|Chapter 7|

37 5 0
                                        

‘Cinta karena terbiasa, membuatku bagai candu berada di dekatmu.’

°°°

Suara bel tanda pulang sekolah terdengar, derap langkah yang begitu ramai menghiasi setiap koridor sekolah. Kini Farel pun sudah menunggu Lyra di parkiran dengan bersandar di motor sport kesayangannya. Tak jarang murid di sana terutama para siswi menyapanya. Lelaki berhidung mancung tersebut menyapa kembali dengan ramah serta senyuman yang membuat siapa saja terpesona.

Dari kejauhan ia dapat melihat sang gadis pujaan hati. Berjalan beriringan dengan kedua temannya sambil tertawa lepas. Kedua sudut bibirnya pun ikut terangkat membentuk bulan sabit. Ya, hanya dengan melihat tawa lepas dari Lyra, mampu membuat seorang Farel merasa bahagia.

“Ra ... tuh, lo udah ditungguin sama pangeran,” tegur Faras ketika melihat Farel.

Pandangan Lyra pun beralih ke arah yang sama dengan Faras. Ia pun juga ikut tersenyum dengan langkah yang begitu senang mengahmpiri Farel.

“Gak ada rapat? Tumben udah di sini nungguin, biasa gue yang nungguin sampe jamuran,” ucap Lyra dengan nada suara yang dibuat seolah kesal.

Namun terdengar menggemaskan di telinga Farel. Ia pun tak sungkan mencubit hidung Lyra sangking gemasnya. Membuat Lyra mengaduh dan juga membalas dengan hal yang sama.

“Sakit tau,” keluh Lyra sambil mengusap-usap hidungnya yang landai.

“Yaudah, besok-besok gak aku tungguin lagi, deh.”

“Ih, kamu mah, gitu ....”

Lyra kembali mencubit hidung Farel, keduanya pun tergelak. Tentu saja pemandangan itu tak lepas dari beberapa pasang mata para murid yang masih tersisa menyaksikan kedekatan mereka. Begitu pun dengan Faras dan Gavin.

Gue berharap kalian jodoh, batin Faras sambil tersenyum.

Lo berhak bahagia, Ra. Tapi gue juga mau bahagiain lo, batin Gavin.

Mereka berdua pun melangkah mendekati sejoli tersebut.

Lyra teringat sesuatu, jika hari ini ia ada janji untuk kerja kelompok di rumah Faras. Lyra pun mengatakannya pada Farel.

“Oh, ya. Hari ini gue mau ke rumah Faras, kerjain tigas sejarah dari Bu Marina.”

“Hem? Langsung? Gak ganti baju dulu?” tanya Farel, membuat Lyra mengangguk.

“Yaudah kalau gitu, aku anter, ya ke sana? Nanti kalau mau pulang, chat aja biar aku jemput.”

“Emh ... tapi—”

“Lyra bareng gue kok, tenang aja. Pulang nanti sekalian gue anter juga,” sahut Gavin yang tak ingin Lyra mengiyakannya.

Lyra menatap Gavin dengan kesal, ia ingin memprotes, tetapi teman-teman Farel tiba-tiba datang menghampiri.

“Weh, Bro! Jadi gak nih main futsal? Kuy lah!” ajak Reno yang langsung merangkul Farel.

Lyra tak lagi melanjutkan keinginannya. Ia tahu kini posisinya di mana jika teman-teman Farel mengajak kekasihnya. Lyra pun tersenyum hambar.

“Tapi gue ma—”

“Lo pergi aja sama temen-temen lo, gue sama mereka, kok,” sanggah Lyra memotong ucapan Farel.

“Tapi, sayang ak—”

“Udah gak apa, yaudah, ya. Aku ke rumah Faras dulu, tugas Bu Marina dua hari lagi,” sahut Lyra sambil memperlihatkan senyum terbaiknya.

Farel pun mengembuskan napas, kemudian meraih wajah Lyra. Menyentuh pipinya yang chubby dengan lembut.

“Bener gak apa?” tanya Farel memastikan.

“Udah lah, Bro! Dia juga sudah izinin, lo kayak suami takut istri aja, masih sekolah woy!” ucap Reno tanpa dosa.

Reno memang teman Farel yang paling anti dengan hubungan mereka. Lyra hanya tersenyum menanggapinya. Dalam hati, ada ribuan belati yang seakan menusuk. Beginilah jika Lyra berhadapan dengan teman-teman Farel. Ia akan mengalah, tak ingin dianggap mengekang Farel. Padahal bagi sejoli itu, saling memberitahu ke mana mereka pergi sudah biasa.

“Ck! Gak apa, lagian juga gue ke sana ngerjain tugas, kok,” ucap Lyra.

Embusan lagi-lagi terdengar dari Farel. “Yaudah, kamu hati-hati, ya. Kalau ada apa-apa hubungin aku.”

Lyra mengangguk dengan senyuman palsunya. Farel pun pergi dengan teman-temannya. Niat Farel memang setelah mengantar Lyra, ia akan pergi bermain futsal. Namun Farel sepertinya, teman-temanya sengaja membuat Lyra seperti itu.

Setelah menatap kepergian rombongan Farel dan teman-temannya, Lyra dan Faras masuk ke mobil Gavin. Dengan senang hati Gavin membukakan pintu depan untuk Lyra, tetapi Lyra memilih duduk di jok belakang.

Gavin tak kesal, tetapi ia memutar bola matanya malas melihat tingkah Lyra kemudian tersenyum.

“Lo berdua jadiin gue supir?” tanya Gavin ketika sudah masuk ke mobil dan duduk di kursi pengemudi.

“Udah jalan aja, jangan bawel,” ucap Faras, kemudian mereka bertiga sama-sama tergelak.


☘☘☘


Kini sampailah Mobil Gavin di sebuah rumah berlantai dua dengan cat biru. Mereka turun dari mobil dan mengikuti yang punya rumah dari belakang.

“Asalamualaikum! Bi !” teriak Faras memanggil asisten rumah tangganya.

“Iya, Non. Wa alaikum salam.” Dengan sedikit tergesa-gesa.

“Bi, ini ada temen-temen aku, siapin minuman sama camilan, ya. Langsung antar ke kamar,” pinta Faras.

“Baik, Non,” jawab asisten rumah tangga itu sambil mengangguk. Kemudian kembali, mengerjakan apa yang Faras minta.

“Orang tua lo mana?” tegur Gavin.

“Ck! Biasa sibuk, yuk, ke kamar gue aja,” ajaknya dengan cuek.

Mereka menaiki tiap anak tangga, mengikuti langkah Faras yang berhenti di depan sebuah pintu bertuliskan ‘Kamar Faras’.

Tanpa sungkan, Lyra langsung mengempaskan tubuhnya saat sudah berada di dalam. Dirinya memang sering ke mari. Jadi sudah tak asing lagi. Sedangkan Gavin menatap setiap sudut kamar Faras yang ala princess tersebut.

“Sini, lo duduk di sini. Gue mau ganti baju dulu, anggap aja kamar sendiri,” ucap Faras yang menuntun Gavin duduk di sofa depan tempat tidur.

Faras pun masuk ke kamar mandi.

Pandangan Gavin beralih menatap Lyra yang sedang terbaring.

“Lo pasti berharap tadi Farel ikut, ‘kan?” Pertanyaan Gavin membuat Lyra menoleh.

Embusan napas pun terdengar. “Yaps! Tapi tadi lo udah liat ‘kan gimana?” tanya balik Lyra.

Gavin tertawa sinis. Ia pun menyandarkan punggungnya. Membelakangi Lyra yang masih dengan posisi ternyamannya.

“Gue bisa menutup rasa sakit lo saat kejadian seperti tadi lagi,” ucap Gavin.

Kini Lyra yang tertawa sinis. “Jangan bahas itu lagi,” sahutnya.

“Gue tau, Ra. Saat lo berhadapan sama teman-temannya, lo bukan jadi Lyra yang gue kenal.”

“Lo gak tau apa-apa, Vin.”

“Tapi gue paham sama isi hati lo.”

“Udah gue bilang lo gak tau apa-apa.”

“Gue tau ka—”

“Cukup! Oke lo tau segalanya tentang gue!” ucap Lyra pada akhirnya.

Ia tak ingin mendengar pengakuan lainnya lagi dari Gavin. Sedangkan Gavin tersenyum puas. Mereka adalah dua manusia yang egois dan suka menyakiti. Menyakiti orang lain dan diri sendiri.

Sampai pada akhirnya suara pintu kamar mandi terbuka, membuat lamunan masing-masing mereka beralih. Sebisa mungkin keduanya bersikap seperti biasa di hadapan Faras.









🦋🦋🦋
Salam manis,
Mey :*
ODOC Challange Batch 3 Day 7
Balikpapan, 1 Juli 2020

Permainan Takdir ✔Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang