11. Aku-Kamu

59.3K 9.2K 154
                                        

Malem ini sepulang kerja gue lanjut kerja lagi di ruang tv. Kamila yang kayaknya udah bosen nonton drakor, melayang ke ruang tv dan nemplok di sofa. Gue yang duduk di permadani menjadi sasaran kakinya buat noel-noel bahu gue.

Ck. Ganggu.

"Nape?" tanya gue dengan mata terpancang pada layar laptop. Suara TV yang menyala jadi backsound antara gue sama Kamila.

"Aku, kamu.... Oh aku... kamu...," Kamila mulai nyanyi.

Gue natep dia heran.

Kerasukan dedemit, ya?

"Kamila lo nggak lagi ngeganja, kan?" tanya gue heran.

Kayaknya uang jajannya nggak cukup buat beli ganja, deh. Soalnya gue kasih uang jajan ke Kamila tuh perhari. Soalnya kalo seminggu, langsung ludes sehari. Kan kacau.

Untung aja Kamila udah nggak sekolah. Coba kalo sekolah. Dia bakal bilang uangnya buat beli buku, padahal buat jajan. Emang nggak ada akhlak.

Kamila manyun. "Lo lupa ya tadi ngomongnya pake aku-kamu?"

Oh, iya. Berbi lupa.

"Terus?"

"Terus kenapa sekarang nggak?!" tuntut Kamila.

"Males."

"Ih, Fadhil!"

Dia mulai dorong-dorong lengan gue dengan kekuatan gajahnya. Lumayan sakit, Cuy. Gue nangkep pergelangan tangannya. Dia kicep. Terus mundur sesaat. Gue nggak ngerti lagi sama yang dia pikirin. Apalagi sekarang dia muter badannya. Gue cuma bisa liat punggungnya sama rambutnya aja.

Gue yang tadinya di depan sofa, kini berbalik jadi posisi nyamping. Tangan kiri gue megang tab, tangan kanan gue nguringkel-ringkel rambut cotton candynya Kamila yang baru aja diblow. Kayaknya tadi siang diblow pas main sama temen ceriwisnya, deh.

"Mil, lo nggak tidur? Udah jam sebelas," ucap gue ngelirik jam di tab. Ni anak soalnya jam sembilan juga udah tidur.

Kamila berbalik, sehingga tangan gue mendelep di badannya. Kamila narik tangan gue terus meluk tangan gue.

Dikata guling.

"Katanya besok, Dhil, kursusnya," kata Kamila.

Oh, jadi Anda lagi nervous hari pertama kursus.

Siang itu gue nanya asisten gue soal tempat kursus yang dipinta Kamila. Sialnya, tempat kursus yang deket rumah ya cuma tempat kursus yang sama kayak Siska dulu. Terpaksa gue daftarin Kamila di sana. Dan katanya besok sore Kamila udah bisa dateng.

"Gimana kalo gue bego, Dhil? Nggak bisa ngaduk adonan," kata Kamila. Gue ngelirik meja yang penuh sama buku resep kue. Ternyata ni anak udah persiapan yang matang juga, ya.

"Emang kenapa kalo bego?" tanya gue.

"Ya, kata orang-orang kalo gue nggak dapet privileges dari bonyok gue, katanya udah lama gue miskin, nggak punya apa-apa," ucap Kamila gamblang.

"Siapa yang ngomong?" tanya gue nggak suka.

Kamila senyam-senyum liat gue ngambek. "Fadhil ganteng deh kalo lagi belain aku."

Dih. Najis.

"Siapa yang ngomong gitu?" tanya gue lagi.

"Ada. Temen SMA. Gue nggak sengaja denger," tutur Kamila. "Ngiri kali dia, gue pas ultah dirayain sesekolahan."

Meski Kamila ngomong itu dengan nada ringan, gue tau dia terluka sama ucapan itu. Kalo nggak terluka, mana mungkin bocah ini inget terus sampe sekarang. Kalo SMA, itu kan udah lewat 8 tahun lalu. Udah lama banget.

Dari posisi nyamping, kini gue posisi ngadep Kamila seutuhnya. Tab gue terlupakan gitu aja. Kedua tangan gue kini dipangku di atas sofa.

"Kamu nggak bego," ucap gue langsung. "Cuman rada o'on aja," tambah gue.

Kamila ngikik. Setuju dia sama ucapan gue.

"Terus kenapa lo nggak kuliah?" tanya gue mengingat percakapan Kamila sama orangtuanya kalo dia lulus SMA aja pas-pasan.

"Nggak mau," ucap Kamila.

Gue ngelus pipinya. "Kenapa?" tanya gue lembut.

"Entar makin keliatan begonya," ucap Kamila natep gue polos. Udah mirip kelinci ketemu harimau.

Gue mau ketawa tapi nggak tega. Dipikir-pikir bener juga. Kasian Kamila kalo diketawain satu kelas.

"Makanya kursus ini penting banget buat gue," Kamila naro tangan gue yang di pipinya ke pipi sebelah kiri. Dijadiin bantal sama dia. "Kalo ini juga nggak bisa, berarti gue nggak bisa apa-apa."

Gue ngeliat Kamila. Jujur aja denger dia ngomong gitu gue langsung pengin nyemangatin dia. Bilang kalo dia nggak bego dan pasti ada yang bisa dia lakuin selain santai-santai. Tapi nggak tau kenapa, gue juga yakin kalo omongan gue nggak bakal berpengaruh.

Karena dia udah nanem mindset kayak gitu dari awal mau ikut kursus.

***

Pagi ini ada yang aneh. Pas gue bangun, Kamila udah nggak ada di pelukan gue. Gue cari-cari nggak ada. Bahkan udah nyari sampe kolong tempat tidur.

Gue mandi dan siap-siap kerja. Dengan pikiran nggak nentu. Solat juga jadi nggak fokus karena mikirin tu bocah nyangkut di mana.

Ketika gue turun ke lantai satu, suara Kamila terdengar di teras. Kamila lagi nyanyi-nyanyi dengan sok syahdu di teras rumah kami.

"BIASANYA TAK PAKAI MINYAK WANGIII, BIASANYA TAK SUKA BEGITUUU. SAYA CEMBURUUU. SAYA CURIGAAA. TAKUTNYA ADA MAIN DI SANAAA."

Kalo membunuh tidak dilarang dan tidak dosa, dedemit yang lagi nyanyi itu sudah terkapar tak berdaya di sana.

"Kamila!" desis gue memanggil anak curut satu itu.

Kamila menoleh dengan wajah tanpa dosa. "Ada apa, Cinta?"

"Sini!" desis gue lagi.

Ibu-ibu depan kompleks yang lihat pertengkaran kami jadi desas-desus. Percayalah, di antara memegang dan mengukur sayuran, gosip ibu-ibu bakal cepat menyebar kayak video viral di medsos.

Gue berdeham. "Sini, Cinta," tambah gue berusaha lebih lembut. Gue nggak mau ada rumor kalo gue jahat sama pasangan sendiri.

Mendengar itu, Kamila hepi. Dia mesem-mesem sendiri dan datengin gue. Kamila melihat gue dari atas sampe bawah, lalu dia nyengir bangga. "Duh yang pagi-pagi udah ganteng...."

Mau muntah....

"Jangan nyanyi depan teras sambil sok-sok bersihin mobil. Bersihin daleman sendiri aja lo males," peringat gue pas kita berdua udah sampai di ruang makan. "Apalagi nyanyi kayak tadi."

Kamila yang nyeduh teh di mugnya kini menengok ke arah gue dengan alis naik sebelah. "Anda ngatur-ngatur, ya. Yang nyanyi gue, yang punya mulut gue, biarin dong gue nyanyi kayak apa juga."

"Entar dikiranya gue selingkuh!" gue berseru frustasi.

Kamila tersedak tehnya karena tertawa. "Ya emang kalo lo beneran selingkuh, kenape?"

"Kamila!"

"KABEYOOO!" seru Kamila, kemudian ngakak sendiri. Kamila memberi sun di pipi gue, kebiasaannya tiap pagi sebelum gue berangkat kerja, lalu naik ke lantai dua dengan langkah ringan. "Fadhil kalo udah mau berangkat, kunci pintunya, yaaa!"

"Kamila, sini!" seru gue frustasi. "Gue belum selesai ngomong. Lo mau ngapain?"

"MAU TIDUR PAGIII," seru Kamila. "SAMPAI JUMPA, DUNIAAA."

"KAMILA!"

Kamila turun ke lantai satu lagi. Kelupaan sesuatu. "Oh iya nanti sore gue ada kerjaan! Yey! Emangnya Fadhil doang yang kerja," ledeknya, lalu balik lagi ke lantai dua.

Nih bocah.

Bener-bener....

Tak ayal, gue senyum. Gue kira Kamila bakal sedih. Ternyata dia cepet pulih.

Atau Kamila pinter nyembunyiin perasaannya?

PrivilegesTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang