajahnya. Agak canggung saat mereka menghampiri Gilang, penyebabnya tentu saja karena kejadian kemarin.

Sebenarnya Brama hanya memiliki dua anak, yaitu Gilang dan Ita. Ratih merupakan anak tunggal dari adik Brama yang sudah meninggal beberapa tahun silam.

Setelah selesai dengan hal itu, Kiran memilih untuk sedikit menjauh dari mereka semua. Dia berdiri sembari bersandar ke tembok dan memperhatikan interaksi antara orang-orang yang bernotabene sebagai keluarganya itu. Para wanita sedang duduk santai di sofa yang tidak jauh darinya. Kay yang juga menjadi topik pembicaraan mereka duduk di antara Ratih dan Ita.

Para pria sedang bercengkrama menemani Brama. Mereka tertawa terbahak-bahak ketika salah satu dari mereka melempar guyonan. Lalu, sepasang anak kecil berusia enam dan delapan tahun berlarian ke sana ke mari mengejar satu sama lain. Sepertinya hanya Kiran yang tidak menikmati acara ini.

"Kay makin cantik aja."

"Semester kemarin kamu peringkat satu lagi, 'kan? Selamat, ya."

"Makasih, Bi."

"Soal kejadian kemarin, atas nama Kiran, tante minta maaf, ya."

"Gak pa-pa. Kiran gak salah, Tan."

Ketika ibunya terdengar meminta maaf untuk kesalahan yang tak pernah dia lakukan, Kiran langsung menundukkan kepala. Dia menahan diri agar tidak berteriak membela diri menunjukkan bahwa dia tidaklah salah.

Dia benar-benar ingin berlari dari tempat itu. Kiran memainkan jarinya, dia terus menunduk menatap kakinya yang melakukan gerakan-gerakan kecil sebagai ketidaknyamanan.

Meow!Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang