|Chapter 14|

31 4 0
                                        

Di sekolah Faras tampak mondar-mandir di depan kelas menunggu Lyra. Gadis itu sesekali menggigit jarinya gelisah, karena ‘tak biasanya sahabatnya itu terlambat. Gavin yang baru saja datang menghampiri Faras.

“Nunggu Lyra, ya?” tebak Gavin.

“Nunggu siapa lagi selain dia. Ada yang mau gue tanyain, tapi tumben ini anak belum datang. Dia ‘kan sama Farel mana pernah telat.”

“Macet kali mereka di jalan.”

“Ini udah mau masuk kelas loh lima menit lagi.”

Gavin pun mengembuskan napas. “Coba, deh di telpon dulu,” sarannya.

“Astaga! Iya-ya,” ucap Lyra menepuk keningnya. Ia pun mengambil ponsel dan segera menghubungi Lyra.

Beberapa kali panggilan ‘tak ada satu pun yang dijawab. Membuat Faras bingung karena ‘tak biasanya Lyra seperti ini. Ia pun beralih menelepon Farel. Sama, tidak mendapat jawaban apa pun.

“Ke mana anak dua ini,” keluhnya dengan gelisah. “Apa mereka bolos?” pikirnya lagi.

“Bisa jadi,” sahut Gavin dengan santai.

Faras hendak menuju kelas Farel. Namun bel masuk sudah berbunyi. Gadis itu pun mengurungkan niatnya. Karena Gavin juga sudah menariknya ke dalam kelas.

Lo ke mana, Ra? Apa lo lagi nikmatin waktu berdua dengan Farel? Batin Gavin. Embusan napas pun keluar dari mulutnya.

Pelajaran pun dimulai ketika guru masuk kelas. Faras hanya bisa mengembuskan napas pasrahnya.


🍃🍃🍃


“Rel, Faras telponin gue beberapa kali, ini batu dicek.”

“Hm, sama, nih. Dia telponin aku juga.”

Mereka pun sama-sama tergelak. Di sinilah, di tempat yang sejuk dan tenang. Sebuah tempat yang cukup jauh dari pinggiran kota. Tempat ini seperti puncak, tetapi ‘tak ada vila mewah, hanya beberapa pedagang kecil yang berjualan berbaris dengan tenda seadanya.

Dari ketinggian di sini kita dapat melihat laut dan seperempat bagian kota Balikpapan. Bahkan suara kapal bersandar pun lumayan terdengar. Farel dan Lyra duduk di salah satu rumah pohon yang memang disediakan. Terasa lepas dan bebas. Ketenangan yang membuat hati nyaman dan tenteram.

“Ah, iya ... tempat ini udah lama banget, ya, gak ke sini,” ucap Lyra yang kini matanya sudah mengitari sekeliling.

“Kamu ingat ‘kan? Ini tempat pertama kali kita kencan. Sederhana, aku pikir kamu gak akan suka,” sahut Farel dengan tatapan jauh memandang.

Lyra pun tersenyum, kembali membayangkan saat pertama Farel membawanya ke tempat ini. Saat itu malam hari, tempat ini begitu indah dan terlihat romantis. Meski sederhana karena hanya di hiasi lampu-lampu dan itu Lyra menyukainya.

“Suka, kok. Tempat ini bagus saat malam hari. Dan, ya ... saat siang seperti ini lebih jelas pemandangannya. Gue suka.”

Mereka pun saling menatap dan tersenyum.

“Ra, maafkan aku, ya. Aku tau apa yang kamu lakukan di belakang aku.”

Deg!

Jantung Lyra seakan ingin lepas dari tempatnya. What! Farel tau apa yang gue lakukan? Batinnya mulainya gelisah.

Farel pun kembali menatap jauh pemandangan kota dan laut. Terlihat jelas tatapannya menunjukkan rasa kecewa. Lyra gugup, ia pun meremas rok sekolahnya. Telapak tangannya pun berkeringat. Hal yang mungkin akan terjadi dan di saat seperti ini.

“Aku hanya menduga, dari kedekatan kamu dan Gavin. Tapi mungkin hanya perasaanku saja yang salah. Mungkin aku memang terlihat biasa saja, cuek, atau apa pun itu. Karena aku percaya padamu Lyra. Selama ini aku berusaha mencari di mana letak kekurangan dan kesalahanku, sampai kamu begitu sama aku. Aku sadar, mungkin dari sikap teman-teman aku yang gak pernah suka sama kamu.”

Embusan napas pun terdengar di sela-sela ucapan Farel.

Plese, Ra. Kasih tau aku di mana salahnya? Apa karena kamu masih berpikir aku jadikan pelarian? Lantas selama setahun ini apa? Ra ... aku sayang sama kamu, seburuk apa pun kamu aku tetap percaya kalau hati kamu cuma buat aku. Terdengar percaya diri, ya? Tapi entahlah ....”

Farel menunduk menatap kakinya yang tengah menggantung di udara. Sedangkan Lyra, gadis itu terpaku, dengan susah payah ia menelan ludahnya sendiri. Sadar kesalahan yang ia lakukan. Namun ternyata siapa yang mengira Farel akan berkata seperti itu. Apa yang membuat Farel seperti ini padanya. Tidak dipungkiri kata-kata Farel bisa menyentuh hatinya.

Seharusnya lo marah, Rel. Seharusnya lo benci gue, seharusnya lo gak peduli sama gue! Batin Lyra menjerit.

Kini mata Lyra berkaca-kaca menahan bendungan yang sedang tertampung di pelupuk. Ia ‘tak tahu harus mengatakan apa. Hatinya hanya berharap semua akan berakhir. Ya, Lyra sendirilah yang harus bisa mengakhiri semuanya.

“Maaf.” Hanya kata itu yang bisa Lyra ucapkan.

Farel menoleh dan memberikan senyuman tulus pada Lyra. Ia meraih wajah Lyra dan mengusapnya lembut. Lyra pun menggenggam tangan tersebut dengan erat sambil terpejam. Merasakan sentuhan lembut tetapi terasa menyakitkan baginya karena perasaan bersalah yang ia lakukan.


🍃🍃🍃


“Vin, gimana, dong ini buku Lyra dititipkan ke gue. Gue yakin mereka pasti bolos,” ucap Faras yang kini sedang makan di kantin dengan Gavin.

“Yaudah besok aja. Lo mau orang tuanya nanyain kenapa lo antar buku anaknya padahal sama-sama sekolah. Lo mau bilang kalau Lyra bolos?”

“Ya gak gitu. Gue tau orang tua Lyra. Mereka bakal ngamuk apa lagi bokapnya.”

“Yaudah, kalau gitu besok aja.”

Mereka pun melanjutkan kembali kegiatan makannya. Tiba-tiba Faras teringat sesuatu yang sebenarnya ingin ia katakan pada Lyra. Namun karena orang yang ada di hadapannya ini juga termasuk, Faras pun berpikir untuk menanyakan pada Gavin lebih dulu.

Gadis itu menarik napas dalam dan mengembuskannya perlahan sebelum benar-benar melontarkan pertanyaan.

“Vin.”

“Hem?”

“Lo sama Lyra bukan hanya sekedar teman lama doang, ‘kan?”

Gerakan menyuap Gavin pun terhenti kala mendengar pertanyaan dari Faras. Ia pun meletakkan kembali sendoknya. Lelaki itu berpikir sejenak untuk menjawab pertanyaan Faras.

“Sepertinya lo udah dapat jawabannya sendiri.”

Faras pun menatap lekat lelaki yang kini juga menatapnya. Ia pun mengembuskan napasnya.

“Bisa gak lo akhiri semuanya? Vin, cinta itu gak harus memiliki, lo masih bisa jadi temen dia aja seharusnya lo bahagia. Cinta itu gak bisa dipaksakan, Vin. Hubungan kalian ini tuh salah,” tutur Faras dengan lembut.

Gavin terpaku, memang benar apa yang dikatakan Faras. Namun hatinya entah mengapa masih terjerat pada Lyra.

“Lo emang bener, Ras. Cinta itu gak bisa dipaksain. Hati pun demikian.”

Kali ini Faras yang terpaku. Ia dapat melihat jelas perasaan Gavin terhadap Lyra. Namun, sebagai sahabat yang peduli, ia ‘tak ingin melihat sahabat-sahabatnya hancur karena cinta yang salah ini. Mereka masih sekolah, perjalanan masih panjang dan juga jodoh itu di tangan Tuhan.

“Tapi, gue juga berpikir untuk mengakhiri semuanya, kok,” ucap Gavin lagi.

Faras hanya tersenyum kecil. Ia sangat tahu ‘tak mudah membuang perasaan yang begitu dalam pada seseorang begitu saja.

“Gue tau lo bisa, Vin.”









🦋🦋🦋
Salam manis,
Mey :*
ODOC Challange Batch 3 Day 14
Balikpapan, 8 Juli 2020

Permainan Takdir ✔Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang