Chapter 3

3.8K 451 141
                                        

Pertama kalinya Naru mengenal dunia seni foto adalah sejak dia duduk di bangku SMA. Kegiatan ini telah menjadi hobinya sedari lama. Tahun-tahun awal dia mulai berdikari, dalam satu atau dua minggu akan ada hari di mana dia pergi ke suatu tempat untuk berburu spot-spot bagus yang menurutnya layak diabadikan. Termasuk ketika dia tengah berlibur bersama keluarga maupun teman-temannya, maka sebuah kamera analog siap sedia di tangannya.

Kecintaan Naru pada dunia foto, lambat laun berkembang menjadi sebentuk ambisi nan kuat. Tiada seorangpun dari keluarganya dapat memperhitungkan, jika hobi sederhana tersebut menjelma sebagai mimpi besar di benak.

Kariernya berawal dari dia mengikutsertakan diri dalam perlombaan kecil, yang dia temui pada pengumuman-pengumuman amatir di sebuah situs internet. Peluang sekian berujung manis, tak jarang dia memenangkan kompetisi beragam tema dengan bermacam-macam hadiah pula. Satu alasan pasti penyebab dia membulatkan tekad guna terus mengasah pengetahuannya terhadap seni foto. 

Tentu tiada asa berjalan mulus. Kerap ada penghalang di jalan yang ditapaki, apalagi demi gelar sebagai fotografer terkenal di Tokyo. Jika  menilik ke belakang, pernah terjadi kontra pendapat di antara dia dan keluarganya. Terutama sang ayah.

Reaksi negatif oleh ayahnya Minato tak ayal memicu perselisihan yang cukup sengit. Ada pula masa-masa sulit di kala dia bertempur dengan keberuntungan hidup dan pengalaman baru di tanah asing di negeri Paman Sam, Amerika. Naru menelusuri kemujurannya dengan bekerja sebagai fotografer jalanan. Tinggal di gedung sederhana dan dia mesti sedia dilingkupi kekurangan. Naru berupaya keras menempuh semua itu untuk mewujudkan impiannya, walau terpaksa berpisah dan terjebak hubungan jarak jauh bersama sang kekasih.

Masih segar dalam ingatan, sekeras apa  perjuangannya agar mendapatkan beasiswa di Yale School of Art, Amerika. Kendati ayahnya menaruh harapan besar padanya sebagai penerus tunggal di dalam keluarga, melanjutkan bisnis yang akan diwariskan kelak. Namun dia kukuh memilih arah berbeda, sepenuhnya berjuang hingga menjadi fotografer ternama seperti keinginannya.

"Ayah sudah mendaftarkanmu di Universitas Tokyo, fokuslah pada kuliahmu di fakultas manajemen. Ayah sangat berharap kau bisa membantu Ayah untuk menjalankan perusahaan keluarga kita. Kau pasti mampu menjadi pimpinan yang hebat, di waktunya nanti."  Kala itu nihil keraguan, ayahnya mengatakan itu bersama senyum keyakinan. Bola matanya kental menyorotkan seberkas harapan. Minato benar-benar menaruh tujuannya di genggaman sang anak.

Kehendak sekian bagai tembok tak kasat mata, akan tetapi begitu terasa menghalangi rencananya. Setahun dia mencoba melewati hari-hari selaku mahasiswa di fakultas bisnis, dengan segala tekanan menyesakkan. Sampai pada akhirnya Naru pun mengambil tindakan nekat untuk kabur ke Amerika.

Sang ayah kontan menarik seluruh fasilitas yang dia pakai, saat tahu bahwa Naru melepas keinginannya. Nasib baik masih memberinya kemudahan. Tersisa Hinata si penyokong rancangan yang dia susun. Kekasihnya itu rela membantu di berbagai sisi, bahkan menyerahkan seluruh tabungan miliknya. Berbekal pinjaman uang dari Hinata, Naru  berhasil tiba di Amerika. Lelaki itu memulakan kariernya sebagai fotografer jalanan.

Bulan ke bulan dan tahun pun berlalu, ada masa di mana hasil bidikannya sukses menarik perhatian salah seorang petinggi di Yale School of Art, Mr. Alex. Berlanjut dia memperoleh beasiswa mandiri di tempat itu. Melalui studi singkat yang dia tempuh selama tiga tahun di sana, Naru kian mengasah kemampuannya dalam dunia seni foto.

Kompetisi bergengsi yang pernah berlangsung di Tokyo, menggiring keberadaan Naru ke publik. Mengalahkan beberapa fotografer senior, membuat namanya seketika melejit. Dia merupakan salah satu fotografer muda yang namanya mampu berada di deretan fotografer-fotografer ternama Ibu Kota. Hasil tak akan mengkhianati usaha, berlaku jua baginya. Peristiwa membanggakan tersebut melunakkan hati sang ayah, kemudian hubungan keduanya turut membaik semula.

.
.
.

Usai mengamati hasil fotonya dalam satu bulan terakhir, seringai di wajah Naru mengembang. Puas sebab kerja kerasnya tidak percuma. Sudah tiga bulan sejak dia dikontrak resmi oleh agensi terkenal di Tokyo dan begitu menyenangkan saat hobi yang digeluti benar menghasilkan uang yang nilainya tidak main-main.

