|Chapter 12|

20 5 0
                                        

Selama gosip itu beredar di kalangan angkatan Lyra, gadis itu sama sekali ‘tak peduli dengan apa yang terjadi. Hubungannya dengan Gavin pun berjalan baik pula. Meski ‘tak tahu hubungan apa yang mereka jalani.

Bagi Gavin, Lyra adalah pacarnya. Sedangkan bagi Lyra, ia ‘tak sama sekali memikirkannya. Sebab, semua berjalan bagaikan air yang mengalir. Mungkin bisa dibilang hubungan yang berdasarkan dari ego masing-masing.

Lyra cukup nyaman berada di dekat Gavin kala Farel ‘tak bersamanya. Seperti membuka kenangan masa lalu. Saat mereka diam-diam menikmati waktu berdua. Meski terkadang kenangan itu menyakitkan.

Kini Lyra sedang bersama Farel yang tengah sibuk dengan ponselnya. Mereka sedang makan di sebuah kafe yang memang sering dikunjungi. Lyra merasa kesal, tetapi tetap bersabar.

“Lo lagi chat sama siapa, sih? Serius banget kayaknya,” tegur Lyra pada akhirnya.

Farel yang sadar pun menoleh. “Enggak, ini anak-anak ngajakin main futsal.”

Lyra memutar bola matanya malas. Dengan segera ia mengambil ponsel Farel dan memeriksa isi chat tersebut.

“Sini!” dengan cepat Lyra merampasnya. Sedangkan Farel hanya diam saja. Toh tidak ada yang aneh-aneh di dalam sana.

Jemari lentik Lyra menggeser layar tipis tersebut. Tatapannya naik turun mengikuti gerakan layar tersebut.

Gak ada yang aneh-aneh, sih. Chat sama cewek aja cuma urusan tanya PR dan tugas, batin Lyra yang masih setia memeriksa isi pesan tersebut.

Ia pun melihat-lihat pesan yang baru saja di bahas. Cukup terkejut melihat jawaban Farel ketika Reno mengajaknya untuk futsal. Ternyata Farel memang selalu mengutamakan dirinya. Hanya saja Lyra merasa teman-teman Farel memang ‘tak suka padanya.

Lyra pun mengembalikan ponsel milik Farel. Embusan napas pun keluar dari mulutnya.

“Oh ya, lulus nanti gimana? Mau lanjut kuliah?” tanya Lyra mengalihkan situasi.

“Mau kuliah, tapi belum tau mau ambil jurusan apa.”

Lyra hanya membulatkan bibirnya.

“Rel, lo kok mau, sih, bertahan sama gue?” tanya Lyra tiba-tiba.

Hal itu membuat Farel menghentikan sedotannya pada cappucino latte yang tengah dinikmati. Ia pun menggeser sedikit gelas tersebut dan melipat kedua tangannya di atas meja. Lelaki itu beralih menatap Lyra.

“Ra, kamu kok mau, sih punya perasaan sama aku?” tanya Farel balik membuat Lyra mengerutkan dahi.

“Ya namanya juga perasaan suka, ya mau gimana? Gak boleh, ya, suka sama lo dan punya perasaan sama lo?”

“Nah itu lo tau.”

Lyra masih ‘tak paham. Seraut wajah bingung pun terlihat jelas. Farel pun mengembuskan napasnya.

“Ya namanya hatiku berkata harus bertahan sama kamu gimana? Gak boleh? Ini ‘kan hati aku,” jelas Farel.

Lyra tertegun mendengar ucapan Farel. Kemudian ia pun tersenyum kecil.

“Iya juga, ya. Namanya hati dan perasaan orang ya mau gimana? Bukan kita yang mengatur.”

Mereka pun saling melempar senyuman. Namun ternyata obrolannya dengan Farel mengingatkannya pada Gavin. Lelaki yang masih mengharapkannya kembali dengan sejuta luka yang akan didapat.

Hati emang gak bisa bohong, ya. Tapi kamu salah menaruh tempat, Vin. Ah ... aku semakin merasa bersalah pada dua laki-laki ini, batin Lyra.

Permainan Takdir ✔Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang