Chapter 19

829 30 2
                                        

Rumah Sakit Internasional St Luke, dalam keadaan waswas Shizuka turut mendorong brankar menuju ruang IGD. Dengan langkah terburu-buru, tampak seorang dokter berikut dua orang perawat yang menuntun langkah mereka, sementara Gaara dan Kiba menyusul di belakang. "Denyut nadinya lemah," kata dokter itu lalu mencoba menekan dada Naru perlahan, layaknya gerakan memompa. Kenyataan tersebut bagai sambaran petir di siang bolong, detak jantung Shizuka memburu, ia ketakutan bahkan napasnya tercekat. "Langsung ke ruang ICU, kita harus cepat." dokter menimpali dengan penegasan hingga kedua perawat tadi pun bergegas.

"Dokter, dia akan baik-baik saja, 'kan?" tanya Shizuka terbata-bata karena terserang rasa takut dan khawatir yang teramat, keringat dingin kini membasahi dahinya.

"Berdoalah! Aku pasti berusaha semampuku untuk menyelamatkannya."

"Tolong selamatkan dia, dok... saya mohon." ucapan Shizuka terdengar memelas dan penuh harap. Perempuan itu kemudian menyeka sembarang wajahnya yang basah karena air mata.

Begitu melewati koridor ruang perawatan VIP dan bangsal rumah sakit, akhirnya mereka tiba di ICU. "Siapkan semua alat-alat yang diperlukan." dokter memberi perintah tegas selagi dia pun ikut serta mempersiapkan diri. Sementara Shizuka dan kedua rekan prianya menunggu di depan pintu bersama perasaan gusar, gelisah yang menghantui mereka.

"Gaara, coba telepon orang tuanya sekali lagi. Kita tidak boleh menunda kabar ini, takutnya terjadi apa-apa." ucapan Kiba justru kian menambah kalut suasana, sehingga baik Gaara juga Shizuka serempak melayangkan tatapan nyalang pada laki-laki berambut cokelat itu.

"Jaga bicaramu, Kiba! Lebih baik kau berdoa." Gaara membalas ketus. Ia tengah mencoba menghubugungi ulang Minato melalui ponsel Naru.

"Siapa juga yang mau..." Kiba menghentikan ucapannya saat Gaara mengangkat tangan, bermaksud memintanya untuk diam. Lalu laki-laki berambut merah itu menjauh dari kedua rekannya begitu ia mendengar jawaban dari seberang telepon.

------

Keheningan menguasai suasana di antara mereka, seraya menunggu informasi dari dokter yang menangani kondisi Naru, rekan-rekannya tersebut tampak bingung bersamaan. Entah apa yang harus mereka jelaskan pada ayah dan ibunya nanti disaat belum ada alasan tepat untuk dapat menegaskan mengapa peristiwa naas tersebut sampai terjadi.

"Shizuka, apa kautahu sesuatu?" tanya Gaara sambil memusatkan atensinya pada perempuan cantik itu. "Di tempat kejadian, aku tidak sengaja mendengar kau menyebut nama seseorang." Shizuka mendongak dan agak terkesiap. Namun tak lama ia kembali menunduk. "Ada luka di bibir Naruto, aku melihat itu saat berpapasan dengannya siang tadi, padahal sebelumnya luka itu tidak ada. yang kutahu dirimu satu-satunya orang yang paling lama bersamanya. Kalau kau memang peduli, jangan hanya diam atau malah menyembunyikan kebenaran. Bagaimana pun juga ini sangat tidak manusiawi, kalau kau tidak cepat mengungkap apa dan siapa dibalik ini semua... kita bisa saja kehilangan jejak. Max, siapa dia?"

Mata Shizuka membola, dia menelan ludahnya kasar dengan susah payah. "Dari mana kautahu?" tanyanya gagap.

"Sudah kukatakan aku tidak sengaja mendengarnya di lokasi kejadia. Jujur saja, sedari awal aku pun curiga. Kenapa tiba-tiba kau mengajak kami untuk membuntuti Naruto. Walaupun kau beralasan cemas atas keselamatan dia, tapi tetap agak mustahil bagiku hanya itu yang menguatkanmu dan akhirmya memaksa kami untuk ikut. Pasti kau juga sengaja mengarang cerita itu 'kan? Seingatku tidak hanya Naruto yang sering melewati jalan itu, aku juga pernah. Memang sepi, tapi ini pertama kalinya terjadi.

"Max pasti pelakunya, Naruto menolongku saat di basemen. Aku sangat yakin setelah Naruto memukulnya, dia tidak akan tinggal diam. Apalagi... aku... aku pernah bilang jika Naruto adalah kekasihku. Max... dia berandal kejam yang siap melakukan apa pun atas kehendaknya walau mengancam keselamatan orang lain. Maaf, aku benar-benar minta maaf. Aku tidak bermaksud membawa Naruto ke dalam masalahku."

"Jadi apa hubunganmu dengan Max? Dan kenapa Naruto menolongmu dari pria itu? Apa yang dia perbuat padamu?" Gaara melanjutkan pertanyaannya sambil masih mengamati intens Shizuka.

"Mantan kekasihku, dia menyerangku di basemen dan Naruto ada di sana, lalu dia langsung menolongku. Hidung Max berdarah karena pukulannya, itu sebabnya dia tidak akan puas bila melepas Naruto begitu saja."

Gaara mendengkus akibat pengakuan Shizuka. Tentu dia paham, Shizukalah penyebab prahara ini meskipun perempuan itu tidak merancang dengan sengaja. Tapi tetap nasi sudah menjadi bubur dan tak lagi bisa disesali. Kini yang terpenting adalah melaporkannya kepada pihak berwenang, agar Max beserta orang-orang suruhannya mendapat balasan setimpal.

"Tapi kau harus mau bersaksi di hadapan polisi, Shizuka. Katakan bahwa Max yang pertama kali mencoba melukaimu, kau harus mengungkap sejujur-jujurnya kepada mereka, tanpa menutupi kronologi sekecil apa pun, akui sama persis seperti yang kaukatakan padaku."

"Aku benar-benar minta maaf. Aku tak menyangka akan begini akhirnya." Shizuka tertunduk lemas bersama raut penyesalan yang kental di wajahnya.

"Dokter!" Gaara bangkit dari duduknya dan buru-buru menghampiri.

"Beruntung kalian cepat membawanya ke sini. Lewat sedikit saja, bisa berakibat fatal." Gaara mendesah pelan, merasa lega atas penuturan dokter berambut perak tersebut. "Tapi... sepertinya dia mengalami trauma berat, jadi sulit baginya untuk sadar. Sementara waktu, biarkan dia sendiri. Ketenangan memicu pasien untuk lebih cepat sadar. Lagi pula benturan di tubuhnya cukup keras, hingga memar parah di beberapa bagian. Aku pergi dulu, kalau ada apa-apa kau bisa memanggil perawat yang berjaga," papar dokter bernama Kabuto tersebut sebelum ia berpamitan.

-----

"Kenapa ini bisa terjadi? Bagaimana keadaannya? Ya, Tuhan... tolong lindungi putraku." Kushina agak histeris, ia menangis dalam pelukan Minato yang pula turut merasa cemas sama dengannya. Mendengar kabar buruk yang disampaikan oleh Gaara, membuat mereka mengambil langkah seribu menuju Tokyo. Jelas saja demikian, mereka amat terkejut atas berita itu, terlebih semula Naru dalam keadaan sangat baik dan tenang. Tak ada raut aneh terlihat maupun gelagat mencurigakan yang ia tutup-tutupi. Fotografer tampan itu tampak santai seperti selalu.

"Sabar, sayang. Kau yang tenang, ya... putra kita pasti baik-baik saja. Apa kau lupa kalau dia adalah pria tangguh? Dia kebanggaan kita, jadi kau harus percaya padanya. Mengerti?" kata Minato demi menenangkan istrinya.

"Aku tahu dia itu kuat, makanya aku tidak terima dengan keadaannya yang babak belur begitu, pokoknya berandal-berandal itu harus dihukum berat, Minato." tuntut Kushina atas kekesalan yang ia rasakan saat ini. Emosi meluap-luap bersama kekhawatiran tinggi secara bersamaan membelenggunya. "Di mana menantuku?" tanya perempuan paruh baya itu setelah melepas pelukan dan menyeka hidung berikut air matanya dengan sapu tangan. Ia menggulir pandangan pada ketiga rekan Naru yang sekarang berada di dekatnya.

"Sudah coba kuhubungi, tapi tidak bisa. Nomornya tidak aktif," sahut Gaara mengungkap.

"Hikari, apa perlu kuberitahu?" Kushina mengamati suaminya, sekalian aku jug ingin bertemu dengannya."

"Tentu saja, telepon mereka sekarang," titah Minato menyetujui keinginan istrinya dan tak mau berlama-lama, Kushina langsung beringsut agak menjauh dari mereka untuk menelepon keluarga Hinata. Sedangkan Minato, pria itu tampak menghampiri Gaara dan yang lain, kemudian bertanya, "Kalian tahu dalang dibalik semua ini?"

-----

Hinata masih terdiam, mengamati pintu apartemen dengan wajah datarnya. Ingin marah, tapi ia cukup bingung hendak melepasnya kepada siapa? Rasanya terluka, namun bukannya menangis, justru perempuan itu berulang kali menghela napas menandakan cemas yang barangkali kini melandanya. Dari lubang-lubang persegi ventilator dapat ia lihat kegelapan memenuhi ruang dibalik pintu, jelas Naru pun tidak berada di apartemen.

Sepuluh menit bertahan dalam diam, akhirnya Hinata membuka pintu. Gairahnya hilang, sungguh berbeda dari biasanya. Ia melirik ke sebelah kanan dan meraba dinding, mencari saklar untuk menyalakan lampu. Peristiwa manis nan romantis tempo hari masih membekas dalam ingatannya. Namun tak lama lamunan tersebut seakan berupaya diabaikan dan Hinata perlahan berjalan santai ke anak tangga menuju kamar. Bunyi dering ponsel membuatnya terkesiap, ia mendesah pelan mendapati nama sang ibu tertera di layar android itu.

"Halo, Ibu..."

"Apa yang kau lakukan? Naruto sedang sekarat di sini, tapi justru wanita lain yang menunggunya. Apa kau gila? Cepatlah ke rumah sakit, sekarang!"











JEALOUSY ✓Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang