(Namakamu) mengemasi baju - bajunya ke dalam sebuah koper. Dalam hati dia merutuki Aura yang mengajaknya secara mendadak. Tadi saat perjalanan mengantar Oryz sekolah, Aura menelponnya. Mengajaknya ikut ke acara amal yang diadakan para mantan pramugari Qatar. Dibanding mengajak, lebih tepat kalau disebut memaksa.
Acaranya sendiri diadakan di Bandung dan perjalanan ke Bandung memakan waktu hampir tiga jam.
Oh ya, mengenai pakaian yang (Namakamu) kemasi, itu pakaian yang sudah jarang dia pakai. Baju - baju itu nantinya akan dilelang dan hasil pelelangan akan disumbangkan ke panti asuhan dan panti jompo.
Setelah selesai mengemasi baju - baju yang akan dia bawa, (Namakamu) menelpon Aura. Meminta agar Aura menunggunya terlebih dahulu. Setidaknya mereka bisa datang bersamaan meskipun tidak semobil.
***
"Kakak." Panggil seorang saat (Namakamu) baru saja memasuki sebuah kafe yang sudah dibooking khusus untuk acara reuni sekaligus acara amal.
(Namakamu) tersenyum lebar melihat Rin yang begitu bungah melihat kehadirannya. "Hei Rin. Kok kamu disini?"
Bisa dibilang Rin adalah junior (Namakamu) di maskapai. Junior paling dekat karena sering punya jadwal terbang bersama. Nama Rin yang sebenarnya adalah Rina. Tapi Rin meminta agar dipanggil Rin saja. Nama Rina terlalu jomplang dengan penampilannya. Gak ada yang salah dengan nama Rina. Hanya saja ya itu, joplang. Rin cantik tapi tidak ada unsur pribumi di wajahnya. Wajahnya terlalu oriental untuk dipanggil Rina.
"Aku gak perpanjang kontrak. Mau pulang aja." Jawab Rin setelah sempat bercipika - cipiki.
"Terus sekarang kerja dimana?"
"Aku gak kerja lagi kak. Tapi aku yang punya kafe ini."
"Serius Rin? Seorang kamu milih berkecimpung di bidang usaha daripada terbang? Bukannya kamu dulu obsessed banget mau terbang biar bisa keliling dunia?"
Rin tertawa. "Udah puas keliling. Lagian pilihanku juga gak beda jauh sama kakak. Kakak juga berhenti jadi pramugari buat ngurus keluarga."
"Terus kamu kapan berkeluarga?" Tanya (Namakamu) setengah meledek.
"Doain aja. Nanti pasti aku undang. Eh ayo gabung ke yang lain." Ajak Rin membawa (Namakamu) bergabung dengan yang lain.
"Tapi akj gak bisa lama deh Rin. Harus balik lagi ke Jakarta."
"Yahhhh kak. Baru juga nyampe." Rin kecewa. Tentu saja. Padahal dia ingin menghabiskan banyak waktu untuk dekedar mengobrol dengan (Namakamu).
"Aku tadi gak sempet pamit. Mana hp aku mati. Aku juga harus jemput anak di sekolah."
"Kalian berdua ngobrolin apa sih?" Aura ikut menimbrung.
"Ini nih kak. Masa kak (Namakamu) mau langsung balik." Adu Rin pada Aura.
"Lo gak capek apa nyetir Jakarta Bandung terus mau balik lagi?"
"Oryz gak ada yang jemput. Gue juga tadi gak sempet pamit."
"Urusan Oryz gampang lah. Biar ditebengin sama asisten gue. Lo disini aja. Ikut acara ini sampai selesai."
***
(Namakamu) benar - benar tidak bisa tenang selama acara itu berlangsung. Sekitar jam satu dia memutuskan pulang.
Tapi sialnya di tengah perjalanan, dia malah terjebak mancet di tengah tol. Ada kecelakaan di depan sana. Antara truk dan bus. Bus yang oleng menutup separo jalan mengakibatkan kemacetan.
Harusnya jam tiga (Namakamu) sudah sampai rumah. Tapi karena macet, dia sampai rumah sudah jam empat lebih.
Rumah sepi. Mobil Iqbaal juga tidak ada. Mungkin belum pulang. (Namakamu) masuk ke dalam, berharap Oryz ada di dalam.
Tapi nihil. Rumah benar - benar terasa kosong. Mata (Namakamu) menangkap ada aktivitas di dapur. Dia mendekat dan mendapati asistennya sedang bebersih.
"Mbak." Panggilnya.
Asistennya tampak terkejut. Tapi keterkejutannya terkesan berlebihan. Seolah dia sedang melihat hantu. Matanya melotot menatap (Namakamu) horor.
"Mbak kenapa?"
"Ini serius nyonya?" Tanyanya tergagap.
(Namakamu) malah kebingungan dengan gelagat tingkah asistennya. "Iya. Emang siapa lagi?"
"Bukan hantu?"
"Hantu apaan sih, Bi? Jangan bercanda."
"Tapi kan nyonya jadi korban kecelakaan pesawat."
"Pesawat apaan? Hari ini saya gak naik pesawat."
"Loh tapi nama nyonya ada kok di daftar kecelakaan pesawat." Asistennya tetap ngotot.
"Kalau saya kecelakaan pesawat, saya gak mungkin disini. Mas Iqbaal belum pulang?"
"Tadi siang sempet pulang. Terus ke bandara buat nyari info soal nyonya."
Ini salah paham. Pihak maskapai pasti salah menginput data. Dan Iqbaal pasti mengira jika dia benar - benar menjadi korban.
Dia mengambil ponsel dari sakunya untuk menghubungi Iqbaal. Tapi dia lupa jika ponselnya mati karena kehabisan daya. Lagipula jika dia menelpon Iqbaal, malah akan membuat Iqbaal grasak - grusuk. Bisa - bisa Iqbaal yabg celaka di jalan. Sebaiknya dia saja yang menyusul Iqbaal ke bandara.
Karena terlalu lelah menyetir dari Bandung, (Namakamu) memilih menggunakan jasa taksi online untuk ke Bandara. Dia meminta bantuan asisten rumahnya untuk memesankan taksi.
***
(Namakamu) berjalan ke arah pusat informasi untuk keluarga korban pesawat. Matanya terus mencari keberadaan Iqbaal di antara banyaknya orang disana.
Akhirnya dia menemukan Iqbaal. Sedang duduk membungkuk dengan kedua tangan menyatu menopang dahinya. Terlihat putus asa.
(Namakamu) berjalan mendekatinya kemudian menyentuh bahu Iqbaal. Membuat Iqbaal sedikit terkejut. Mendongak menatap ke arah (Namakamu). Matanya langsung melebar. Detik berikutnya dia sudah memeluk (Namakamu) erat. Seolah takut kehilangan.
"Mas, maaf." Lirih (Namakamu) yang merasa bersalah. Tentu saja dia merasa bersalah. Pergi tanpa pamit dan membuat panik banyak orang.
Iqbaal melepaskan pelukannya. Kedua tangannya memegang bahu (Namakamu). "Kamu gak papa kan?" Tanya Iqbaal mengamati wajah (Namakamu) lekat - lekat.
(Namakamu) menggeleng. "Aku gak papa. Maaf ya, aku tadi ke Bandung gak pamit kamu."
"Lain kali kalau mau pergi pamit dulu. Biar gak bikin panik."
"Iya."
"Aku tadi bingung mau nyari kamu kemana waktu nama korban udah direvisi."
"Maaf."
"Udah jangan minta maaf lagi. Liat kamu baik - baik aja, aku udah bersyukur."
"Tapi Oryz gak di rumah."
"Aku minta mama buat jemput Oryz. Kita jemput Oryz dulu sebelum pulang."
"Tapi nanti aku di mobil aja ya. Aku gak ikut turun."
Iqbaal paham. Dia mengangguk. Kemudian mereka berjalan bersama meninggalkan tempat itu. Bersamaan dengan langkah meninggalkan cerita ini. Kisah akan berlanjut, namun cerita akan berhenti sampai sini. Terimakasih dan selamat tinggal.
KAMU SEDANG MEMBACA
Home - IDR
FanficPernikahan itu hanya pernikahan bisnis. Meski keduanya tinggal di atap yang sama, mereka tak ubahnya hanya dua orang asing. 140620
