>Collab with @Cleorain
>Cover by @Cleorain
Menjalin hubungan sangat lama hingga tujuh tahun. Namun tak juga mengantarkan mereka pada satu hubungan pasti, pernikahan. Apa sebenarnya yang terjadi pada sepasang kekasih yang saling mencintai ini?
Hinata masuk ke dalam mobil SUV putih, Hummer H3 milik Naru. Mobil mewah yang ia beli hasil dari jeri payahnya selama bekerja pada agensi besar di Amerika. Mesin mobilpun berderam, begitu Hinata masuk ke mobil. Tersenyum canggung, sedikit merasa bersalah sebab membuat kekasihnya menunggu.
"Setidaknya sepadan dengan hasil yang kulihat." Naru menarik pedal gas dan mulai memutar roda setirnya, meninggalkan basemen.
"Aku cocok tidak dengan baju ini? Tadinya aku berencana memakai gaun. Kau bilang kita akan bermain ice skating, jadi aku menggantinya lagi. Mangkanya terlambat."
"Bagus kok, pas di badanmu. Tidak masalah berpakaian sederhana, riasan wajah tipis, kau tetap spesial di mataku.
"Yakin? Bukankah biasanya pria menyukai wanita berpenampilan seksi? Dan aku hanya memakai kemeja."
"Memangnya kenapa?"
"Enggak apa-apa sih. Aku sempat berpikir kalau kau lebih suka yang seksi, umumnya pria 'kan begitu. Apa lagi kau selalu berhadapan dengan mereka yang busananya kurang bahan, lebih menarik pastinya."
"Umum, tapi belum tentu semuanya 'kan? Aku pribadi tidak nyaman jika kau berpakaian terbuka di depan banyak orang. Tidak enak rasanya berbagi milik dengan orang lain. Tapi, namanya laki-laki tetap bisa melakukan satu hal yang mungkin merugikanmu. Semisal berkhayal sesuatu yang negatif.
"Kau bilang apa?" alis Hinata mengerut karena sebal.
"Ya justru itu yang akan terjadi jika perempuan tidak bisa menjaga penampilannya."
"Kau juga?!" muka Hinata berubah masam. "... kau memimpikan model-modelmu?"
"Aku?" Naru membelalakkan matanya. Dia mengamati lamat-lamat wajah Hinata. "Lucu sekali kalau kau cemburu dengan model-model itu, setiap hari kita bertemu dan tidur bersama."
"Tapi ... kau juga melihat mereka setiap hari. Semisal mereka yang melecehkanmu, bagaimana?"
Naru tergelak seketika, mendapati tingkah Hinata yang makin aneh. Mana mungkin ada wanita yang berani melecehkan pria bertubuh besar seperti dirinya, pikir Naru. "Cinta dan perhatianku sudah habis untukmu, tidak ada sisa buat wanita lain." kalimat meyakinkan seraya dia membelai punggung tangan Hinata dengan Ibu jarinya. "Mau kulakukan di sini?"
"Hah?!"
"Mungkin dengan hal itu baru kau bisa percaya ucapanku. Kita tunda saja kencannya dan menonton di lain waktu." goda Naru bersama cengiran khas miliknya.
"Tidak-tidak." mata Hinata membola jangka Naru menggodanya, "Hari ini aku mau menghabiskan waktu di tempat lain. Mumpung dirimu libur. Aku cukup kesal saat mendengar ada orang-orang yang mengolok-olokku dan tidak mempercayai hubungan kita. Mereka berpikir aku bohong. Ya karena kita jarang terlihat jalan berdua."
"Siapa?"
"Ino yang memberitahu. Dia melihatnya di akun instagrammu. Mereka bilang hubungan percintaanmu cuma rumor murahan."
"Ya Tuhan, aku bahkan enggak pernah memperhatikan komentar mereka jika menyangkut kehidupan pribadiku, termasuk mengenai dirimu. Itulah alasanku tidak ingin mengekspos hubungan kita. Padahal aku belum lama berkarier di sini, tapi mereka sudah mulai mencampuri kehidupanku. Abaikan hal-hal tidak penting semacam itu, aku dan kau yang tahu seperti apa kita menjalani hubungan ini."
Hinata menoleh, memandang kagum prianya tersebut. Tak lama sebuah kecupan berlabuh di pipi Naru. "Kata-katamu menghapus semua kejengkelanku." Ucap Hinata dengan binar-binar di sorot matanya.
. . .
Toho Cinemas Roppongi Hills. Akhirnya mobil SUV milik Naru tiba di lahan parkir bioskop. Tak ingin melalaikan waktu, sejoli itu dengan santai berjalan menuju dalam gedung. Berikutnya Naru membeli dua tiket film bergenre romansa yang memang menjadi kesukaan Hinata. Sedang Hinata, ia terlihat membeli dua cup berondong jagung rasa karamel pula dua cup coca cola.
Duduk di barisan kursi paling belakang, Naru sengaja memilih posisi ini agar tidak perlu merasa terganggu bila-bila ia malah akan tertidur nantinya. Seraya mengunyah berondong jagung, keduanya tampak serius menonton film yang diputar.
Durasi ke sekian menit, tak terasa setengah jam sudah film berlangsung. Naru tampak mulai mengantuk, menguap berulang-ulang. "Sayang, mereka mesra sekali." lirih Hinata, menggandeng pula lengan Naru. Dia kerap antusias berhadapan dengan apa saja yang disukainya, termasuk saat menonton kisah romansa. "Naru ..."
"Hem ...?"
Hinata bergeming sejenak, memperhatikan kekasihnya yang lagi-lagi masih juga menguap. Boleh saja dia kesal, akibat perubahan yang terjadi pada minat Naru terhadap film yang mereka tonton. Tahu-tahu kelopak matanya meredup, akibat kantuk yang sukar ditahan. Lalu emosional Hinata turut berganti, justru kini dia menyeringai kala Naru menyenderkan kepala ke bahunya.
Senyum tadi muncul, dini dia mengusap-usap kepala Naru di sisi yang bisa dia raih. Ada sedikit penyesalan terlintas di benak Hinata. Barangkali di hari libur kali ini, Naru punya rencana untuk beristirahat seharian di kamar mereka.
Masalahny, ada ego kuat yang membuat Hinata hampir hilang kesabaran. Dia amat berharap Naru mengajukan lamaran pernikahan secepatnya, tanpa perlu dia berkata-kata dahulu. Tentu dia tak menemukan alasan buruk atau satu kecurigaan yang membuat Naru belum juga melamar dirinya.
Siap bergelut dengan banyak analisa di dalam akalnya, Hinata meraup udara sebanyak paru-parunya membutuhkan. Dia menggamit telapak tangan Naru, menempelkan punggung tangannya ke pipi, seolah tengah meresapi kehangatan yang ditimbulkan. "Tidak ada laki-laki seperti dirimu, apa kau menyadarinya?!" sepenggal pernyataan bagi dirinya sendiri, terungkap bagai bisikan.
"Apa kau baru saja merayuku?" kontan Hinata melirik muka Naru dan yang dia temukan, kekasihnya itu masih terpejam.
Bagi siapapun yang membaca novel ini, jangan menempatkan situasi di dalam cerita ini ke dalam kehidupan kalian ya. Latarnya berbeda, budaya kita dan Jepang tidak serupa. Tolong ambil apa saja yang mungkin bermanfaat sebagai inspirasi, tidak untuk segala hal berkonotasi negatif bagi norma dan kebiasaan kita. Please... Sina harap bisa memahami ya. Terima kasih ❤️
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
https://karyakarsa.com/Laceena/wifey-for-him
Untuk kalian yang sudah setia menunggu Wifey for Him, kalian boleh baca ceritanya di Karyakarsa. Bab 1 bisa diakses secara gratis. Biar langsung masuk, ke link yang tercantum di wall Sina ya. Selamat membaca