07.

210 22 2
                                    

Hola Guys...🤗🤗 buat yang skip chapter 06. (2) , inti ceritanya pokoknya Vale diselamatin Juna ya... Selamat membaca chapter ini  ❤️❤️❤️


Arjuna P.O.V

Vale berubah.

Demikian juga, poros dunia Arjuna. Ia kebingungan harus menancapkan porosnya dimana. Perubahan yang terjadi pada semestanya terlalu mendadak.

Vale memang langsung berangkat kerja keesokan harinya, tetapi gaya pakaiannya langsung berubah. Pun segala tindak-tanduk dan pembawaannya. Ia menjadi sangat pendiam seolah ia kembali menjadi level 0 bagi Juna.

Kini, Valerine terasa begitu jauh.

"Yang diputusin kan bukan kamu Jun. Sudah pasti kamu enggak tahu gimana rasanya. Coba kamu ajak ngomong lagi Valerinenya," ujar Wilo dari seberang panggilan.

Entah bagaimana pembicaraan mereka bisa sampai ke Valerine, yang mana awalnya bermula dari ajakan Wilo mengunjungi toko buku pada hari Minggu nanti. Wilo menyadari ada sesuatu yang akhir-akhir ini mengecoh konsentrasi Juna. Ia ingin membawanya kembali ke jalurnya. Dari sana, pembicaraan mereka lama-lama ke sana kemari hingga akhirnya Wilo yang tidak bodoh bisa menarik sebuah garis lurus dan menemukan nama Valerine di sentral kekalutan Arjuna.

Beruntung, Juna masih bisa mengontrol diri untuk tidak membagikan terlalu banyak. "Aku benar-benar bingung harus ngomong apa Wil sama Vale. Bagaimana caranya menghibur orang?" Juna mengusak rambutnya, frustasi. Kaki panjangnya memeluk gulingnya.

"Mungkin yang Valerine butuhin saat ini bukan kamu yang 'ngomong', Jun. Kadang, di banyak situasi seperti ini, yang kita butuhin enggak lebih dari seseorang yang ada. Temenin aja dia supaya dia inget dia itu enggak sendirian. Supaya dia inget masih ada juga orang yang peduli sama dia. Saat ini, mungkin dia lagi merasa sendirian."

Juna hanya mengangguk-angguk. Ia membenarkan posisi duduknya. "Kamu... juga suka merasa begini ya Wil?" Alisnya mengkerut.

Namun, yang terdengar kemudian justru sebuah kekehan, "Loh kok tiba-tiba jadi bahas aku?"

Juna dapat membayangkan apa yang sedang wanita itu lakukan; Wilo pasti sedang menutupi mulutnya di atas tempat tidurnya. Wanita di seberang panggilannya itu mudah sekali terpingkal meskipun pingkalannya selalu terdengar kecil dan lembut di telinga Juna. Ia menikmati jeda nyaman yang terbentuk diantara mereka.

Arjuna sering mencari Wilo akhir-akhir ini untuk momen seperti ini.

"Eh, Juna."

"Ya?"

"Ingat, jangan banyak mikir ya nanti pas ketemu Valerine. Biarin nalurimu yang bekerja. Nalurimu lebih tahu apa yang harus kamu lakuin daripada pikiranmu."


***


Juna muncul di depan kamar Valerine hari Minggu malam. Dengan senyum canggungnya dan se­-bucket­ es krim cookies and cream yang ia acungkan tinggi-tinggi.

Menyebut situasi itu canggung, benar-benar merupakan suatu dekadensi. Arjuna tidak pernah sesalah tingkah ini ingin masuk ke kamar Valerine. Nyalinya bahkan menciut melihat mata Valerine yang redup alih-alih berbinar seperti biasa tiap kali ia datang membawa es krim tersebut.

"Vale lagi enggak mood makan es Mas. Mas makan sendiri aja." Ia langsung berbalik, hendak menutup pintu kamarnya. Namun, Juna menahannya. Pria itu langsung masuk tanpa menunggu izin dari sang empunya kamar, membuat Valerine terkesiap, "Mas! Mau ngapain?!"

Tapi, kemudian, ia menutup mulutnya rapat-rapat.

Ya, benar juga, toh Valerine sudah kehilangan seluruh batasan-batasannya ketika kemarin Alan menerobosnya. Untuk apa Valerine masih menjaga diri dan batasannya?

Ia menjatuhkan diri disamping Arjuna, yang sudah duduk bersila di sebelah tempat tidurnya. Mengambil sendok yang Arjuna bawa dan mulai menyendok es krim tersebut.

Manis.

Sangat manis.

Arjuna selalu tahu apa favoritnya dan yang bisa menyenangkannya.

"Mas," panggilnya, memecah keheningan yang tercipta di antara mereka. "Mas pasti kecewa kan sama Vale?"

"Memang Vale ngapain sampek Mas harus kecewa?"

Bucket es krim yang mereka bagi beralih ke tangan Juna. Ia sedang sok tak acu, padahal jantungnya sudah seperti sedang bermaraton sedari tadi ia melangkahkan kaki masuk ke kamar Valerine, tidak tahu apa yang akan menyambutnya. Tetapi, ia berusaha mengingat perkataan Wilo untuk mempercayai nalurinya saja.

Nalurinya berkata, Valerine akan lebih nyaman jika ia tidak memberikan reaksi apa pun. Dan, benar saja, ia bisa melihat Valerine menurunkan kewaspadaannya hari ini. Vale tersenyum pahit sambil mengeratkan genggamannya pada sendok yang sedari tadi ia gunakan. Pandangannya lurus ke dinding di hadapan mereka.

Ia terlihat sangat rapuh.

Juna tidak suka melihatnya.

"Kalau Vale dari dulu nurut sama ayah-bunda, Vale enggak akan jalan sama Elang. Enggak mungkin putus sama Elang. Vale enggak akan pakai baju terbuka, Alan enggak akan datengin Vale. Vale enggak akan — Ah...." Valerine tidak bisa menyelesaikan kata-katanya.

Ia menutupi wajahnya. Ingatan malam itu masih segar dalam otaknya. Tiap sentuhan, tiap tekanan yang Alan berikan masih terekam jelas di memorinya. Tiap saraf dalam tubuh dan kulitnya masih merasakan seluruh sensasi hari itu dan masih bergetar hebat mengingatnya. Ia merasa jijik.

Juna memeluknya.

"Vale sudah gagal jaga badan Vale sendiri Mas. Vale bukan wanita baik-baik." Matanya mulai memanas. Tangisnya langsung pecah begitu tangan besar Juna menangkup pucuk kepalanya, membelai lembut rambut pendeknya.

"Siapa yang bilang Vale bukan wanita baik-baik? Mas tahu kok Vale sudah berusaha yang terbaik. Kita enggak ada yang pernah mau dan menduga kejadian seperti kemarin bakal terjadi pada Vale. Bukan Vale yang salah. Vale enggak pernah memilih untuk diperlakuin begitu, cowok itu yang milih. Jadi, yang bersalah, ya cowok itu. Dia yang milih."

Selanjutnya, Vale tidak berkata apa-apa lagi. Hanya menumpahkan seluruh kesedihannya di dada bidang Juna tidak peduli kausnya yang sudah basah.

Ia mungkin tenggelam dalam pikirannya sendiri. Tapi, bagi Juna, sudah bisa menangis saja, sudah menjadi suatu tanda yang baik. Juna, seperti nasihat Wilo, tidak mengatakan apa-apa dan hanya terus mengusap lembut punggung sempit Valerine.

Ia berharap, setelah mengeluarkan seluruh beban hatinya hari ini, Valerine dapat segera bangkit kembali menjadi Valerine yang biasa ia kagumi.

Ia membawa tangan Vale ke atas dada kirinya, "Vale, seperti apa pun ke depannya nanti, Vale harus selalu ingat satu hal...ya? Vale punya rumah,"

Ia menaruhnya tepat di atas jantungnya. "Di sini, Juna – rumah Vale. Juna akan selalu menanti Vale pulang di sini." 

Tatapan Juna begitu dalam, Vale kembali menangis. Sesak. 


***

Home (JunHao GS)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang