Seperti biasanya, setelah makan siang Juna akan menyempatkan melihat berita melalui ipadnya. Dia orang yang berpikir kritis terhadap lingkungannya. Entah isu politik, sosial, bahkan ekonomi. Dia orang yang tepat jika diajak berdiskusi mengenai isu - isu yang sedang tersebar di khalayak.
Siang ini berita utamanya adalah pesawat yang jatuh di laut jawa. Lebih tepatnya fi perairan karawang. Kejadiannya baru sekitar satu jam lalu. Menurut berita, jumlah korban dalam pesawat adalah 235 penumpang beserta kru.
Juna masih menyimak ketika pembawa berita menjelaskan kronologi pesawat milik maskapai Elang bisa jatuh. Bahkan sampai nama - nama korban ditampilkan, Juna membacanya satu per satu.
Hingga sebuah nama membuatnya berjengit. (Namakamu), nama itu tidak asing baginya. Meskipun tidak dekat, dia tau jika (Namakamu) adalah istri Iqbaal. Tapi setahunya, (Namakamu) sudah tidak bekerja sebagai pramugari lagi.
Untuk sekedar memastikan, sebaiknya dia bertanya langsung pada Iqbaal. Dia berjalan tergopoh ke ruangan Iqbaal dengan membawa iPadnya.
"Baal." Panggil Juna berjalan menghampiri Iqbaal yang terlihat serius dengan kertas - kertas di atas meja.
"Istri lo kerja lagi?"
"Mungkin."
"Kok mungkin? Gue nanya serius."
"Beberapa minggu lalu dia izin sih. Tapi gue gak tau dia mulai kerja kapan. Emang kenapa?"
"Lo gak liat berita?"
Iqbaal menggeleng. Wajahnya dipenuhi kebingungan. "Kenapa sih?"
"Mending lo coba telpon istri lo."
"Ya tapi kenapa dulu?"
"Telpon sekarang." Juna mempertegas. Iqbaal menurut. Dia menghubungi nomor (Namakamu), tapi tidak tersambung.
"Gak bisa. Kenapa? Lo ada perlu sama dia?"
"Lo jangan kaget. Lo jangan panik. Nama istri lo ada di daftar korban kecelakaan pesawat di Karawang."
"Jangan bercanda. Orang tadi pagi aja masih nganter Oryz sekolah."
"Gue gak bercanda. Kejadiannya baru satu jam yang lalu." Juna menunjukan layar iPadnya.
Wajah Iqbaal menegang. Secepat kilat dia meraih ponsel dan kunci mobilnya kemudian berlari menuju parkiran. Meski Juna sudah memperingatinya untuk tidak panik, tetap saja Iqbaal panik, kalut.
Tujuannya sekarang adalah rumah untuk memastikan. Mungkin saja (Namakamu) di rumah dan nama korban yang tertera milik orang lain yang memiliki kesamaan nama.
"Mbak, (Namakamu) dimana?" Tanya Iqbaal pada asisten rumahnya.
"Kurang tahu, Tuan. Tapi tadi pergi sehabis nganter Non Oryz ke sekolah."
"Perginya pakai baju apa?"
"Pakai baju biasa. Tapi bawa koper. Tadi sih sambil telpon temennya kalau gak salah."
Suara ponsel Iqbaal yang berdering mengalihkannya. Dari sekolah Oryz. Iqbaal segera mengangkat.
'Selamat siang Pak Iqbaal. Mohon maaf jika saya mengganggu waktu bapak. Saya mau memberitahu kalau Oryz sudah waktunya pulang. Tapi belum ada yang menjemput.'
"Oh iya maaf. Bisa tunggu beberapa menit?"
'Iya Pak.'
Iqbaal kemudian menghubungi Mamanya untuk meminta tolong menjemput Oryz ke sekolah. Dia harus ke posko crisis center yang ada di bandara untuk memantau perkembangan informasi.
Baru saja Iqbaal menutup sambungan telepon dengan mamanya, sudah ada panggipan masuk dari Papa mertuanya. Pasti menanyakan tentang (Namakamu).
'Iqbaal, benar (Namakamu) jadi korban kecelakaan pesawat? Dia di rumah kan?'
"Pa. Maaf. Harusnya waktu itu aku larang dia kerja lagi."
'Ya gusti. Terus gimana sekarang?'
"Aku cari info dulu. Nanti kalau ada info lanjutan, aku langsung kabarin Papa."
'Iya. Papa tunggu.'
***
Pendek dulu ya. Biar pada kepo
KAMU SEDANG MEMBACA
Home - IDR
FanfictionPernikahan itu hanya pernikahan bisnis. Meski keduanya tinggal di atap yang sama, mereka tak ubahnya hanya dua orang asing. 140620
