Ceklek..
Gue menoleh dengan cepat, "BUNDA????"
Gue melihat wajah bunda yang sangat terkejut karena gue sedang menangis didekat Alvin. Gue langsung menjauh dan berdiri sehingga memberi jarak antara gue dengan Alvin.
Raut wajah bunda terlihat seperti sedang meledek anaknya. Bunda tertawa kecil sambil menutupi mulutnya dengan tangannya. Lihatlah, dalam keadaan seperti ini saja bunda mampu mencairkan suasana.
Bunda lalu menutup pintunya, tetapi gue langsung berlari kearah bunda untuk tidak menutup pintunya dan membiarkan bunda masuk.
"BUNNN!!"
"Bunda ihhhhh, bunda mahhhh, masuk aja ih alah ga mau sama Alvin ih!" Gue membujuk bunda dengan gerakan seperti anak kecil yang minta dibelikan permen kapas.
Gue memasang raut wajah cemberut dan terus memohon bunda agar masuk kedalam ruangan. Gue sebenarnya tau apa yang bunda lakukan saat ini, tiada hari tanpa ledekan dari bunda. Itu cara ampuh bunda agar bisa melihat gue tersenyum setiap hari. Bunda memang luar biasa bagi keluarga.
Terlihat bunda membawa tas agak besar, mungkin itu berisi baju gue dan bunda karena gue akan menginap di rumah sakit sampai ayah tersadar dan diperbolehkan untuk pulang.
"Udah, kamu berdua aja sama Alvin, bunda mau beli makan dulu buat kalian." Jawab bunda meledek.
"Bunda ih apaan sih! Beli makannya sama Avin aja entarr ya?? Please ya bundaa??" Gue memasang raut wajah seolah-olah gue melakukan puppy eyes padahal ga bisa.
Bunda tertawa sangat geli melihat tingkah laku gue yang di matanya masih terlihat belum dewasa. Gue juga tersadar Alvin daritadi melihat tingkah laku gue kalau lagi didepan bunda. Ya, gue ga bisa bersikap dewasa didepan bunda, apalagi ke ayah. Sama aja, haha.
"Iyaa sayang, yaudah ini bawa bajumu, ada baju bunda segala disitu. Bawa masuk nih," Kata bunda sambil menyerahkan tas yang lumayan berat itu.
"A-aa-aakk b-bberaattt!" Gue keberatan mengangkat tas itu. Tak disangka isinya sangat banyak.
Bunda yang hanya memperhatikan gue keberatan sekaligus kesakitan, terutama dibagian telapak tangan itu tertawa geli lagi. Bunda memang humornya rendah, sama seperti gue. Melihat anaknya menderita keberatan membawa tas saja tertawa, gimana hal yang lain.
Tiba-tiba Alvin datang menghampiri gue dan mengangkat tas yang gue bawa, "Cemen, gitu aja bilang berat!"
Gue yang mendengar sedikit kesal dengan nada menyepelekan itu.
Heh.
Emang berat.
Dasar bambu.
Yap, bambu. Kenapa bambu? Karena tingginya hampir menyerupai bambu— ya sedikit sih, dan juga kurus kering. Seperti hanya tersisa tulang dan kulit.
Kenapa enggak tebu? Karena dia asem, ngga manis. Yang manis itu gue.
Kemudian gue dan bunda memasuki ruangan. Alvin menaruh tasnya didekat sofa. Kamar VIP memang sangat menarik, terdapat satu buah ranjang kecil yang hanya muat 1 orang dan sofa sedikit panjang yang empuk. Jadi nyaman kalau untuk menginap disini menemani ayah.
"Alvin deket sama Avin ya?" Bunda yang baru saja duduk di tepi ranjang kecil tiba-tiba menyeletuk dengan kalimat tanya yang membuat gue malu.
"Ah, iy—"
"Enggak." Sela gue.
Bunda terheran sehingga menatap gue dan Alvin dengan ekspresi yang tidak begitu meyakinkan.

KAMU SEDANG MEMBACA
AVIN [[Slow Update]]
Ficção AdolescenteAvin, mahasiswi berusia 21 tahun yang duduk dibangku kuliah fakultas akutansi memiliki keunikan tersendiri pada dirinya. Ia terjebak didalam suatu masalah yang sangat rumit, sehingga ia sering bolos kuliah. Alvin, mahasiswa berusia 23 tahun yang sed...