16 - Planing

3.6K 463 33
                                        

"Oryz, nanti yang jemput Oryz sekolah mbak ya

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

"Oryz, nanti yang jemput Oryz sekolah mbak ya. Moma dan Daddy harus pergi." Kata (Namakamu) pada Oryz yang sedang melahap sarapannya.

Oryz menoleh ke samping. Tepat pada (Namakamu) dengan pandangan penuh tanda tanya. "Moma sama Daddy mau kemana? Kenapa Oryz gak diajak?"

"Moma sama Daddy ada urusan. Lagian Oryz kan harus sekolah." Jawab (Namakamu) dengan lembut sembari tersenyum menatap Oryz.

"Aku mau ikut. Pokoknya aku ikut." Bibir Oryz mengerecut.

"Oryz. Moma harus ke rumah sakit. Moma sakit kalau kamu nakal begini." Sahut Iqbaal tegas.

"Mas." Tegur (Namakamu) pada Iqbaal. Dia tidak suka ketika Iqbaal bersikap terlalu tegas pada Oryz.

Mata Oryz mengedip beberapa kali dan ujung bibirnya tertarik ke bawah. "Maaf. Hueeeeehuhu." Tangisan Oryz pecah seketika. Dia terlalu percaya dengan omongan Daddynya. Yang membuatnya merasa bersalah karena membuat Momanya sakit.

(Namakamu) mempelototi Iqbaal kemudian menarik Oryz ke dalam pangkuannya. Dia berusaha menenangkan Oryz dari tangisannya. "Moma gak kenapa - napa. Udah ya, gak usah nangis lagi." Tangan (Namakamu) mengusap air mata Oryz.

Sedangkan si pelaku hanya diam dan terlihat acuh. Padahal ulahnya sudah membuat Oryz menangis.

"Moma jangan sakit. Oryz gak nakal." Ucap Oryz di tengah isakan tangisnya. Sesekali dia sesenggukan.

"Moma gak sakit. Jadi, Oryz ke sekolah ya."

Oryz menggeleng lalu mengalungkan kedua tangannya di leher (Namakamu) dengan erat. Enggan melepaskan.

"Kalau hari ini Oryz sekolah, Moma sama Daddy bakal kasih Oryz hadiah."

"Apa?" Tanya Oryz masih sesenggukan.

"Rahasia. Kalau moma kasih tahu sekarang, nanti jadi surprise dong. Jadi, Oryz mau kan sekolah? Kalau gak mau sekolah nanti gak pintar loh."

"Moma janji ya."

"Iya sayang." Tangan (Namakamu) bergerak mengusap rambut Oryz dengan lembut. Sedang Iqbaal hanya menghela napas lega.

***

Selama perjalanan ke rumah sakit, (Namakamu) terlihat gugup. Hal itu terlihat dengan jelas di mata Iqbaal. Bagaimana tangan istrinya itu saling menggenggam dan bergerak di atas pangkuan.

Sebelah tangan Iqbaal terulur menggenggam tangan (Namakamu). Memberi sedikit ketenangan. Agar (Namakamu) tidak gugup. Iqbaal yakin operasinya nanti akan berjalan lancar dan semua akan baik - baik saja. "Jangan cemas."

(Namakamu) menoleh seolah meluluh. Mendengar kalimat singkat dari Iqbaal membuat kegelisahannya sedikit luntur dari dalam benaknya. "Jangan bilang mama atau orang tuaku ya Mas. Aku gak mau mereka tahu."

"Aku gak bilang ke mereka. Jadi sekarang kamu tenang ya. Gak usah pikirin macam - macam."

(Namakamu) mengangguk. Dia akan operasi, dan kecemasannya hanya akan membuat tekanan darahnya baik. Dan itu tentu saja bukanlah hal yang baik.

"Ngomong - ngomong soal hadiah yang kamu bilang ke Oryz tadi, kamu mau ngasih apa?" Tanya Iqbaal untuk mengalihkan pembicaraan mereka sekaligus agar (Namakamu) tidak terlalu memikirkan operasinya nanti.

"Kamu kan beberapa waktu lalu bilang bikinin Oryz pasport dan beberapa bulan lagi udah long week, jadi aku berencana buat ngajak liburan ke disney land."

Iqbaal agak kecewa mendengar jawaban dari (Namakamu). Ekspektasinya terlalu membumbung tinggi. Dia pikir hadiah yang (Namakamu) maksud adalah adik kecil untuk Oryz. Ternyata liburan ke disney land. "Berdua? Aku?"

"Ya kalau kamu gak sibuk ayo aja."

"Masa ngajak suaminya gitu."

"Terus gimana? Bukannya awalnya juga kamu yang mau ngajak Oryz ke disney land. Apa aku harus bilang, 'Mas liburan ke disney land yuk'. Gitu?"

"Kapan sih? Nanti biar aku ambil cuti."

"Pas long week."

"Iya aku ngerti pas long week. Maksudku tuh tanggalnya. Tanggal berapa?"

"Ya belum aku pikirin lah. Lagian ini baru rencana awal doang. Aku juga ngomong gitu secara impulsif. Gak ada rencana sebelumnya." Ada nada emosi saat (Namakamu) menjawab pertanyaan Iqbaal. Harusnya mereka berbicara dengan santai agar (Namakamu) tenang. Tapi entah kenapa rasanya Iqbaal seperti sexang mengajaknya berdebat. Padahal Iqbaal bertanya dengan cara baik - baik.

"Kok kamu ngegas?"

"Maaf. Aku tadi kebawa emosi aja."

"Mending kamu nyari hadiah lain."

"Kenapa emang?"

"Kan liburannya masih lama. Dia pasti bakalan minta hadiahnya. Mana mungkin dia mau nunggu hadiah sampai libur panjang."

"Kan tinggal diomongin. Dikasih pengertian. Oryz pasti ngerti kok."

Iqbaal mengalah. Dia hanya mengangguk - angguk meski dia masih teguh dengan pendiriannya. Oryz sudah pasti akan menagih hadiah yang sudah (Namakamu) janjikan.

***

"Moma dari mana? Kok baru pulang?" Tanya Oryz saat melihat Momanya pulang setelah sejak lusa kemarin dia selalu bertanya dimana momanya itu berada.

"Oryz kangen Moma ya?" Tanya (Namakamu) dibalas anggukan oleh Oryz. Memang sejak operasi (Namakamu) tidak diizinkan langsung pulang. Dia harus menjalani opname dan baru diperbolehkan pulang hari ini. Itu pun dia jarus bedrest total sampai keadaannya benar - benar pulih. "maaf ya sayang. Moma ada urusan. Oryz tetap sekolah kan?"

Oryz mengangguk dengan semngat. "Oryz juga gak nakal. Iya kan mbak? Jadi mana hadiah buat Oryz." Oryz menengadahkab kedua telapak tangannya. Senyumnya melebar menampakan jajaran gigi susunya dan binar mata polos terpancar di kedua matanya.

"Oryz pengen ke disney land kan?"

"Mauuuuu. Besok kita kesana?" Oryz sudah kegirangan.

Iqbaal yang masih berdiri di dekat (Namakamu) hanya diam. Menanti apakah putri kecilnya bisa menerima penjelasan dari (Namakamu) dan mau menunggu hadiahnya sampai libur panjangnya tiba.

"Oryz dengerin moma. Kita ke sana kalau udah libur."

"Minggu?" Tanya Oryz polos.

"Bukan. Nanti kalau libur panjang."

Raut wajah Oryz langsung berubah kecewa. Padahal dia sudah manantikan hadiah yang akan dia dapatkan.

"Kalau Oryz minta mainan aja, boleh gak? Oryz kira, moma bakal beliin mainan baru. Nana abis pamer mainan baru. Dia punya boneka olaf. Besaarrr banget."

"Oryz mau mainan?" Tanya Iqbaal.

Oryz mengangguk pelan. Sudut - sudut bibirnya tertarik ke bawah.

"Nanti kita beli mainan ya."

"Serius? Makasih daddy." Senyum Oryz kembali merekah. Begitupun Iqbaal yang tersenyum penuh kemenangan. Apa Iqbaal bilang, Oryz tidak mungkin akan bersabar menunggu hadiahnya sampai libur panjang.

Tbc...

Hahai. Gimana? Lama ya? Sekali up malah pendek. Aku usahain tamatin cerita ini. See next part

Home - IDRTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang