Elnino akhirnya terbangun. Tapi rasa pusing itu tiba tiba menyerangnya kembali.
Samar samar dia mendengar perbincangan dua orang lainnya di ruangan itu. Yang satunya dia yakin itu Jenat.
"Dok... ini kakak saya udah mulai gerak" Katanya dengan bahasa Korea yang lancar.
Nino merasakan ada yang menusuk kulitnya dan dia tidak sadarkan diri lagi.
Sudah tiga hari dia sampai di Seoul dan langsung jatuh pingsan. Untungnya Nino sempat menghubungi Sean dan meminta pria itu menjemputnya sehingga ketika Nino pingsan, Sean memang sedang dalam perjalanan menjemputnya.
"Elo udah hubungin keluarga yang di Jakarta?" Tanya Sean yang membuat Jenat diam.
"Gue tau berat. Tapi gue yakin mereka nyariin kalian" Tambah Sean lagi.
Mereka terdiam cukup lama.
"Seee.. pinjem hp lo" Tentu saja Sean dan Jenat kaget karena tiba tiba Nino bersuara setelab 3 hari tak sadarkan diri.
"Astaga elo udah sadar No?"
"Bang??? Aku panggil dokter dulu"
"See hp"
Seab dengan bingung tapi tetap menyerahkan handphonenya. Dia memperhatikan Nino yang sepertinya mengirimkan sesuatu.
Ketika dokter datang dan memeriksa Nino, Sean melihat apa yang dikirim Nino. Dia tersenyum. Pesan untuk kakaknya.
Siapapun yang sudah mengenal Nino akan tau. Apa yang terjadi pada dirinya hanya boleh dia yang menceritakan. Sekalipun orang yang bersangkutan adalah kakak sendiri. Seperti posisi Sean sekarang. Dia dengan pasti tau jika kakaknya akan banyak pikiran aneh saat ini. Tapi dia tetap tidak bisa mengatakan apapun. Hanya bisa bilang jika Nino ada bersama dengan dirinya sekarang.
Sean tidak langsung bisa akrab tentu saja dengan Nino perlu waktu satu tahun sampai dia bisa dekat sampai titik sekarang, mereka cukup dekat untuk saling berbagi rasa sakit antara sesama pria. Bagi Sean, Nino adalah salah satu penyelamat hidupnya disaat dia benar benar terpuruk. Dan itu yang membuatnya yakin, Nino bukan orang yang brengsek apalagi akan tega menyakiti kakaknya tanpa alasan.
"Abang makan ya aku suapin" Ucap Jenat pada Nino yang sedari tadi hanya diam sambil memegang erat tangan Jenat.
"Perut abang masih mual" Jawab Nino.
"Gapapa kalau nanti dikeluarin lagi. Yang penting ada yang masuk perut. Lagian masa kata dokter abang bisa pingsan lama gini gara-gara kurang cairan dan perut kosong, kan malu maluin." Kata Jean diiringi candaan yang membuat Nino tersenyum.
Dan Nino hanya bisa menurut walaupun akhirnya memuntahkan kembali apa yang dimakannya.
Nino memang jarang sakit, tapi sekalinya sakit pemulihannya memang akan memakan waktu yang cukup lama.
Ini sudah hari ke tujuh Nino di rumah sakit. Dia sudah bisa bicara banyak dan makan dengan baik.
"Bang... ada yang mau ketemu" Ucap Jenat ketika sudah duduk disamping Nino. Nino melihat ke arah Jenat, dia tau siapa yang Jenat maksud.
"Bang... dengerin aku. Aku udah ngobrol sama daddy dan aku rasa, abang perlu dengerin penjelasan daddy."
"I don't have a daddy, J. We don't have one" Nino masih emosi.
"Bang, aku cuma gamau abang menyesal kaya apa yang daddy rasain sekarang. Aku tau abang sayang banget sama daddy, He's always be your super hero. Kalau aku ga ada daddy masih ada bang yang jadi sosok itu untuk aku bahkan lebih. Tapi aku tau sosok itu buat abang cuma daddy. Jadi please abang ngobrol ya. Aku tinggal sebentar"
KAMU SEDANG MEMBACA
KUTUB
RomanceNamanya KUTUB ada dua, selatan dan utara. Satu di atas satu di bawah Satu ke kanan satu ke kiri Gaakan sama Tapi emang takdirnya sepasang mau diapain lagi?
