01.

260 23 7
                                    

Arjuna P.O.V

Kali pertama Arjuna mengenal Vale, Vale baru pindah ke rumah kosong di sebelah rumahnya. Bohong kalau Juna bilang ia tidak tertarik dengan kedatangan tetangga barunya.

Juna ingat, menonton mereka dengan takjub. Barang mereka sangat banyak. Namun, yang paling mengusiknya adalah kehadiran seorang perempuan kecil yang tingginya tidak jauh berbeda darinya. Anak itu berambut pendek, memeluk erat sebuah boneka kodok yang lebih besar dari tubuhnya, mengekori kemana pun ibunya pergi.

Vale hari itu tampak sangat pendiam dan tidak ramah.

Kali pertama Arjuna berbicara dengan Vale, ibu mereka berdiri di depan masing-masing mereka. Hari itu langit sore lebih gelap dari biasanya, demikian pula anginnya; lebih dingin dari biasanya. Ibu Vale datang mengetuk rumah mereka kala Juna sedang bercerita penuh semangat tentang harinya yang luar biasa, ibunya sendiri sedang menjahit robekan di baju ayahnya.

Vale menyembul dari balik tubuh ibunya saat ia diperkenalkan. "Valerine," ujarnya singkat.

Juna kecil yang terlalu bersemangat dengan cepat menyambut tangannya. Ia tersenyum lebar, "Juna, senang berkenalan denganmu."

Mereka tidak bicara apa-apa lagi sampai ibu mereka menjadi sahabat baik.

Kali pertama Arjuna menjadi dekat dengan Vale, Arjuna sedang kebosanan. Ibunya menyuruhnya pergi ke rumah Vale, mendampingi Vale yang tidak mau diajak ibunya ikut ke rumah bu RT di ujung kompleks tempat dimana arisan warga rutin digelar ibu-ibu. Ibu Vale tidak mau meninggalkan putrinya sendirian, sedangkan ibu Juna tidak mau ibu Vale tertinggal lagi untuk yang kesekian kalinya dari acara rutin silaturahmi ibu-ibu sekompleks.

Arjuna yang tidak tahu apa-apa dijadikan jaminan oleh ibunya. Ia yang polos dan tidak tahu apa-apa diantar ke rumah Vale, padahal Vale tampak tidak tertarik dengan permainan apapun. Vale sibuk belajar. Arjuna bosan.

Itu kemudian, menjadi kali pertama Juna memberanikan diri menganggu Vale. Vale yang irit ngomong ternyata malah menjadi sebuah permainan untuk Juna. Setiap kalimat darinya adalah level unlocked baru bagi Juna.

Sebelum Juna sadar, Vale menjadi lebih menarik daripada semua mainannya. Tapi sekarang, Vale sudah bukan Vale yang dulu. Ia bisa mencerocos panjang lebar:

"—Mas. Mas Juna, ih!" seru Vale kesal dari samping Arjuna. Bibir bawahnya sudah maju lima senti. Kalau sudah begini, Juna langsung lemah. Vale itu menggemaskan. "Pasti daritadi enggak dengar Vale ngomong kan," tudingnya telak.

Juna hanya bisa meringis. Tangannya spontan menggapai tengkuknya.

Sebuah rambutan langsung terbang ke arahnya. Beruntung, reflek Juna cepat.

Vale yang sedaritadi duduk manis di teras rumah Arjuna sambil menikmati rambutan memandangnya tajam, jelas tidak suka dengan tindakan Juna. "Jorok ih Mas. Itu tangan masih banyak oli mau pegang-pegang leher."

"Ya, Mas kan lagi benerin motormu Val, gimana enggak kotor tangannya," balas Juna. Hari ini memang hari Minggu dan Juna akhirnya berhasil memaksa tubuhnya yang sudah semingguan ini tidak mau diajak bekerja sama untuk mengumpulkan niat mengecek motor Vale yang sudah sangat lama dikeluhkan sang empunya bermasalah.

Ternyata, Vale benar. Motornya benar-benar bermasalah sampai-sampai sepagian habis digunakan Juna untuk membetulkan motornya.

"Jangan dekat-dekat ih Mas, jorok!" Vale langsung berdiri begitu Juna menghempaskan diri di sampingnya.

Juna memang penuh keringat dan beberapa bagian di bajunya sudah terkena noda oli. Tubuhnya juga lengket.

Vale kembali ke sampingnya setelah menginspeksi motornya dan merapikan semua peralatan yang dipakai Juna. "Sana Mas mandi. Vale ambilin bajunya, Mas jangan masuk kamar," perintahnya yang langsung membuat Juna menurut dan mengekorinya masuk rumah.

Juna berhenti di depan kamarnya, membiarkan Vale menavigasi kamarnya dengan santai. Hatinya menghangat melihat Vale yang tampak begitu pas di kamarnya. Membuka-buka lemarinya, menyiapkan baju untuknya, membuat Juna ingin menjaga momen ini selamanya.

"Nih." Vale menyodorkan Juna bajunya. Kaus biru favoritnya. Vale selalu hafal preferensinya.

Juna mengacak rambut perempuan di depannya. Tertawa puas begitu ocehan perempuan itu meledak di balik punggungnya. Tangannya sudah menggapai kenop pintu kamar mandi ketika suara ibunya menggema dari arah dapur, membuat langkahnya terhenti.


"Ya ampun Juna, Vale, apa kalian enggak mau coba jalan? Kalian udah cocok banget loh, Astaga Ibu sampek udah mau diabetes liat kalian."


Ya, itu adalah kali pertama Arjuna didorong untuk mengejar Valerine.


***

Home (JunHao GS)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang