18 - Sorry

3.3K 457 30
                                        

"Daddy." Teriak Oryz girang ketika mendapati Iqbaal memasuki kamar hotel mereka. Gadis kecil itu langsung turun dari ranjang dan berlari kecil menghampiri Iqbaal.

(Namakamu) yang sebelumnya merebahkan tubuhnya mengubah posisinya menjadi duduk di pinggir ranjang sambil melihat interaksi Oryz dan Iqbaal.

"Kok belum tidur?" Tanya Iqbaal pada putri kecilnya.

"Oryz nungguin daddy."

"Kan udah malem. Harusnya Oryz tidur."

"Oryz mau nunjukin Daddy lagu kesukaan Oryz."

"Besok aja Oryz. Udah malem. Daddy juga harus mandi." Kata (Namakamu) yang kahirnya buka suara setelah sedari tadi hanya menyimak.

Oryz memberenggut. Padahal dia sudah tidak sabar menyanyikannya di depan Daddynya.

Iqbaal mengusap pipi tembam Oryz dengan lembut. "Kok cemberut? Yaudah nyanyiin buat Daddy. Tapi habis itu langsung tidur."

Senyum Oryz kembali lebardan mulai menyanyikan lagu yang dia maksud. "Under the sea. Under the sea. Darling it's better. Down where it's wetter. Take it from me. Up on the shore they work all day. Out in the sun they slave away. While we devotin'. Full time to floatin'. Under the sea"

Iqbaal tertawa mendengar bagaimana Oryz membawakan lagunya. Dia menirukan karakter si kepiting menyanyikan lagu under the sea. "Time to sleep." Iqbaal mengangkat tubuh Oryz. Membawanya ke ranjang dan menidurkannya.

Iqbaal mengusap kepala Oryz. "Sleep tight." Ucapnya. Kemudian matanya menatap (Namakamu). Perempuan itu terlihat pucat di mata Iqbaal. "Are you okay?"

"Cuma lagi dapet aja." Jawab (Namakamu) tanpa menatap Iqbaal.

"Sakit?"

"Gak begitu sakit."

"Perlu ke dokter gak?"

"Aku gak papa, mas. Mandi sana. Terus istirahat. Aku mau tidur."

Iqbaal tidak membalas lagi begitu melihat (Namakamu) kembali membaringkan tubuhnya di samping Oryz. Tapi dia tidak yakin dengan jawaban (Namakamu). Dia terlihat menghindarinya secara tidak langsung.

Dia memilih membersihakan diri dan tidak menghiraukannya. Mungkin mood (Namakamu) sedang tidak baik seperti biasa saat awal - awal masa datang bulan. Dan mungkin (Namakamu) juga sedang kelelahan.

Sejujurnya Iqbaal kecewa saat mendengar jawaban (Namakamu). Padahal dia sangat berharap saat (Namakamu) mengeluh dia telat datang bulan. Mengharap setidaknya (Namakamu) hamil.


***

Iqbaal memperhatikan (Namakamu) yang sedang sibuk menyiapkan bekal untuk Oryz. Sejak liburan beberapa waktu lalu, (Namakamu) terlihat aneh. Dia selalu menghindarinya. Awalnya Iqbaal kira itu karena dia mementingkan urusan perusahaan dari pada liburan yang sudah mereka rencanakan.

Namun pemikirannya terlalu dangkal. Tidak mungkin (Namakamu) marah karena hal itu. Toh urusan perusahaan waktu itu memanglah penting dan genting. Hampir saja perusahaannya gulung tikar kalau saja dia tidak sigap menyelesaikan masalahnya.

Iqbaal juga sudah beberapa kali bertanya pada (Namakamu). Tapi jawabannya selalu 'Nggak papa.'

(Namakamu) duduk di samping Iqbaal setelah selesai menyiapkan bekal untuk Oryz. Sedang Iqbaal sudah mengalihkan pandangannya pada sarapannya. Seolah dia tidak memperhatikan (Namakamu) sebelumnya.

"Mas." Panggil (Namakamu) pelan. Ada keraguan di dalam nada bicaranya.

Iqbaal mengangkat alisnya dengan mata tertuju pada (Namakamu). "Kenapa?"

Home - IDRTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang