She's Back!

39 5 13
                                    

Hari ini adalah hari Senin, dimana hari yang seharusnya gue kuliah tapi gue memutuskan untuk libur sementara. Saat ini gue berada di rumah, tepatnya berada di kamar kesayangan. Gue terus murung di atas ranjang sambil menatap foto gue saat kecil yang dirangkul ayah di depan rumah. Ayah mengalami lupa ingatan atau amnesia, artinya ayah lupa semua akan ingatan yang ada di kepala. Memori saat gue kecil, saat gue bermain ular tangga dengannya, bahkan tadi saat sarapan bersama yang masih ledek-ledekan karena gue pergi bersama cowok saja sudah hilang.

Gue terus terang tidak bisa berbuat apa-apa. Hancur? Tentu. Perasaan gue hancur ketika tau ayah kecelakaan ditambah ayah mengalami amnesia. Hancur seperti beling yang jatuh berkeping-keping, serpihannya menyebar ke sekitarnya. Sama seperti pikiran gue yang saat ini kacau. Pikiran gue bagaikan saraf yang ada ditubuh manusia, bercabang. Tubuh gue kaku, haus dan lapar juga, tapi gue mengabaikannya walaupun keduanya memberi sinyal yang disampaikan lewat otak dan menyuruh gue untuk makan dan minum, tapi tetap saja gue menolak.

Gue membiarkan diri gue kehausan dan kelaparan. Sumpah, gue nggak mood ngapa-ngapain saat ini. Untuk turun ke bawah saja rasanya lemas seperti tidak ada tenaga untuk berjalan bahkan untuk beranjak dari ranjang saja tidak ada tenaga.

Sekarang jam menunjukkan pukul 15.00 dan gue belum apa-apa, belum mandi, belum sholat, belum makan.

Tokk tokk..

"Non?" Bi Atik membuka pintu kamar pelan.

Gue hanya memiringkan kepala dari atas ranjang. Gue melihat Bi Atik membawa nampan yang di atasnya terdapat makanan dan minuman.

"Bibi, bawain kamu makan, kamu belum makan kan? Maaf ya telat.. Tadi gasnya habis,"

"Hmm iya bi, makasih, tapi Vina nggak mau makan,"

"Kenapa? Nanti lapar lho!"

Ya emang udah laper daritadi bi.

"Ngga mau makan."

"Iya kenapa?"

"Ya lagi nggak mau, males."

"Kok gitu non? Ayo harus makan, nanti dimarahin bunda lho!"

"Nggak bi.. Nggak mau. Vina mau pergi."

"Lho? Kemana? Makan dulu Non.."

"Nggak bi, nanti aja, Vina mau pergi."

Gue langsung beranjak dari ranjang dan mengambil tas selempang lalu pergi. Entah gue mau pergi kemana gue nggak tau. Rasanya gue mau menghilang aja dari bumi, membuat planet sendiri lebih asik, mengatur sendiri, tidak ada larangan ini itu, bisa menyendiri, tidak ada suruhan dari siapapun, tidak ada cobaan apapun. Gue mau hidup tenang di planet baru, tapi nggak bisa.

Gue keluar rumah berjalan kaki dan pergi tanpa tujuan manapun. Gue hanya mau menenangkan diri, pikiran gue bercabang, mulai dari ayah kecelakaan, ayah amnesia, tugas kuliah mungkin akan menumpuk.

Gue hanya terus berjalan, entah sampai mana, rasanya ingin pergi sampai ke ujung dunia. Gue berjalan sambil mengeluarkan earphone kesayangan gue yang berwarna putih. Gue memasangnya di telinga dan memutar lagu yang berjudul celengan rindu - Fiersa Besari.

Sambil mendengarkan lagu, gue menemukan tempat yang cocok untuk berdiam diri, di taman. Mumpung sepi, gue menghela napas kasar, membuang rasa khawatir yang ada dipikiran, dan melepas semua masalah yang sedang terjadi.

"Kalau saja ada Hira disini, mungkin gue nggak bakal sejatuh ini."

***

Author POV

Tukk tukk..

"Assalamu'alaikum tante.."

AVIN [[Slow Update]]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang