|Chapter 4|

44 7 0
                                        

Malam harinya, Lyra sedang berkutat dengan buku-buku pelajarannya di kamar. Lembar demi lembaran ia baca kemudian ditulis di buku lain. Beruntungnya ia dibekali otak yang cukup cerdas, meski tak secerdas Farel. Jadi mudah bagi Lyra memahami setiap soal yang dia baca.

Ketukan pintu terdengar diikuti suara decitan pintu terbuka, membuat Lyra mengalihkan pandangannya. Berdirilah sosok laki-laki paruh baya tepat di depan pintu.

“Masih belajar?” tanya Yusuf sambil berjalan masuk menghampiri Lyra di meja belajar.

“Masih, Yah.”

Seakan Lyra tahu tujuan Yusuf datang ke kamarnya, ia pun mengambil lembaran putih dari dalam tas dan memberikannya pada Yusuf. Yusuf pun tersenyum tanpa arti mengambil lembaran itu.

Lyra memainkan pulpennya, pandangannya menyusuri tiap sudut kamar. Telinganya sudah siap mendengar ucapan apa pun yang akan keluar dari mulut Yusuf.

“Apa-apaan ini? Kenapa hanya 8?” tanya Yusuf dengan raut tak suka.

“Lyra hanya bisa segitu, Ayah.”

“Seharusnya kamu bisa dapat nilai sempurna, anak Ayah ‘kan pintar. Kamu sudah Ayah ikutkan kursus di sana sini. Masa dapat nilai sempurna aja gak bisa.”

Batin Lyra meringis. Ingin membantah percuma, akan tetap salah di mata sang ayah. Gadis itu pun menghirup udara sebanyak mungkin, kemudian mengembuskannya perlahan. Hal itu cukup menahan emosinya.

“Lyra hanya sanggup segini, Yah. Ini juga sudah lumayan, ‘kan?”

Sebisa mungkin Lyra bersikap tenang.

“Oke, kali ini Ayah terima alasan kamu, ke depannya Ayah mau lihat nilai kamu sempurna.”

Yusuf pun meletakkan lembaran kertas tersebut di atas meja belajar Lyra. Kemudian melangkah keluar kamar meninggalkan Lyra yang menatap punggung Yusuf dengan miris. Embusan napas pun kembali terdengar.

“Ayah kenapa, sih? Lyra bukan manusia sempurna yang bisa melakukan semuanya dengan sempurna. Kenapa Ayah gak pernah sekali pun menghargai hasil kerja keras Lyra? Yang Ayah tau hanya nilai sempurna!” kesal Lyra kemudian mencoret-coret kertas yang ada di atas meja dengan pulpen.

Rasa jenuh pun menghampiri. Lyra meletakkan pulpennya dengan kasar dan segera mengambil ponselnya, mencari nomor telepon Farel. Iya pun kini berpindah tempat ke atas tempat tidur. Mengambil boneka beruang dan memeluknya.

Namun ingatan siang tadi kembali melintas, di mana Gavin memeluknya dengan erat. Pelukan kerinduan yang terasa menyakitkan bagi Lyra. Dengan segera Lyra menampik bayangan itu. Ia kembali fokus dan segera menghubungi Farel.

“Hai,” sapa Lyra ketika Farel sudah mengangkat sambungan teleponnya.

“Hai, tumben nelpon deluan? Kangen, ya?” goda Farel membuat Lyra sedikit mengerutkan kening.

“Gak, sih. Biasa aja,” kilah Lyra kemudian tersenyum.

“Pulang sekolah tadi langsung pulang, ‘kan?”

Pertanyaan Farel membuat Lyra tersentak. Dengan terpaksa Lyra berkata, “Iya, kok, gue langsung pulang ke rumah.”

Bohong lagi, batin Lyra.

“Baguslah kalau begitu. Oh, ya. Besok minggu mau gak kita jalan?” ajak Farel dengan semangat.

“Ayok, sudah lama ‘kan gak jalan bareng.” Lyra menyetujui dengan senyuman yang mengembang.

Mereka melanjutkan obrolan malam yang memang sering dilakukan. Terkadang Farel melontarkan gurauan atau gombalan yang membuat Lyra tertawa lepas atau merona karena malu.

“Sayang, kamu tau gak ka—”

“Enggak ....”

“Belum, Sayang.”

Lyra pun tertawa kecil, ia sudah membayangkan wajah kesal Farel.

“Kamu itu bagai nikotin yang membuatku candu, iya ... candu mencintaimu.”

Lyra tertawa lepas mendengar gombalan Farel yang terdengar receh.

“Kenapa malah ketawa?”

Lyra pun menahan tawanya, ia sangat yakin jika Farel melihat secara langsung bagaimana Lyra menertawakannya, sudah dipastikan Farel akan mencubit hidung gadis itu dengan gemas.

“Gak, gak apa.” Masih dengan menahan senyuman.

“Tidur gih, dah malem, jangan begadang. Gak baik untuk kesehatan.” Farel memperingati.

Lyra melirik jam dinding yang memang sudah menunjukkan angka sepuluh malam. Mengobrol dengan Farel melalui telepon memang sering membuatnya lupa waktu. Padahal mereka setiap hari bertemu di sekolah. Lyra pun tersenyum.

“Baiklah, tidur yang nyenyak. Jaga kesehatan juga, bye.”

“Bye, Honey!”

Sambungan telepon pun berakhir setelah keduanya saling menodong untuk mematikan telepon lebih dulu. Embusan napas pun keluar, Lyra melentangkan tubuhnya menatap langit-langit kamar. Sejenak bebannya terasa ringan, meski bayangan Gavin akhir-akhir ini sering melintas di kepala.

☘☘☘

“Kapan kamu akan berhenti bekerja?”

“Aku gak bisa, Mas. Ini duniaku, harapan dan impianku!”

Suara pertengkaran dari dua manusia yang membuat Farel tersentak setelah meletakkan ponselnya di atas nakas. Ia terpejam, baru saja merasa lupa dengan apa yang di hadapi. Namun kini kembali membuat batin Farel meringis.

“Mau sampai kapan Mami sama Papi seperti ini?” keluhnya sendiri mendongak menatap langit-langit kamar dengan wajah frustasi.

Farel tahu orang tuanya baru saja pulang dari dunianya masing-masing. Padahal sudah selarut ini, tetapi pertengkaran kecil sering terjadi. Rasanya ia benar-benar muak berada di rumah besar dan mewah, tetapi selalu merasa hampa.

Farel pun bangkit, melangkah keluar kamar dan mendapati kedua orang tuanya saling beradu pandang dengan raut yang susah dibaca.

“Sampai kapan Mami sama Papi seperti ini?” ucap Farel memberanikan diri.

“Nak, kenapa kamu belum tidur?” tanya Melinda—ibu Farel—dengan lembut.

“Gimana Farel bisa tidur, kalau jam segini saja kalian masih bisa bertengkar.”

Keduanya pun terdiam.

“Mi, Pi, Farel capek tiap hari kayak gini di rumah. Kalian dikit-dikit berantem. Gak ada yang bisa ngertiin perasaan Farel.”

“Nak, Mami kerja buat kamu juga, ‘kan?” bujuk Melinda.

“Farel, Papi ngerti perasaan kamu, tapi Mami kamu yang gak ngerti gimana maunya Papi,” ucap Angkasa—ayah Farel—sambil menatap Melinda sinis.

“Loh, kok kamu nyalahin aku, Mas! Kamu ‘kan tau sendiri kenapa aku gak bisa meninggalkan ini semua.

“Ya tapi ‘kan kamu itu seorang istri. Memangnya aku tidak cukup menafkahimu? Memangnya ak—”

“Cukup!” teriak Rafel pada akhirnya. Membuat keduanya bergeming.

“Kalian sama-sama egois!” ucapnya kemudian meninggalkan Angkasa dan Melinda.

Melinda mencoba membujuk putranya, tetapi Farel sudah terlalu bosan dan muak. Hingga dirinya tak memedulikan panggilan Melinda dan lebih memilih memasuki kamar dengan membanting pintu.

Farel mengerang frustasi. “Apa artinya kalian di rumah ini kalau hanya untuk beradu mulut!” kesalnya.

Farel pun mengempaskan tubuhnya di tempat tidur. Matanya tertuju pada bingkai foto Lyra yang tersenyum. Bagai magnet yang membuatnya ikut tersenyum.

“Sepertinya cuma kamu yang bisa membuatku nyaman berada di dunia ini.”














🦋🦋🦋
Salam manis,
Mey :*
ODOC Challange Batch 3 Day 4
Balikpapan, 28 Juni 2020

Permainan Takdir ✔Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang