Valerine P.O.V
Juna adalah rumah Vale.
Begitu, ungkap Juna padanya. Dan, sesuai dengan kata-katanya, Juna benar-benar menjadikan dirinya perwujudan nyata ungkapan tersebut. Ia selalu ada dan siap menarik Vale kapan pun ia kembali jatuh terperosok.
Pergulatan di kepalanya hampir tidak pernah berhenti.
"Mas," panggil Vale suatu malam. Menarik atensi Juna yang sedari tadi fokus memelototi layar laptop Vale. Yang merasa terpanggil pun berbalik dan menatapnya lekat. "Mas, jujur deh. Mas enggak mungkin hanya datang ke sini buat pinjem laptop Vale kan?"
Juna melempar sebuah senyum canggung.
Vale telah menebak dengan benar. Ia sudah menaruh curiga semenjak beberapa kali Juna menyambangi rumahnya dengan alasan-alasan konyol, seolah hanya berkunjung untuk membuang-buang waktu kosongnya.
Juna menutup laptop Vale. "Kelihatan sekali ya memang Mas pura-puranya?"
Vale ingin sekali rasanya meremas Juna di tempat. Jawaban apa yang ia ekspektasikan setelah meringis dan menggaruk-garuk tengkuknya begitu? Ia meremas bantal di pangkuannya sebagai ganti Arjuna.
Pria itu berjalan ke sampingnya dan menyelipkan anak rambut Vale ke belakang telinganya. Secara insting, membuat Vale mendekat ke arah sentuhannya – secara serakah dan tak tahu malu mengisap sebanyak-banyaknya ketenangan yang bisa sentuhan kecil itu uarkan untuknya.
Juna kemudian mendudukkan dirinya di pinggiran tempat tidur Vale. "Pikiranmu suka kemana-mana kalau sendirian. Toh kamu juga enggak pernah ngusir Mas. Jadi, ya udah, Mas dateng terus aja. Vale keganggu?"
Ada diri Vale di pantulan mata besar itu. Membuat matanya sendiri kembali memanas. Masih pantaskah dirinya dipelakukan demikian lembut dan terhormat?
Isakan kecil tidak dapat Vale tahan lagi untuk tidak keluar dari tenggorakannya.
Pria di depannya itu selalu tahu bagaimana harus menerebos dinding pertahanannya.
Juna menghapus lelehan air matanya.
Vale sesenggukan, "Kenapa Mas masih di sini? Padahal Vale bukan perempuan baik-baik. Bahkan, Vale juga melebih-lebihkan. Vale bahkan belum diapa-apain, tapi di sini Vale udah menangis dan merengek-rengek sama Mas Juna setiap hari. Vale jahat banget sama Mas Juna."
"Nah kan, nah kan, baru Mas bilang, pikirannya udah kemana-mana." Juna, tanpa ampun, menghimpit kedua pipi Vale. Membuat sang empunya memekik terkejut dan langsung terduduk tegak menghadapnya.
"Mas, apa-apaan si – Aduh!" Ia disentil.
"Ya habis kamu, Mas sampek udah bosen ngomongnya. Peristiwa itu kan udah terjadi, kamu juga enggak punya kendali. Vale juga udah berusaha yang terbaik buat jaga diri Vale kok, Mas tahu. Vale nangis dan sedih seperti sekarang pun, semuanya valid, oke?" Juna menangkup wajah Vale. "Kali ini, mau Mas ulang berapa kali lagi nih biar Vale inget?"
Vale sudah siap memprotes, "Tap —" "Shhh," tapi, jari panjang Arjuna menghentikannya.
"Semua yang terjadi malam itu berada di luar kendali Vale, Oke? Sekarang satu-satunya kendali yang Vale punya ya cuma berhenti menjadikan peristiwa itu penghambat kehidupan Vale, paham?"
Juna memandang Vale dalam-dalam. Sangat dalam, Vale bahkan tidak berani memutus kontak mata di antara mereka. Alih-alih, ia membiarkan perkataan Juna bergaung dalam telinganya. Perlahan-lahan, memproses kata demi kata itu.
"Oke!" Juna tiba-tiba berdiri, menepuk tangannya sendiri. "Mas mau beli martabak di depan deh. Kamu mau ikut atau tunggu Mas di sini aja?" Ia ingin memberi Vale waktu,Vale tahu.
Ia menggeleng dari tempat duduknya. "Vale, masih agak takut keluar malem, Mas. Vale tunggu di sini aja," ujarnya yang langsung ditanggapi dengan posisi hormat.
Juna berseru seolah-olah dirinya seorang prajurit, "Woke, siap laksanakan Kapten!" Ia langsung mengacir keluar.
Vale tidak mungkin tidak tertawa karenanya. Ia terkekeh.
Juna benar, yang bisa ia kendalikan hanyalah berhenti menjadikan peristiwa malam itu penghambat kehidupannya.
Vale tidak bisa, tidak mau, dan tidak akan mengecewakan dirinya sendiri lebih jauh lagi.
***
Waaa lama banget updatenyaaaa...😭😭
Enggak tahu kenapa perasaan chapter ini susah banget nulisnya jadi maaf ya pendek :'(( Tadinya aku mau bikin chapter ini yang manis-manis, tapi ternyata bikin yang manis-manis lebih susah 😭😭
Semoga chapter ini tetap menghibur ya :'))
Thank you sudah membaca ❤️❤️❤️
KAMU SEDANG MEMBACA
Home (JunHao GS)
Romance"Enggak papa Valerine pergi-pergi, yang penting Vale tetap ingat. Vale punya rumah, yaitu Juna - rumah Vale. Juna akan selalu menunggu Vale disini." "Karena siapa pun yang sudah berusaha pasti akan merindukan sebuah rumah untuk pulang berteduh" Seb...
