Chapter 18

2K 156 148
                                        

Tak ada yang lebih kuat dari cinta sejati. Harus percaya untuk saling memahami dan harus memahami untuk saling percaya.
N.N

By Laceena & Cleorain

------------

Waktu yang terus bergulir, tanpa terasa mengakhiri pemotretan untuk hari ini. Jam menunjukkan hampir tepat pukul tiga sore, namun Naru belum juga bisa menghubungi Hinata. Barangkali perempuan itu dengan sengaja menonaktifkan ponselnya. Sementara Naru diserang gelisah cukup lama, sebab pesan terakhir yang ia terima adalah; Tidak perlu mencariku, aku tidak ingin bertemu denganmu. Seperti itulah pesan singkat dari kekasihnya.

Naru mendengkus kasar kemudian mengemasi barang-barangnya, ia berpikir untuk langsung pulang ke apartemen segera. Pasalnya, kesalahpahaman ini sangat cepat menyebabkan kepala berdenyut bersamaan dengan tubuhnya terlampau lelah. Bukannya Naru tak ingin mencari kekasihnya dan meluruskan masalah yang terjadi, hanya saja ia berpikir sangat cukup memberi keyakinan pada Hinata dan sepantasnya ia memahami hubungan di antara mereka. Cemburu jelas memang manusiawi, tapi alangkah lebih baik bila perempuan itu bersikap bijak, meredam emosi dan bertanya dahulu perihal kebenarannya.

Raut wajahnya berubah, Naru kecewa. Walau tak tahu kepada siapa rasa itu ditujukan, jelas kini ia harus puas membawanya bersama penat yang mengungkung. Seolah kegusaran itu dengan paksa menghampiri, Naru berjalan tampak pasrah meninggalkan ruangan.

"Cepat sekali. Tebakanku memang pas, ya. Belum sore, tapi kau justru mendahului kami." Gaara menuturkan ketika laki-laki berambut merah itu berpapasan dengan Naru di depan pintu.

Sembari mengamati Gaara tanpa minat, Naru menyahut sekenanya, "Sepertinya perjalanan tadi membuatku cape dan tiba-tiba aku sangat merindukan kasur di rumah."

"Bilang saja kau tak sabar bertemu dengan wanitamu," ucap Gaara sengaja mengejeknya.

Naru tersenyum sumbang, "Aku perlu menemui ketua," katanya sebelum meneruskan langkah.

"Kau langsung pulang? Aku dan Kiba berencana ke bar setelah ini, mungkin kau mau ikut bersama kami," ucapan Gaara menghentikan langkahnya dan dia menoleh ke belakang.

"Tidak untuk kali ini, aku benar-benar lelah. Maaf, aku janji lain hari." tolak Naru secara halus. Meskipun hal lain yang menguras habis gairahnya.

"Ok, tak masalah." angguk Gaara. "Selamat menikmati waktu istirahatmu ya, Naruto." ucapan terakhir Gaara sebelum ia pun kembali pada tujuan untuk menyelesaikan sisa pekerjaan.

-----

Langkah Shizuka amat terburu-buru. Begitu siap membenahi diri perempuan itu tergesa untuk menemui Naru. Ia berencana mengajaknya ke luar, mentraktir makan atau sekadar minum teh.
Tentu ia punya alasan melakukan hal ini, Shizuka masih waswas jika mantan kekasihnya sedang menyusun siasat jahat demi membalas Naru.
Sebabnya perempuan bermata emerald itu membuat rencana untuk menjauhkan Naru dari kelicikan Max.

Tempo hari, dengan menggebu-gebu Shizuka mengatakan jika ia sudah menjalin hubungan serius dengan Naru. Sikap Max yang kian kasar tak terkendali menyebabkan dirinya berat menerima laki-laki itu, kembali merajut lagi hubungan mereka yang sudah usai, sungguh Shizuka tak ingin. Kini pengakuan asal yang keluar dari mulutnya itu justru menjadi sebuah penyelasan besar bagi dirinya, malah ia turut mengutuk kebodohan yang terlanjur diperbuat sehingga mengakibatkan nyawa Naru terancam.

Berawal dari semua alasan tersebut, Shizuka melancarkan niatnya menghentikan atau memperlambat langkah Naru untuk pulang, apa dan bagaimana pun caranya. Berlanjut ia menyusul cepat langkah laki-laki itu ke basemen, hingga ia berlari begitu melihat Naru hendak masuk ke mobil.

"Naruto!" seru Shizuka cepat seraya menghampiri. Ia menarik napas perlahan demi menetralkan rasa sesak di rongga dadanya akibat tergesa-gesa menemui Naru.

"Ada apa? Kau perlu sesuatu? Atau ada yang kulupakan?" Naru menoleh, ia menutup pintu mobil dan mengalihkan pandangannya kepada Shizuka yang masih terengah-engah. "Kau berlari sampai ke sini?"

Shizuka mengangguk, lalu mendesah pelan. "Aku ingin mentraktirmu minum kopi..."

Dahi Naru mengernyit, "Aku hanya ingin pulang sekarang."

"Tapi... ayolah, ini murni ajakan untuk sesama rekan kerja. Kalau tak percaya, aku bisa kok mengajak teman-temanmu sekalian," kata Shizuka berusaha membujuk Naru agar mau mempertimbangkan tawarannya. "Mau, ya?"

"Shizuka, sekali kubilang tidak, ya tidak. Tolong, biarkan aku pulang." ia menekankan kalimatnya dan memilih masuk ke mobil, tetap pada pendirian menolak ajakan perempuan itu.

"Ya, Tuhan. Bagaimana ini?" Shizuka semakin kalut dalam kecemasan, menyaksikan Mobil Naru mulai melaju keluar dari basemen membuat debaran di jantungnya berpacu kian cepat. "Aku harus melakukan sesuatu sebelum semua terlambat."

------

Naru memukul roda setir, pikirannya tak bisa mengenyahkan kemarahan Hinata. Bukannya mendapat sambutan hangat dan manis, Naru malah mendengar kata-kata yang paling ia benci. Memangnya untuk apa dia berupaya keras mempertahankan pula menjaga agar hubungannya bersama Hinata tetap harmonis, walau bertahun-tahun lamanya. Dan kini yang bisa ia pahami seolah semua itu tidaklah terlalu berharga bagi Hinata.

Naru kembali mengecek ponselnya, ia berdecak kesal karena belum juga menerima satu pesanpun dari Hinata. Ia mencoba lagi menelepon kekasihnya tersebut, namun nihil. Ponsel Hinata belum juga bisa dihubungi. Karena kesal ia pun melempar ponselnya ke jok samping. "Sebegitu tak yakinnya kau padaku, Hinata?" ungkap Naru gelisah. Ia tak mengerti apa yang ada di dalam pikiran Hinata saat ini, tentang seberapa besar ia mempercayai. Yang dia tahu hanyalah, Hinata menuduh tanpa mau mendengar penjelasannya terlebih dahulu. Kalimat terakhir yang diucapkan Hinata bahkan teramat menyakiti hatinya, "Tak ada yang perlu diperjuangkan dalam hubungan kita dan jangan temui aku lagi!"

Diam dan kesal, satu hal pasti yang tengah ia rasakan. Sangat kecewa, sebab mengapa mudah sekali bagi Hinata berkata demikian. Apakah sesulit itu untuk saling percaya dan saling memahami satu sama lain? Padahal ia sendiri memberi sepenuhnya pada perempuan itu. Terlebih banyak peristiwa yang telah mereka lewati, bahagia ataupun haru.

Naru tidak akan menyalahkan siapa pun, apa lagi tiada unsur kesengajaan dari dirinya pribadi. Berujung laki-laki itu pasrah, menyerahkan segalanya pada waktu.

"Tidak banyak yang kuminta, Hinata. Saling percaya, cuma itu. Padahal aku menyiapkan segalanya untukmu," gerutu Naru di sela-sela ia menyetir santai di sepanjang jalan. Dan kini ia berada di jalan yang selalu tampak sepi terkecuali pada hari libur.

Seraya menyetir, benak Naru terus memutar ulang setiap kata yang terucap oleh Hinata. Pasalnya ia tak pernah merasa kecewa layaknya sekarang dan apa pun dugaan negatif dari Hinata, maka tanpa membuang waktu, ia berhasil mematahkan hal tersebut dengan mudah. Ntah apa kiranya yang terjadi, seketika laki-laki itu mendadak menginjak rem hingga tubuhnya terhentak ke depan. Menahan umpatan yang siap keluar dari mulutnya, Naru menengadah kemudian sorot matanya berubah tajam. Betapa tidak, sebuah motor sport kini mencegat laju mobilnya sehingga ia refleks mengerem.

"Astaga, apa lagi sekarang?!" katanya berang kemudian turun dari mobil tanpa ragu. Kedua pemuda pengendara motor tersebut menyeringai, lalu menghampiri Naru dengan langkah tenang. "Motormu menghalangi jalanku dan yang kuingat aku tidak punya urusan apa pun dengan kalian," cetus Naru enggan berbasa-basi.

Tawa keras terdengar, kedua pria itu saling melempar pandangan kemudian melirik ke kiri. Tak lama dua orang pemuda lainnya muncul dari balik pepohonan rindang. Jelas saja orang-orang yang melewati jalan tersebut tidak akan menyadari keberadaan mereka.

Naru menggulir pandangan ke masing-masing pemuda brandal itu. Seperti segalanya memang terencana, mereka mengambil posisi berbeda untuk mengepung Naru.

"Mau apa ka..." belum selesai bicara, tubuh Naru sudah terdorong ke depan akibat tendangan kuat di pinggangnya dari salah seorang brandal itu.

"Baru pemanasan kau sudah limbung."

"Tidak usah buang waktu, habisi saja! Kita tidak dibayar untuk bermain-main, bodoh!" teriak pemudah berambut hitam, bertubuh besar dan kemungkinan dialah pemimpin komplotan brandal tersebut.

Bagai sebuah perintah, mereka langsung menyerang Naru secara membabi buta. Laki-laki itu jatuh tergeletak di atas aspal seraya memegang perutnya yang detik itu juga nyeri hebat akibat benturan keras sebuah balok kayu.

"Akh..." Naru meringis kesakitan menerima pukulan dan tendangan beruntun dari keempat pemuda brandal. Gumpalan darah kental ia muntahkan, pandangan Naru mengabur. Sungguh rasa sakit di sekujur tubuhnya tak lagi sanggup ia tampung.

"Hei, kau belum boleh mati," ucap pemuda tambun setelah menendang kasar tubuhnya agar ia tak hilang kesadaran. "Kau harus bisa mengingat saat kami menandai wajah tampanmu ini dengan beberapa sayatan."

"Aku jadi ingin sekali melukis tanda bajak laut di pipinya, atau banyak sayatan dari bawah mata sampai ke dagu, mungkin?" berandal-berandal itu kembali tertawa sangat keras ketika pemimpin mereka mendaratkan sebilah pisau ke wajah laki-laki itu, tawa lantang menunjukkan kepuasan atas tindak kejam yang mereka perbuat. Tanpa belas kasih keempat pemuda itu hanya tergelak mengamati Naru yang sudah terkulai tak berdaya di sana.

"Hoi... brandal keparat! Kalian tidak tahu caranya berkelahi? Bukan seenaknya main keroyok seperti itu. Mau kuajarkan cara bermain yang benar, brengsek!"

"Gaara! Aku sudah dapat foto dan video aksi mereka, polisi sudah menuju ke mari. Cih! Dasar brandal banci!" seru Kiba tak kalah lantang menyahut pekikan laki-laki berambut merah itu.

"Sebaiknya kita kabur sekarang!" titah sang pemimpin. Sontak para brandal itu mengambil langkah seribu untuk meninggalkan tempat eksekusi.

Shizuka berlari mendekati Naru yang sudah hilang kesadaran. Dia pingsan, tubuhnya babak belur dengan darah di sekitar mulut hingga ke bagian lehernya. "Cepat panggil ambulan! Dia kritis!" seru Shizuka histeris, menangisi kondisi Naru yang sangat memprihatinkan. Ia mengangkat perlahan kepala Naru ke atas paha. Air mata pun mengalir kian deras, selagi menepuk-nepuk pelan pipi Naru guna membangkitkan kesadarannya.

"Oh, shit! Telepon ambulannya cepat! KIBA!" pekik Gaara lagi begitu mereka berdua juga berada di lokasi penganiayaan.

"Iya, iya, tunggu! Jangan bikin aku tambah panik!" sahut Kiba dengan gemetar.

"Aku tahu siapa pelakunya," Shizuka meracau. "Aku bersumpah tidak akan pernah memaafkanmu, bajingan!"












JEALOUSY ✓Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang