|Chapter 19|

52 4 0
                                        

Di hari terakhir semuanya berjalan dengan sangat lancar. Terlihat jelas raut kepuasan dan kelegaan dari setiap murid SMA PATRA DHARMA. Bagi sorang murid SMA terutama yang sudah kelas 3, Ujian Nasional adalah momok penentu masa depan mereka. Masing-masing murid pastinya sudah mempunyai rencana akan ke mana mereka nanti. Begitu pun dengan Faras, Lyra dan Farel.

Kini mereka berada di kantin sekolah setelah selesai melaksanakan ujian. Namun hanya berdua, karena Farel sedang bersama teman-temannya di meja lain.

“Tinggal penentuan aja lulus apa enggaknya,” ucap Faras ketika mereka duduk si salah satu meja.

“Harus yakin kita lulus,” sahut Lyra.

“Pastinya, dong. Btw, gue sepertinya akan lanjut kuliah, tapi gak di sini,” ucap Faras dengan lesu.

Lyra pun menunjukkan ekspresi penuh tanya.

“Gue ikut Daddy ke Australia, dan bakalan tinggalin kota ini.”

Namun gadis itu tampak sedih membuat Lyra teringat dengan ucapan sang bunda. Lyra pun mengembuskan napasnya.

“Gak cuma lo aja, gue juga akan ninggalin kota ini nanti.”

Faras tampak terkejut. “Really?”

Lyra mengangguk mantap. “Ayah dapat mutasi ke luar kota,” sahut Lyra terlihat tidak bersemangat. Faras hanya bisa mengembuskan napasnya.

Tak ada lagi percakapan setelahnya. Mereka sama-sama sibuk dengan pikiran masing-masing. Pada akhirnya di mana ada pertemuan pasti akan ada perpisahan.

“Pada akhirnya kita semua berpisah,” ucap Lyra tiba-tiba.

“Gue gak tau apa di sana nanti akan ada temen kayak lo.”

Faras pun tersenyum, “Kita masih komunikasi, ‘kan?” sahutnya.

Tak lama Farel pun datang menghampiri meja mereka dan duduk tepat di samping Lyra. Laki-laki itu tersenyum manis.

“Gimana ujiannya lancar?” tanya Farel.

Kedua gadis itu tersenyum dan mengangguk. “Lo sendiri gimana?” tanya Faras.

“Aman,” jawab Farel dengan mantap.

“Oh, ya. Ada yang mau ngomong sama kamu, Ra.”

Ucapan Farel membuat Lyra bingung. Belum sempat bertanya tiba-tiba datang kedua teman Farel, yaitu Reno dan Dafa. Kedua laki-laki itu ikut bergabung. Lyra dan Faras kompak mengerutkan kening mereka. Lyra menatap Farel dengan penuh tanda tanya. Farel pun tersenyum dan mengusap rambut Lyra dengan lembut.

“Mereka mau ngomong sama kamu.”

“Memangnya mau ngomong apaan?”

Farel memberi kode pada kedua temannya.

“Ekhem, gue mau minta maaf, Ra, sama lo,” ungkap Reno dengan sedikit gugup.

Sebelum menjawab Lyra mengembuskan napasnya. Lyra paham dengan maksud teman-teman Farel. Ia ‘tak mau ambil pusing, lagi pula mereka semua sebentar lagi akan berpisah. Lebih baik jangan menyisakan dendam di antaranya, ‘kan?

“Udah gue maafin, kok,” jawab Lyra sambil tersenyum.

Dafa dan Reno saling beradu pandang. “Makasih, ya, Ra. Gue harap gak ada dendam atau sakit hati di antara kita.”

“Gue, sih, masa bodo, ya. Tapi gue emang gak pernah benci kalian, kok.”

Lyra tersenyum pada kedua teman Farel. Ada perasaan lega tersendiri yang gadis itu rasakan. Farel pun juga ikut tersenyum. Kini mereka sama-sama menghabiskan waktu di kantin sekolah.

Permainan Takdir ✔Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang