|Chapter 8|

24 5 0
                                        

Dengan peluh di mana-mana, Farel duduk di tepi lapangan sambil meneguk botol air minum. Ia pun mengambil ponselnya, berharap ada kabar dari sang pujaan hati. Namun sayang, tak ada satu pun pesan masuk. Farel pun mencoba menghubungi Lyra melalui sambungan telepon.

Panggilan telepon pertama tak ada jawaban. Namun Farel berusaha kembali menghubungi. Tetap, hasilnya sama. Embusan napas pun terdengar.

“Yaelah, ngapain, sih gelisah banget telponnya gak diangkat Lyra,” tegur Dafa.

“Bukan gelisah, ya gue khawatir aja tumben gak diangkat telponnya.”

“Lo bego apa bego, sih? Yaiyalah gak diangkat. Lo dia liat sendiri tadi dia bareng siapa,” sahut Reno yang terbaring di lantai.

“Sama Faras dan si anak baru itu ... siapa, sih? Oh, ya, Gavin,” jawab Farel dengan polos.

Kedua teman Farel menggeleng. Memutar bola mata mereka dengan malas.

“Ya pasti Lyra sedang asyik lah sama tuh anak.”

“Gue percaya, kok dia gak akan macem-macem. Lagi pula di sana ada Faras.”

“Serah lo, deh.”

“Kenapa, sih kalian gak suka banget sama hubungan gue dengan Lyra?” tanya Farel sedikit kesal.

“Ya lah, kita itu gak mau lo dimainin sama cewek kayak Lyra. Lo masa gak sadar, sih. Udah banyak yang gosipin dia dengan hal-hal yang gak baik,” jelas Reno.

Kini Farel kembali meneguk air mineralnya. Tiba-tiba seorang gadis datang menghampiri kumpulan Farel dan teman-temannya. Farel hanya mengerutkan keningnya.

“Weh, dateng lo ke sini, thanks, ya,” ucap Reno ketika gadis itu menyapanya. Mereka bersalaman layaknya sesama laki-laki.

Kemudian mata gadis itu beralih menatap Farel yang tampak sedikit terkejut dengan kedatangannya. “Lo kayak kaget gitu gue dateng.”

Farel menggeleng, “Gak, gue heran aja, ngapain lo ke sini?” tanya Farel tanpa basa-basi.

“Lihat kalian latihan.”

“Dia kangen sama lo, Rel,” sahut Reno diiringi tawa.

Sedangkan Bunga, gadis tersebut hanya tersenyum malu-malu mendengar ucapan Reno. Farel pun tak peduli, ia kembali sibuk dengan ponselnya. Seketika ada pesan masuk yang membuat Farel bernapas lega.

Lyraku 💜
Maaf, ya sayang, tadi hapenya gue kasih silent dan lagi dicas. Makanya gak tau kalo lo telpon, sorry 🥺🙏

Itulah isi pesan Lyra yang membuat Farel tersenyum. Ia pun segera membalas.


Oke gak apa, gimana sama tugasnya? Udah kelar? Pulang aku jemput, ya?


Lyraku💜
Emh, gak perlu kayaknya, gue bisa pulang bareng Gavin. Lo main aja sama temen-temen lo. Have fun, babe 😘 gue gak apa, kok.

Farel tersenyum kembali, hal itu tak luput dari tatapan teman-temannya dan juga Bunga.

“Kesambet dia senyum-senyum gitu, aelah ... Cuma chat dari Lyra doang,” sahut Reno tak suka. Farel pun menatapnya dengan mengerutkan kening tak peduli.

“Mending lo balikan lagi sama Bunga. Biar bisa kumpul kayak gini lagi,” ucap Dafa menimpali.

“Hust! Kalian jangan gitu, dong. Farel udah punya Lyra sekarang,” sahut Bunga. Terlihat jelas gadis itu salah tingkah.

“Males banget sama cewek kayak gitu, lebih baik sama lo. Lo putus sama Farel pasti karena Lyra, ‘kan? Lo juga, Rel. Bego banget. Bunga udah cocok gini, Lo malah lebih milih si Lyra,” sewot Reno panjang lebar dengan penuh kekesalan, sedangkan Dafa menganggukkan kepala mendengar ucapan temannya itu.

Farel mengembuskan napasnya dan beralih menatap Reno dan Dafa bergantian.

“Denger, ya. Gue putus sama Bunga bukan karena Lyra. Urusan hati gue mau ke mana ya itu urusan gue. Lagian juga kenapa, sih kalian sampe segininya sama Lyra. Gue tau Lyra anaknya gimana, dan gue sayang sama dia itu apa adanya.”

“Kalian sadar gak, sih. Kalian bersikap kayak gini di depan Lyra. Apa kalian pernah mikir perasaannya dia?” tambahnya lagi.

“Ngapain juga kita mikirin perasaan tuh cewek, lagian biar tuh anak sadar kalau dia gak pantes sama lo.”

“Terus menurut lo gue pantesnya sama Bunga? Lo Tuhan yang ngatur jodoh gue?” ucap Farel yang semakin tak suka dengan perkataan teman-temannya.

Reno, Dafa dan juga Bunga terdiam mendengarnya. Terlihat jelas guratan kekesalan dari wajah Farel. Hanya saja Farel masih menganggap mereka teman. Namun ia benar-benar tak suka jika mereka terus menerus menjelek-jelekkan Lyra.

“Dah lah, gue pamit. Gue gak suka aja kalian kayak gini. Setidaknya hargai keputusan gue mau berhubungan sama siapa. Urusan sakit hati itu risiko gue sendiri, gue udah siap. Bukan lo pada ‘kan yang ngerasain.”

Farel menyambar ranselnya dengan kasar, langkanya ia percepat meninggalkan gedung tersebut. Hatinya merasa sakit mendengar teman-temannya yang selalu menjelekkan Lyra. Demi menjaga pertemanannya pula Farel menghindar agar tak dikuasai oleh emosi.

Teriakkan Reno dan yang lainnya tak Farel hiraukan. Hingga tubuh tingginya menghilang dari hadapan mereka.

“Kalian seharusnya gak boleh gitu sama Farel.” Bunga memperingati.

“Kita Cuma gak mau aja dia sakit hati sama perempuan kayak Lyra.”

“Ya tapi ‘kan mereka sekarang lagi jalanin hubungan. Kalian sebagai teman seharusnya mendukung, dong.”

“Mau dukung kayak mana. Kalo sama lo bolehlah kita dukung, ya gak?” sahut Reno yang diangguki oleh Dafa.

Bunga mengembuskan napasnya. Dalam hati Ia merasa bersalah ketika diingatkan kejadian yang membuatnya putus dengan Farel. Namun ada rasa bangga dalam dirinya yang dipandang lebih baik dari Lyra. Bunga pun mengangkat sudut bibir kanannya dengan senang.

Sedangkan Farel kini sudah melaju membelah jalanan kota Balikpapan di sore hari. Ia membawa kuda besinya itu berkeliling sejenak menikmati udara sore. Masih ‘tak habis pikir dengan ucapan teman-temannya.

Hingga akhirnya Farel merasa puas berkeliling, ia memutuskan untuk pulang ke rumah yang menurutnya hampa. Tak ada kehidupan di sana. Namun mau bagaimana lagi, bangunan itulah tempat kembalinya untuk mengistirahatkan tubuh dan pikiran.






🦋🦋🦋
Salam manis,
Mey :*
ODOC Challange Batch 3 Day 8
Balikpapan, 2 Juni 2020

Permainan Takdir ✔Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang