Setelah kejadian semalam, Gavin dinyatakan meninggal membuat Lyra terpukul. Ia masih ‘tak menduga kenapa bisa seperti ini. Di saat ia ingin memperbaiki segalanya, tetapi perlahan orang yang ia sayangi justru pergi meninggalkan gadis itu.
Kini mereka semua berada di kediaman Gavin, tampak jelas raut kehilangan dari wajah kedua orang tua Gavin. Sang Ibu ‘tak henti-hentinya menangis di samping tubuh anaknya yang tengah terbujur kaku. Lyra dan teman-teman yang lain juga sudah membacakan doa untuk Gavin.
Tatapan Lyra lurus menatap Gavin yang terlihat tidur dengan damai. Kenangan masa lalu saat masih duduk di bangku SMP pun melintas. Gavin yang selalu tersenyum padanya. Bahkan saat mereka berselingkuh dari Farel pun, Gavin selalu mampu membuat Lyra tertawa.
Vin, kenapa lo ninggalin gue kayak gini. Lo janji, mau mengulang semuanya dari awal sama gue. Sebagai teman lama yang bertemu kembali. Tapi kenapa lo malah pergi selamanya, Vin, batin Lyra sedih.
Farel tahu apa yang dirasakan Lyra. Meski keduanya sama-sama pernah menyakiti bahkan mereka saling menyakiti. Farel juga paham, mungkin dirinyalah penyebab Lyra melakukan semua itu.
Tak lama pengantaran Gavin ke tempat peristirahatan terakhirnya pun akan segera dilaksanakan. Lyra dan Gavin ikut serta hingga akhirnya kini hanya terlihat gundukan tanah yang masih basah. Mereka menabur bunga di atasnya sambil mengirimkan doa.
Setelah berpamitan dengan kedua orang tua Gavin, Lyra dan teman-teman lainnya bubar dari pemakaman.
🍃🍃🍃
Kini Lyra berada di mobil bersama Farel. Farel akan mengantar Lyra pulang ke rumah. Semenjak pulang dari pemakaman gadis itu hanya menatap kosong keluar jendela.
“Sayang, kalau kamu seperti ini terus, Gavin juga gak akan bahagia di sana.” Farel mencoba membujuk.
“Gue udah kehilangan temen yang selama ini ngerti gue untuk selamanya, Rel, dan bahkan nanti gue juga akan ditinggal sama orang yang gue sayang selama ini,” jawab Lyra tanpa mengalihkan pandangannya.
Farel hanya fokus dengan kemudinya. Sesekali anak laki-laki itu mengembuskan napas beratnya.
Kini, sampailah mereka di rumah Lyra. Mereka sebenarnya masih harus ke sekolah karena hari ini bukan hari libur. Namun Farel memberikan izin Lyra pada wali kelasnya untuk tidak ke sekolah dulu.
“Sayang, kita udah sampai,” ucap Gavin ketika mobil Honda Jazz-nya berhenti ‘tak jauh dari gerbang rumah Lyra.
“Gue gak mau pulang, Rel.”
Terdengar embusan napas kembali dari mulut Farel. Tubuhnya kini sudah menghadap ke Lyra, dan segera ia menarik Lyra ke dalam pelukannya.
“Menangislah sepuasmu, Ra. Lepaskan semua rasa sedihmu, aku ada di sini.”
Lyra tertegun, ia ‘tak sanggup lagi menahannya dan cairan bening pun kembali tumpah. Namun kali ini lebih deras dari sebelumnya. Tangisannya kini tersedu-sedu. Terdengar begitu pilu. Farel hanya mampu mendekapnya dengan erat sesekali menciumi kening Lyra dengan lembut.
“Rel, kenapa semuanya seperti ini? Di saat gue ingin memperbaiki segalanya, tapi malah kayak gini. Lo juga akan ninggalin gue nanti keluar negeri,” ucap Lyra di tengah tangisannya.
“Kematian seseorang itu sudah rencana Tuhan, Ra. Kamu harus bisa belajar ikhlas, biar Gavin tenang dan bahagia di sana. Masalah aku akan pergi nanti itu juga karena gak ada pilihan. Tapi yang pasti, hati aku tetap akan selalu bersamamu.”
Lyra yang mendengar itu hanya diam, ia masih betah dengan posisi memeluk Farel seerat ini. Setidaknya Farel ‘tak akan meninggalkannya. Namun siapa yang tahu kematian seseorang. Lyra pun kembali tersadar akan hal itu.
🍃🍃🍃
Kini sudah hampir seminggu kepergian Gavin. Lyra juga kembali melakukan aktivitasnya seperti biasa. Terlebih lagi ujian semakin dekat di depan mata. Terkadang kesibukannya dengan materi yang dipelajari mampu membuatnya lupa sejenak akan kesedihan atas kehilangan Gavin.
“Ingat, ya, anak-anak. Ujian Nasional hanya tinggal 3 hari lagi. Manfaatkan waktu belajar kalian dari sekarang. Pelajari dengan benar setiap materi yang sudah diberikan dari setiap guru,” jelas Bu Marina sebagai wali kelas dan juga guru sejarah Lyra.
“Baik, Bu ...,” jawab seluruh murid serempak.
“Baiklah, karena bel istirahat sudah berbunyi sialkan beristirahat, pelajaran cukup sampai di sini, selamat siang.”
“Selamat siang, Bu ....”
Bu Marina pun meninggalkan kelas Lyra. Membuat suasana kelasnya kembali ricuh ‘tak terkondisikan. Lyra masih sibuk membereskan buku-bukunya yang berserakan di atas meja. Begitu pun dengan Faras.
“Ra, rencana lo bakal lanjut di mana?” tanya Faras di tengah kesibukan mereka.
“Entah, gue bingung mau ambil jurusan apa. Berasa gak punya masa depan gue,” candanya.
“Husst ! Gak boleh gitu.”
Lyra hanya tersenyum sambil memperlihatkan deretan giginya yang rapi.
“Gue kuliah di sini aja kayaknya. Mungkin ambil jurusan perbankan, karena Cuma jurusan itu yang membuat gue tertarik,” jelas Lyra.
“Bagus, dong.”
“Lo sendiri lanjut di mana? Di luar kota apa di luar negeri juga kayak Farel?” tanya Lyra balik.
“Gue aja gak tau mau kuliah apa enggak. Males gue belajar lagi. Mending di rumah, bisa jalan-jalan, shopping sepuasnya,” jawab Faras semaunya.
Lyra hanya mencebik dan menggeleng. Padahal Faras juga salah seorang murid yang mempunyai otak encer di kelasnya. Faras dan Lyra itu sebelas dua belas masalah otak, dan bahkan tingkah mereka tidak beda jauh.
Hanya saja Lyra masih mau menaati peraturan dan juga tuntutan orang tua terutama dari sang ayahlah yang membuatnya peduli dengan nilai sekolah. Berbeda dengan Faras. Anak itu masa bodo, yang penting saat ulangan maupun ujian ia bisa menjawab semua soal.
Bahkan Faras sering terlambat dan ia tetap santai menerima hukuman. Jadi jangan kaget kalau kalimat tadi terlontar begitu saja dari mulut cantiknya.
“Oya, Ra. Gimana lo sama Farel?” tanya Faras lagi ketika mereka hendak bernajak.
Sambil berjalan keluar kelas Lyra menjawab, “Ya mau gimana? Ya gitu aja, baik-baik aja.”
Faras hanya mengangguk paham. Mereka terus melanjutkan langkah menuju kantin untuk mengisi perut yang sudah berdemo dari tadi.
Sebelum sampai di kantin tiba-tiba Lyra berpapasan dengan Farel dan kedua temannya di persimpangan koridor.
Ya, teman-teman Farel masih sama sampai saat ini. Bersikap dingin dan cuek, bahkan tatapan ‘tak suka mereka masih sama. Namun Lyra hanya cuek, ia melemparkan senyumannya hanya untuk Farel.
“Yuk, bareng,” ajak Farel.
Lyra tersenyum dan mengangguk lalu berjalan mengikuti Farel dan teman-temannya di belakang bersama Faras.
“Masih dingin aja teman-temannya si Farel,” bisik Faras pada Lyra.
“Hust! Udahlah, biarin aja,” sahut Lyra cuek.
Mereka pun duduk di meja yang sama, kemudian memesan makanan. Lyra benar-benar sudah ‘tak peduli lagi dengan apa yang dipikirkan teman-teman Farel. Baginya, Farel percaya pun dengannya sudah cukup.
Lyra hanya berusaha ingin memperbaiki hubungannya dengan Farel sebelum ia benar-benar terlambat. Meski ia tahu ke depannya akan menjalani hubungan jarak jauh. Namun dari situlah Lyra harus bisa memantapkan hatinya dengan menunggu Farel kembali.
Mungkin bisa dibilang ini adalah karma ringan bagi Lyra.
🦋🦋🦋
Salam manis,
Mey :*
ODOC Challange Batch 3 Day 17
Balikpapan, 11 Juli 2020
KAMU SEDANG MEMBACA
Permainan Takdir ✔
Romance[COMPLETED] [OTW REVISI] 'Cinta 'tak pernah salah, keegoisanlah yang membuat cinta itu menjadi salah.' CERITA INI AKAN DIIKUTSERTAKAN DALAM EVENT ONE DAY ONE CHAPTER CHALLANGE BATCH 3 START 25 JUNI - FINISH 25 JULI 2020
