Ujian hanya tinggal menghitung hari. Lyra dan yang lainnya fokus dengan tugas dan materi yang akan menjadi pegangan ketika ujian nanti. Beberapa bulan menjelang ujian setelah kejadian pengakuan Farel, Lyra hanya bisa pasrah jika Farel meninggalkannya ke luar negeri.
Setidaknya Farel pergi untuk menuntut ilmu. Lyra akan bersabar menunggunya. Hatinya sudah bertekad untuk tidak egois lagi.
Saat ini mereka berempat berada di kafe biasa Lyra dan Farel datangi. Ke empat remaja itu baru saja selesai belajar bersama. Hubungan Gavin dan Farel pun berjalan dengan baik. Mereka terlihat akrab sekarang. Tak ada kebencian atau dendam apa pun dari Farel. Sungguh Lyra beruntung menetapkan hatinya pada sosok laki-laki seperti Farel.
“Jadi lo lanjut kuliah di Singapura?” tanya Gavin setelah menyeruput americano coffe favoritnya.
“Yaps, gue titip Lyra, ya. Jagain dia.”
“Ntar kalau gue tikung lagi gimana?”
Dengan refleks Lyra menarik telinga Gavin dengan gemas, membuat sahabatnya itu mengaduh sakit.
“Sakit, Ra!” Sambil menggosok telinganya.
“Lo gila, Vin!” omel Lyra.
“Becanda, Sayang.”
Lyra kembali ingin meraih telinga Gavin. Namun kali ini Gavin sigap menahan tangan Lyra.
“Sangar lo gak berubah, anjir,” keluh Gavin yang masih menahan tangan Lyra.
Lyra tertawa puas melihat raut kesal Gavin yang ‘tak ingin mendapat jeweran maut miliknya.
“Lo ngomong ngasal lagi gue ubek-ubek itu bibir.”
Faras dan Farel hanya menggeleng dan tertawa melihat tingkah keduanya.
“Gak apa kalo lo mau tikung dia lagi. Tapi gue percaya, kok. Lyra gak akan ngelakuin itu lagi,” ucap Farel membuat semuanya menatap lelaki itu.
Lyra yang mendengar pengakuan Farel pun tersenyum tipis. Begitu percayakah Farel pada dirinya yang bahkan sering menyakitinya ini? Lyra benar-benar malu pada hatinya sendiri. Ia terlalu egois, hingga tidak sadar ia hampir melepaskan berlian berharga dalam hidupnya.
“Gue akan jaga dia, tenang ...,” sahut Gavin dengan santai. “Tapi ....”
Ucapan yang menggantung dari Gavin membuat mereka semua penasaran dan memasang raut wajah penuh tanya.
“Kalau gue yang pergi lebih dulu, gimana?” ucapnya.
“Lo mau pergi ke luar negeri juga?” tanya Lyra terdengar kecewa.
Pertanyaannya mewakili Faras dan Farel yang juga penasaran. Mereka saling melempar pandangan dan mengangkat bahu. Gavin yang melihat pun menahan tawanya. Ekspresi teman-temannya terlihat menggemaskan.
“Ciyee, pada gak mau gue tinggal, ya ...,” goda Gavin.
“Gue nanya serius, Vin!” bentak Lyra tiba-tiba membuat semuanya terdiam.
Sorot mata gadis itu menatap Gavin dengan lekat, terdapat guratan kegelisahan pada wajah Lyra. Lyra sendiri entah mengapa ia sedikit sensitif kali ini. Dalam hati ia merasa makna pergi dari ucapan Gavin bukan semata-mata pergi yang akan datang kembali.
Farel yang melihatnya pun menenangkan gadis itu dengan menggenggam tangan Lyra erat. Memberikan senyuman terbaik saat Lyra menoleh padanya.
“Ra ... lo kenapa?” tanya Faras dengan hati-hati.
“Rara ... ck! Iya gue gak akan ninggalin lo, kok. Gue akan jagain lo demi Farel,” ucap Gavin pada akhirnya.
“Bener, ya ... lo gak akan ke mana-mana?” tanya Lyra memastikan.
“Oh, jadi Gavin gak direlakan, aku direlain gitu pergi?” ucap Farel dengan nada merajuk yang di buat-buat.
Lyra yang tersadar dengan apa yang ia lakukan pun menggeleng cepat.
Bodoh! Batin Lyra.
“Eng ... enggak, Rel, bukan gitu ...,” sanggah Lyra dengan sedikit gugup dan bingung.
Farel pun mengusap rambut Lyra dengan gemas. “Iya-iya ... aku tau, kok,” ucanya sambil tersenyum.
🍃🍃🍃
Setelah mereka menghabiskan waktu di kafe tersebut. Keempatnya memutuskan untuk kembali pulang ke rumah masing-masing. Entah kenapa Lyra ingin pulang bersama Gavin. Namun, Gavin melarang gadis itu dengan keras, hingga membuat Lyra merajuk.
“Vin, gue pulang sama lo, ya.”
“Ck! Ngerepotin aja, sih. Pulang sama Farel bisa, ‘kan?” tolak Gavin diiringi candaan.
“Rel, gue pulang sama Gavin, ya,” pinta Lyra pada Farel.
Farel hanya bisa mengembuskan napas. “Iya, deh,” jawabnya.
“Ra! Lo apa-apaan, sih. Plin-plan banget jadi cewek! Lo gak menghargai Farel apa! Ra jangan gila!” tegur Faras memperingatkan.
Lyra tampak bingung ‘tak jelas, entah mengapa ia ingin pulang bersama Gavin.
“Ra, lo pulang sama Farel, ya. Udah malem ini, besok kita masih sekolah. Lo berdua juga searah,” jelas Gavin memberikan pengertian pada Lyra.
Ia pun juga bingung dengan sikap Lyra. Padahal gadis itu sendiri yang ingin memperbaiki semua kesalahan yang pernah dilakukan. Namun apa yang Lyra lakukan sekarang, bahkan di hadapan Farel. Gavin sungguh ‘tak mengerti.
“Ra! Lo kenapa? Lo lupa sama hati lo sendiri?” timpal Faras.
Lyra yang tampak bingung pun menggeleng. Enggak ! Ini salah! Ini salah! Tapi kenapa rasanya akan terjadi sesuatu! Batinnya.
Lyra pun mengembuskan napasnya menenangkan diri. Akhirnya ia memutuskan untuk pulang bersama Farel. Gavin pun tersenyum lembut saat Lyra memasuki mobil.
Di jalan yang begitu senggang karena malam semakin larut. Mobil mereka yang masih di jalan yang searah melaju dengan kecepatan rata-rata. Begitu pun dengan Faras, gadis itu membawa mobil sendiri. Ada kesenangan tersendiri saat mereka saling menyalip di jalanan sepi.
Saat ini mobil Gavin berada di depan mobil Farel, dan saat tiba di persimpangan mereka akan berpisah. Namun saat mobil Farel berbelok ke arah kiri dan mobil Gavin ke arah kanan, entah truk dari mana tiba-tiba menghantam mobil yang Gavin kendarai.
Suara benturan keras pun terdengar membuat Farel mengerem mendadak. Begitu pun dengan Faras yang serah dengan mereka.
“Astaga! Gavin, Rel. Itu mobil Gavin!” panik Lyra yang langsung keluar dari mobil.
Tepat di dekat persimpangan yang baru saja mereka lewati tadi, dari jarak yang belum terlampau jauh, terlihat sebuah mobil yang terbalik dan berasap.
“Gavin!” teriak Lyra histeris. Sedangkan Faras menutup mulutnya karena terkejut.
Tanpa menghiraukan sekitar Lyra berlari ke arah mobil tersebut, ‘tak banyak orang yang menyaksikan karena sudah larut dan jalanan lumayan sepi. Tanpa aba-aba cairan bening pun tumpah begitu saja membasahi wajah putihnya.
Namun baru beberapa langkah ia pun terhenti kala suara ledakan terdengar, bola matanya terbelalak dan ... Bom! Lyra menyaksikan sendiri ledakan itu berasal dari mobil yang Gavin kendarai.
Tulang sendi kakinya terasa ingin lepas. Jantungnya bergetar hebat, napasnya begitu cekat. Gadis itu pun terduduk di atas aspal, di tengah jalanan sepi. Tangisnya yang tertahan begitu terdengar pilu.
Farel dan Faras pun sama terkejutnya. Mereka menghampiri Lyra yang terduduk di tengah jalan.
“Gavin,” ucap Lyra pelan karena terasa susah untuk berteriak. Gadis itu terisak.
Farel dan Faras membantu Lyra berdiri. Dengan lembut Farel memeluk tubuh Lyra yang tampak begitu lemah ‘tak berdaya. Faras hanya bisa mengusap punggung Lyra sambil sesekali mengusap air matanya.
Beberapa warga yang menyaksikan sudah ada yang memanggil pemadam kebakaran. Tak lama suara sirene pemadam kebakaran terdengar diiringi mobil polisi. Mereka mengevakuasi tempat kejadian tersebut.
Terlambat, semua sudah benar-benar berakhir. Lyra ‘tak menyangka akan menyaksikan secara langsung kejadian ini. Memorinya kembali berputar dengan kejadian beberapa waktu lalu saat masih di kafe.
“Rel, Gavin beneran pergi?” tanyanya yang masih tersedu-sedu.
Farel ‘tak sanggup menjawab, ia memeluk tubuh Lyra erat. Hanya itu yang bisa ia lakukan sekarang.
🦋🦋🦋
Salam manis,
Mey :*
ODOC Challange Batch 3 Day 16
Balikpapan, 10 Juli 2020
KAMU SEDANG MEMBACA
Permainan Takdir ✔
Romansa[COMPLETED] [OTW REVISI] 'Cinta 'tak pernah salah, keegoisanlah yang membuat cinta itu menjadi salah.' CERITA INI AKAN DIIKUTSERTAKAN DALAM EVENT ONE DAY ONE CHAPTER CHALLANGE BATCH 3 START 25 JUNI - FINISH 25 JULI 2020
