“Ra, apa perasaan itu masih ada buat gue?”
Lyra mengembuskan napasnya. “Masih, masih ada perasaan gue buat lo. Tapi gue gak masalah kalo gak terbalaskan,” ucap Lyra.
“Lo mau ‘kan jadi pacar gue?” tanya lelaki itu yang ‘tak lain adalah Farel.
“Jadi pacar lo? Lo ‘kan pacaran sama Bunga, gila!” sahut Lyra ‘tak habis pikir dengan ucapan Farel.
“Gue udah putus sama dia. Dan kalau perasaan dari lo masih ada, gue terima dan lo mau ‘kan jadi pacar gue?” Farel masih berusaha membujuk Lyra.
“Lo jadiin gue pelarian?” diiringi dengan seringai sinisnya.
“Gak, Ra. Lo bukan pelarian gue. Hanya saja, hati gue mau terbuka sama lo.”
Lyra tampak berpikir. Perasannya pada Farel memang masih ada. Senakalnya Lyra, ia ‘tak ingin dicap perebut pacar orang. Namun entah dari mana Lyra dapat melihat ketulusan Farel. Terlebih lelaki di hadapannya kini memohon padanya.
Embusan napas pun terdengar. Lyra menyandarkan punggungnya pada kursi taman yang ada di belakang sekolah. Ia pun mendongak menatap langit yang terlihat bersahabat hari ini.
“Gue emang suka sama lo udah lama, Rel. Saat tau yang sebenernya gue ingin membuang perasaan itu. Tapi sepertinya gue gak bisa lari dari perasaan itu,” ucapnya lirih.
“Gue jamin, lo bukan pelarian atau pun penyebab gue putus dengan Bunga.” Farel meyakinkan Lyra.
“Oke, mungkin ini juga kesempatan buat gue,” jawab Lyra pada akhirnya.
“Rara ... bangun, Nak.”
“Ra ... bangun sayang, nanti kamu telat loh ....”
Bayangan Farel dalam mimpi Lyra perlahan menghilang. Terganti dengan suara khas yang sangat ia kenali. Gadis itu berusaha membuka mata yang terasa begitu berat. Tangannya menghalau cahaya matahari yang menembus dari jendela. Tubuhnya menggeliat dan ia pun menguap.
“Bunda ... ini jam berapa?” tanyanya dengan suara serak.
“Sudah jam 7, Sayang. Dari tadi kamu susah banget Bunda bangunin,” jawab Hana yang tengah memungut baju Lyra dalam keranjang.
Lyra duduk mengumpulkan nyawanya. Ada sesuatu yang ia rasa terlupakan, tetapi belum menyadarinya. Tiba-tiba terdengar bunyi klakson motor dari luar rumah.
“Bun, ini jam 7?” tanya Lyra memastikan sambil merogoh ponselnya.
“Iya mandi cepet sana, itu temen kamu sudah jemput.”
“Astaga!” Lyra terperangah dan menepuk jidatnya, “Bunda kenapa, sih gak bangunin aku. Duh! Farel udah dateng lagi!”
Buru-buru ia masuk ke kamar mandi. Sedangkan Hanna menggeleng heran melihat tingkah putrinya.
“Buj, bilangin ke Farel, deh, suruh pergi deluan aja. Nanti dia ikutan telat lagi,” teriak Lyra dari kamar mandi.
Hanna pun hanya bisa mengembuskan napasnya. “Anak jama sekarang.”
🍃🍃🍃
Di luar gerbang rumah Lyra, Farel masih setia menunggu. Ia melirik jam di pergelangan sudah menunjukkan pukul 07.15, yang artinya lima belas menit lagi bel tanda masuk akan berbunyi.
“Tumben Lyra belum keluar, apa dia sudah berangkat, ya? Tapi telpon aku gak diangkat,” ucap Farel yang tampak kebingungan.
Suara gerbang terbuka terdengar, menampakkan sosok perempuan cantik meski sudah termakan usia. Farel pun dengan sopan menyapanya, karena tahu jika orang yang di hadapannya ini adalah orang tua Lyra.
KAMU SEDANG MEMBACA
Permainan Takdir ✔
Romance[COMPLETED] [OTW REVISI] 'Cinta 'tak pernah salah, keegoisanlah yang membuat cinta itu menjadi salah.' CERITA INI AKAN DIIKUTSERTAKAN DALAM EVENT ONE DAY ONE CHAPTER CHALLANGE BATCH 3 START 25 JUNI - FINISH 25 JULI 2020
