Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Nungguin ya?
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Jarum pendek jam di kamarnya sudah menujuk angka sembilan. (Namakamu) masih menunggu Iqbaal yang sedari tadi berada di ruang kerjanya kembali ke kamar dengan perasaan gugup.
(Namakamu) rasa ini waktu yang tepat untuk berbicara dengan Iqbaal. Memperjelas semuanya sekaligus memperbaiki hubungan mereka. Seperti yang disarankan Aira.
Suara pintu yang dibuka membuat dada (Namakamu) semakin berdebar. Tidak pernah dia segugup ini saat berhadapan dengan Iqbaal. Bahkan tidak hanya gugup. Ketegangan langsung melingkupi kamarnya.
(Namakamu) meremas tangannya untuk mengurangi kegugupannya. Juga menghela napas secara perlahan untuk menenangkan degup jantungnya.
"Iqbaal, bisa gak kita ngobrol sebentar?" (Namakamu) harap Iqbaal tidak mendengar getar disuaranya.
"Ngobrol apa?" Iqbaal duduk di sisi ranjang yang kosong.
"Soal kita. Soal aku. Soal kamu. Sebelumnya, aku minta maaf karena aku lalai dari tugas - tugas aku sebagai istri kamu. Tapi itu semua karena aku belum siap buat berumah tangga."
"Udah?" Tanya Iqbaal begitu ringan. Menganggap obrolan mereka tidak lah penting.
Dada (Namakamu) semakian berdebar melihat Iqbaal tidak benar - benar mendengarkannya. "Belum. Aku tahu kamu marah, kamu kecewa. Tapi bisa gak kamu nanggepinnnya serius?"
"Yaudah terusin."
(Namakamu) menghela napas terlebih dahulu sebelum mulai mengutarakan isi kepalanya. "Dulu, aku berencana buat fokus ke rumah tangga kalau umurku udah tiga puluh tahun. Tapi satu tahun pernikahan kita, kamu menikah sama perempuan lain. Aku berusaha bersikap biasa aja. Tapi hati aku gak bisa bohong. Aku kecewa. Kecewa sama diri aku sendiri."
"Kenapa harus kecewa? Bukannya itu pilihan kamu? Mengabaikan rumah tangga kita." Ada nada merendahkan dalam pertanyaan yang dilontarkan Iqbaal.
"Ada alasan lain yang membuat aku gak siap berumah tangga. Aku gak siap liat kamu lebih kecewa lagi. Karena aku gak akan bisa ngasih kamu keturunan."