"Siapa yang paling menarik di antara mereka, Naruto? Dari tadi kuperhatikan kau terus senyum-senyum sendirian seperti sedang kasmaran." Salah seorang dari rekan-rekannya menyeletuk. Si pria berambut merah bernama Gaara.

"Justru hasil bidikanku ini yang bikin aku takjub. Soal selera, maaf saja Gaara. Aku sudah punya kekasih." Seketika Gaara tertawa gara-gara pengakuan ini, mengingat dia cukup tahu sedikit mengenai kehidupan pribadinya.

Berbeda dengan kawan-kawan di kelompok mereka, Naru adalah satu-satunya tipikal lelaki setia, mungkin. Mereka belum pernah menemukan dia bergonta-ganti pasangan atau pula menggandeng perempuan lain, kecuali Hyuuga Hinata.

"Naruto, kita sama-sama tahu enggak ada pria yang sungguh bertahan dengan seorang wanita saja. Apa lagi untuk pria sepertimu dan kita-kita ini. Dikelilingi wanita cantik, seksi pula ... siapa yang enggak tergoda?" Penuturan ini seakan mengandung ujian, meski Gaara telah memahami jawaban apa yang bakal terbilang dari mulut rekannya itu.

"Pria seperti kita? Maksudmu karena berprofesi sebagai fotografer model cantik, semua orang pasti bertindak sama?" Lalu dengkusan Naru terbuang, sempat dia menunduk sejemang. "Bagaimana caraku menjelaskannya padamu, ya?! Begini saja, anggaplah aku ini sudah menikah. Jadi, aku hanya berusaha untuk tetap setia pada pasanganku. Karena hubungan kami diatur ke arah itu."

Gaara tergelak, lagi. "Tidak, tidak. Aku sangat mengerti kondisimu tanpa kau menerangkan begitu.  Aku cuma agak heran, ketika ada dari kita yang bisa bersikap wajar di balik pekerjaan ini. Sedangkan diluaran sana dan di mana pun tempatnya, wanita adalah kesenangan utama bagi para lelaki. 

"Gaara! Menjadi fotografer murni impianku karena aku suka seni foto. Tidak ada tujuan berbeda di belakang, apalagi kesenangan soal wanita."

Tatapan Gaara berubah serius. Dia lantas mengalihkan topik perbincangan mereka, "Sebenarnya bagaimana kau bisa tergila-gila dengan pekerjaan ini padahal kau bisa duduk santai di kursi pimpinan. Orang-orang memimpikan hal itu. Kau tahu 'kan kekuasaan amatlah penting di mata dunia."

"Aku juga bingung jika harus menceritakan penyebab atau alasan yang mendasari pilihanku. Tapi aku merasakan kenyamanan di sini tanpa ada perasaan asing yang mungkin dapat mengganggu. Boleh dibilang ... aku menyukai pekerjaan ini." Naru memaparkan apa yang mampu dia ucapkan dan semua kalimat itu adalah isi hatinya. Meski bagi sebagian orang, keputusan yang dia ambil merupakan kekeliruan.

"Aku tidak mengerti jalan pikiranmu."

"Pikirkan dirimu sendiri, untuk apa kau pusing karena argumen orang lain?" Naru menyahut sembari dia meletakkan kamera di atas meja. "Omong-omong, apa pemotretan Shizuka berjalan lancar? Aku penasaran tentang pendapatmu setelah bekerja sama dengannya."

Gerakan refleks, Gaara spontan memijat-mijat pangkal hidungnya. Pasalnya, Shizuka adalah si bossy yang merepotkan. "Dia menyebalkan. Enggak ada kesan positif kecuali kecantikannya. Padahal bekerja sama dengan dia, membantu sekali dalam menaikkan pamor. Dia 'kan model yang sering dikontrak sama majalah eksklusif."

Pernyataan Gaara barusan tidak ditanggapi oleh Naru, melainkan dia tampak menunduk seolah tengah memikirkan sesuatu. Semua orang tahu, bahwa Shizuka si model terkenal dengan jutaan penggemar. Bila ada kesempatan untuknya bekerja sama dengan perempuan itu, maka namanya akan meroket. Tetapi sehebat apa pun Naru, dia masihlah junior di agensi ini. Cukup mustahil jika dia yakin dapat menerima peluang emas tersebut. "Aku jadi makin penasaran sama dia."

"Kau bakal tahu sendiri nanti. Aku duluan ya, Naruto." Dan Naru mengangguk singkat disertai senyum tipis, usai Gaara berpamitan untuk keluar lebih dahulu.

Bersambung...

By:
Laceena & Cleorain

Selamat siang!
Ada cuap-cuap sedikit dari Sina. Bagi siapapun yang membaca novel ini, jangan menempatkan situasi di dalam cerita ini ke dalam kehidupan kalian ya. Latarnya berbeda, budaya kita dan Jepang tidak serupa. Tolong ambil apa saja yang mungkin bermanfaat sebagai inspirasi, tidak untuk segala hal berkonotasi negatif bagi norma dan kebiasaan kita. Please... Sina harap bisa memahami ya. Terima kasih ❤️

JEALOUSY ✓Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang