Hari ujian yang sudah ditunggu dengan perasaan deg-degan pun sedang terlaksana. Semua murid SMA PATRA DHARMA melaksanakannya dengan tertib. Lyra merasa bersyukur setidaknya ia sangat yakin dengan apa yang ia jawab di lembar soal hari ini.
Namun selama ujian berlangsung, Lyra dan Farel jarang menghabiskan waktu untuk hal-hal di luar fokus belajar. Sekadar bertemu hanya saat di sekolah. Itu pun mereka habiskan waktu dengan belajar di perpustakaan. Saat di rumah keduanya juga jarang berkomunikasi melalui telepon seperti biasanya.
Kini Lyra yang sedang membaca buku pelajaran di dalam kamar, tiba-tiba ketukan pintu mengalihkan konsentrasinya. Ia sangat tahu siapa yang mengetuk pintu tersebut. Tak lama pintu pun terbuka, menampakkan sosok wanita yang begitu cantik meski sudah termakan usia. Wanita itu tersenyum khas pada Lyra. Hal itu membuatnya mengembuskan napas lega.
“Lagi belajar, ya?” tanya Hanna yang kini melangkah menghampiri Lyra di meja belajar.
“Iya, Bun, kenapa?”
“Gak apa, Bunda hanya bangga padamu, Nak. Gak kerasa aja anak Bunda sudah mau lulus sekolah tingkat SMA,” ujar Hanna lembut.
Wanita itu berdiri sambil membelai rambut Lyra, kemudian ia pun duduk di kursi sebelah Lyra.
“Ada yang mau Bunda kasih tau ke kamu, Nak,” kata Hanna lagi.
Lyra memfokuskan pada pembicaraan Hanna saat ini. Wajahnya pun menampakkan raut penasaran.
“Ayah kamu akan di mutasi keluar kota. Jadi mungkin kamu gak akan bisa kuliah di sini,” jelas Hanna.
Lyra cukup terkejut, tetapi ia mencoba untuk bersikap biasa saja. Gadis utu mengembuskan napasnya.
“Memangnya akan pindah ke mana?” tanya Lyra yang mulai ‘tak berminat dengan pembahasan sekarang.
“Ke Bandar Lampung, Ayah dapat jadwal mutasi di sana selama kurang lebih lima tahun. Jadi kemungkinan kamu akan kuliah di sana juga.”
“Terserahlah, Bun. Lyra nolak juga gak akan berpengaruh, ‘kan? Lyra akan nurut dengan ala yang Ayah dan Bunda mau, kok. Kalau memang kita gak bisa tinggal di sini lagi, gak apa,” ucap Lyra cuek.
Dalam hati sebenarnya ia tidak ingin meninggalkan kota ini. Sungguh, terlalu banyak kenangan masa remajanya di sini. Kalau pun membantah, Lyra sangat tahu bagaimana watak sang ayah. Gadis itu malas berdebat, memilih untuk menurut, toh selama ini dirinya tenang-tenang saja meski terkadang batinnya cukup terus meronta untuk melawan.
Hanna yang mendengar komentar Lyra hanya bisa mengembuskan napas. “Maafkan Bunda ya, Nak,” ucapnya lembut.
“Maafkan ayahmu juga, mengertilah selama ini ayahmu hanya ingin yang terbak,” lanjutnya lagi.
“Dengan terus menuntut Lyra melakukan sesempurna mungkin?”
Hanna terdiam mendengar penuturan dari putrinya tersebut. Namun, ia tidak bisa melakukan apa-apa karena semua itu demi masa depan dan kebaikan putri satu-satu mereka. Mungkin terdengar egois.
“Bukan begitu, Sayang, tapi—”
“Lyra gak masalah, kok, Bun. Hanya saja, andai Ayah lebih bisa menghargai usaha Lyra. Itu sudah cukup, tetapi selama ini justru ....” Lyra ‘tak sanggup melanjutkan kata-katanya. Ia terdiam, menopang dagu pada lengan yang terlipat di atas meja.
Hanna memeluk putri kesayangannya. Mengusap rambut anak itu dengan sayang.
“Bun, Lyra mau lanjut belajar, ya. Besok terakhir ujian. Doain Lyra semoga semuanya lancar,” ucap Lyra yang melonggarkan pelukan mereka.
KAMU SEDANG MEMBACA
Permainan Takdir ✔
Romance[COMPLETED] [OTW REVISI] 'Cinta 'tak pernah salah, keegoisanlah yang membuat cinta itu menjadi salah.' CERITA INI AKAN DIIKUTSERTAKAN DALAM EVENT ONE DAY ONE CHAPTER CHALLANGE BATCH 3 START 25 JUNI - FINISH 25 JULI 2020
