Malam hari Lyra mendapat telepon dari Gavin. Gadis itu mencoba berdamai pada keadaan, hati dan juga pikirannya. Semakin menjauh dan acuh, semakin sakit rasanya jika teringat kembali. Sebisa mungkin ia bersikap layaknya teman lama.
“Ra, lo beneran gak mau balik lagi sama gue?” tanya Gavin disela obrolan mereka.
“Kayaknya lo gak bakalan nyerah mau bahas ini, ya. Inget, gue sudah punya Farel,” jelas Lyra.
“Gue gak apa, kok jadi yang kedua lagi. Yang penting gue bisa sama lo.”
Embusan napas keluar dari mulut Lyra. Sungguh Gavin terlalu konyol. Namun, entah apa yang merasuki Lyra. Gadis itu mengiyakan keinginan Gavin.
“Ok. Lo boleh ngelakuin sesuka lo.”
Tiba-tiba jantung Lyra berdegup kencang. Bukan karena kasmaran. Namun getaran yang ia rasakan adalah rasa sakit bagai di tusuk belati. Dengan sadar Lyra melakukan kesalahan itu lagi. Pikirannya jauh meraih Farel. Membayangkan wajah kecewa laki-laki itu saja membuatnya teriris.
Ada apa dengan hati Lyra yang tidak konsisten? Meski ia sadar itu adalah kesalahan. Namun ia melakukannya dengan mudah, tanpa mau berpikir panjang.
Apa yang gue lakukan? Batin Lyra meringis.
“Oke, sekarang lo pacar gue!” ucap Gavin dengan semangat.
“Tapi, Vin ....”
Terdengar embusan napas dari Gavin. “Gue tau, gue cuma mau bahagia sama lo, Ra.”
Lyra hanya berpikir kenapa ada orang seperti Gavin yang mau saja diperlakukan seperti ini. Dengan bodohnya, ia sudah jelas tahu Lyra mempunyai pacar yang sangat ia cintai meski terkadang hati sering goyah. Apa di dunia ini hanya Lyra? Sesetia itukah Gavin padanya? Lalu bagaimana dengan Farel yang juga selama ini selalu menghiasi masa puti abu-abu Lyra?
Lyra terjerat pada dua hati yang sebenarnya tulus. Namun kesalahan ada pada diri Lyra yang ‘tak bisa memantapkannya hatinya sendiri. Terlalu egois bukan?
“Oke.”
Hanya itu yang bisa Lyra jawab. Setelahnya mereka melanjutkan obrolan kembali. Namun pembahasan mereka tak selepas sebelumnya. Sejoli yang saling menyakitkan itu mendadak gugup serta canggung dan tak tahu lagi harus membahas apa. Deheman pun Gavin lontarkan.
“Yaudah, Ra. Kalau gitu lo tidur, ya. Udah malem.” Terdengar cukup canggung.
Lyra pun mengembuskan napasnya. “Good nite, Vin.”
Mereka pun mengakhiri panggilan telepon tersebut. Lyra mengusap wajahnya dengan kasar.
“Sudahlah, kalau pun nanti Farel tau, gue siap kok terima apa keputusan dia.”
Entah dari mana pikiran seperti itu datang. Lyra kembali melentangkan tubuhnya menatap langit-langit kamar setelah menaruh ponsel di atas nakas. Kantuk mulai menghampiri, ia pun terpejam. Namun baru saja beberapa detik, suara lagu dari ponselnya yang nyaring membangunkannya kembali.
“Astaga. Lupa gue silent.”
Lyra pun meraihnya. Nama yang tertera di layar tipis tersebut membuatnya tersenyum. Segera ia mengangkatnya dan mengubah posisinya sambil memeluk guling.
“Halo, Rel.”
“Tadi nomer kamu sibuk, lagi teleponan sama siapa?” tanya Farel yang terdengar khawatir.
Lyra pun menepuk jidatnya. Ia lupa jika setiap malam Farel pasti akan menghubunginya. Karena kebetulan ia dan Gavin sudah bertukar nomer. Gadis itu pun juga tak menyangka jika Gavin menghubunginya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Permainan Takdir ✔
Romance[COMPLETED] [OTW REVISI] 'Cinta 'tak pernah salah, keegoisanlah yang membuat cinta itu menjadi salah.' CERITA INI AKAN DIIKUTSERTAKAN DALAM EVENT ONE DAY ONE CHAPTER CHALLANGE BATCH 3 START 25 JUNI - FINISH 25 JULI 2020
