|Chapter 5|

37 7 0
                                        

Seperti yang dijanjikan, Farel berencana mengajak Lyra jalan-jalan di akhir pekan. Dengan semangat Lyra memilih baju yang cocok dipakai untuk kencan hari ini.

Sudah puluhan baju dan celana berserakan di atas tempat tidur. Namun belum ada satu pun yang menurutnya cocok untuk dikenakan. Sampai pada akhirnya pilihannya jatuh pada kaos putih bergambar ikon senyum. Dipadukan dengan celana jeans ketat, dan jaket demin. Begitu simpel dan natural, dengan rambut yang dibiarkan tergerai rapi.

“Ah! Akhirnya ... seperti ini saja rasanya sudah cukup.” Sambil menatap pantulan dirinya di cermin.

Lyra keluar dari kamar, langkahnya santai menuruni tiap anak tangga.

“Mau ke mana kamu, Lyra?” tanya Yusuf yang sedang duduk santai di ruang tengah sambil menikmati secangkir kopi. Membuat langkah Lyra berhenti.

“Mau jalan, Yah, sama temen.”

“Temen kamu cowok yang sering jemput kamu tiap pagi itu?”

Lyra mengangguk. Namun lagi-lagi langkahnya terhenti saat mendengar ucapan Yusuf.

“Bukan pacar kamu, ‘kan? Ayah gak izinkan kamu pacaran!”

Lyra memutar bola matanya malas kemudian mengembuskan napas. “Iya, Yah. Dia Cuma temen, kok.”

Lyra pun melanjutkan langkahnya keluar rumah. Sedangkan Yusuf hanya menggeleng.

Tepat saat Lyra menutup pagar rumah, mobil Honda Jaz berwarna merah berhenti di hadapannya. Lyra pun tersenyum dan masuk ke mobil tersebut.

“Cantik banget, sih,” goda Farel saat melihat penampilan Lyra.

“Emang gue cantik, masalah?” Lyra pun tergelak.

Farel menggeleng sambil tersenyum. Kini mobil pun melaju membelah jalanan Kota Balikpapan yang cukup ramai di akhir pekan. Seperti biasanya, Lyra akan menyalakan radio dan mencari siaran yang memutarkan lagu-lagu kesukaannya.

Tak jarang mereka bernyanyi mengikuti iringan lagu tersebut. Sambil sesekali melempar senyuman dan terkadang saling mengganggu satu sama lain dengan mencubit pipi atau hidung, yang membuat mereka tergelak bersama.


☘☘☘


Mobil telah masuk ke area parkir sebuah Mal yang begitu terkenal di Balikpapan. Ya, mereka memutuskan untuk menghabiskan waktu di Mal Plaza Balikpapan, tentu saja tujuan utama Lyra adalah timezone. Dengan semangat Lyra menarik tangan Farel agar segera sampai ke tempat tujuan.

Farel tersenyum bahagia melihat antusias Lyra. Seakan bebannya hilang, kala melihat senyuman manis terbit dari wajah gadis yang kini tak henti-hentinya bersorak ria, saat berhasil mendapatkan boneka yang ia dapat dari mesin capit.

“Rel, gue mau yang itu, dong,” ucap Lyra sambil menunjuk ke arah mesin capit boneka yang ukurannya besar-besar.

“Ck! Masa gini aja, kamu gak bisa?” sahut Farel mengejek Lyra dengan canda.

“Gue cuma bisa yang kecil-kecil doang, ambilin, ya.”

Farel pun dengan percaya diri mengiyakan. Ia menggosokkan kartu persegi agar mesin capit tersebut bisa dimainkan.

“Rel, yang itu, dong. Beruang yang warna ungu,” ucap Lyra memberi arahan.

Netra milik Farel fokus, sesekali ia mengecek letak capit dan boneka dari arah kanan dan kiri kaca. Sedangkan Lyra dengan berbinar menantikan boneka tersebut.

Dan ... hap! Capitnya tepat sasaran membuat Lyra semakin bersemangat. Boneka pun terangkat dan masuk ke dalam kotak agar bisa diambil.

Yey! Makasih, Sayang,” ucap Lyra saat boneka itu sudah berada di tangannya.

Permainan Takdir ✔Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang