Hari ini sudah tepat seminggu aku berada dikampung dan aku berencana menemani bunda kepasar sebentar lagi.
Kuperbaiki letak jilbab instanku dan mengeluarkan motor dari garasi. Hari ini setelanku simple.
Hanya sebuah jilbab instan berwarna hitam, hoodie abu-abu dan sebuah celana training hitam. Simple dan tidak ribet.
Setelah mengunci pintu rumah, bunda naik diboncengan. Kulajukan motorku dengan kecepatan sedang melewati jalan berbati menuju pasar.
Banyak orang yang hendak kepasar seperti kami. Ada yang kepasar dengan berjalan sambil membawa barang jualan yang dipikul dipundak, ada juga yang mengendarai motornya seperti kami.
Kuparkirkan motorku diarea khusus parkiran motor. Disana ada seorang pria dengan rompi berwarna orange sedang mengatur parkiran.
"assalamualaikum selamat pagi bu kepsek!" sapanya ramah sambil menyentuhkan tangannya kekening. Pose hormat.
"waalaikumsalam pak Hendri!" jawab bunda.
"Wih.. siapa ini bu? Mantu?" pak Hendri menatapku.
"Ngawur aja nih pak Hendri... ini anak tengah saya.. belom pernah liat ya?"
"Halo neng.. saya pak Hendri, disini saya multitelen loh neng.. kalo pagi saya kerja disini jadi kang parkir, kalo siang saya kerja dikebon.. kalo malem saya ngeronda.. kadang saya bantu-bantu di kecamatan... kadang bersih-bersih disekolahnya bapak juga ya..." ia memperkenalkan dirinya dengan lugas dan kocak.
"Halo pak.. saya kalo dikampus dipanggil Athaya, kalo dirumah dipanggil Jana..." kulemparkan senyumku pada pak Hendri.
"Duh neng Jana.. manis banget.."
"Udah ah pak... anak saya jangan digodain terus.. ayo kak..." bunda berlalu terlebih dahulu memasuki pasar.
"Permisi pak.."
"Iya neng silahkan..."
***
Kami pulang sejam kemudian dengan keranjang belanjaan bunda yang penuh dengan bahan masakan dan lainnya.
Kubantu bunda memasukkan bahan belanjaan setelah memarkirkan motor.
Bunda sudah berganti baju menjadi baju kebangsaannya. Daster.
Kuletakkan keranjang belanja bunda didalam dapur lalu berlari untuk ganti baju kekamar.
Setelah mengganti baju, aku bergabung bersama bunda didapur untuk memasak.
Tak lama, ketukan pintu terdengar.
Kupasang jilbabku yang tadi kugantung dileher lalu berlari membuka pintu.
"Assalamualaikum.."
"Waaialaikumsalam... eh tante Fitri?" aku lumayan terkejut. Disana tante Fitri berdiri bersama Arfan.
"eh Taya..." tante Fitri memelukku lalu kubalas pelukannya.
"Masuk tan.. " aku menggeser tubuh, mempersilahkan tamu-tamuku masuk.
Tante Fitri berjalan masuk bersama Arfan dibelakangnya.
"Hai kak..." sapa Arfan.
"hai.."
"Tante.. Fan.. duduk dulu Taya panggilin bunda..." aku berjalan masuk kearah dapur menemui bunda yang masih asik bergelut dengan bawang dan wortel.
"siapa kak?" tanya bunda.
"Ada tante Fitri sama Arfan bun.." kuraih dua cangkir teh yang berada di rak. Membuat dua cangkir teh untuk tamu bunda.
Aku membawa nampan berisi dua cangkir teh kearah ruang tamu. Tapi aku lumayan terkejut. Tamuku bertambah satu orang. Ada pak Arkan disana, duduk disamping ibunya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Jalan Takdir
Literatura Femininakita tidak tahu jalan yang digariskan Tuhan seperti apa. mau manusia mencoba untuk merusaknya dengan cara apapun, garis Tuhan sudah lurus dan tak bisa dibengkokkan. Seperti kisah Athaya dan Arkandi. dua insan yang merasa bahwa Garis Tuhan benar-bena...
