Jam di meja kantor udah nunjukkin pukul empat sore. Gue nutup laptop, bergegas pulang. Dari tadi gue mesem-mesem sendiri, karena bentar lagi ketemu Kamila! Bodo amat asisten gue sama staf yang ngeliat gue senyum malah natep gue ngeri. Mungkin mereka ngira gue kerasukan.
Pas sebulan sejak kepulangan gue sama Kamila dari Padang, gue sama dia kemana-mana selalu berdua. Gue berusaha nggak segila dulu kerjanya, jadi ya kalo kerjaan gue buat hari itu udah beres, gue buru-buru ngacir pulang. Kebahagiaan gue ini ternyata ngaruh ke staf gue, karena mereka jadi lebih lengang dan santai. Eh ternyata, malah mereka makin produktif daripada biasanya.
"Hari ini langsung pulang lagi, Pak?" tanya asisten gue dengan tatapan–serius? Tapi tak ayal, dia juga terlihat senang.
"Iya, dong," gue nyengir kuda, nggak peduli apakah wibawa gue ilang atau gimana.
Mungkin asisten gue sama stafnya dalam hati berterimakasih sama Kamila karena bikin gue nggak gila kerja.
Gue turun lewat lift, tadinya mau langsung ke basement, tapi gue pengin beliin sushi yang ada di area foodcourt di lobi gedung. Kamila kan suka sushi. Kemaren pas kami lagi nonton film The Room, Kamila sambil sesegukan, bilang dia mau sushi. Gue nggak ngerti korelasi nonton film melodrama dengan keinginan makan sushi, tapi kalo itu Kamila, gue berusaha ngerti.
Ajegile. Ceilah. Asoy geboy. Azek dah. Gue udah bucin ama Kamila kali ya, jadi begini.
Pas gue mau kucuk-kucuk ke foodcourt melintasi pintu kaca berukuran gede di lobi, mata gue terpaku pada sosok perempuan berambut cokelat lurus digerai, gaun warna merah muda melekat di badannya. Melihat gue, dia melambaikan tangannya semangat.
Gue tersenyum. Iya, perempuan yang cantik cetar membahana itu bini gue.
"Kamilaaa," tanpa peduli banyak mata memandang, gue ngacir ke arah Kamila dan memeluknya. Harum Kamila. Gue nggak tau gimana ngedeskripsiin wangi Kamila. Yang jelas ini jadi jenis wangi favorit gue.
Kamila terkekeh dalam pelukan gue. Dia bahkan sampe nanya ada apa berkali-kali karena gue meluk dia cukup lama dan erat.
Setelah puas memeluk Mario Bros satu ini, gue melepasnya, menatap manik cokelat Kamila. "Ngapain Anda ke sini tanpa bilang-bilang?"
Kamila nyengir kuda. "Kejatuuun!"
"Kejutan," koreksi gue.
"Maunya kejatun."
Gue sama Kamila saling tatap, sebelum tawa kami meledak. Gue pun berjalan ke arah foodcourt sambil menggenggam tangan Kamila. Gue goyang-goyangin tangan kami seiring berjalan.
"Beneran, kenapa? Segitu kangennya sama aku, ya?" tanya gue menggodanya.
"Iya, aku kangen Fadhil, pengen peluk-peluk," Kamila menjawab terlalu jujur sampai hati gue dugun-dugun.
Haduh! Memang gawat perempuan satu ini. Pengen gue jadiin gantungan kunci rasanya. 🥰
"Mau sushi?"
"Mauuu," seru Kamila seneng sama tawaran gue. Matanya berbinar-binar. "Aku seneng deh."
"Kenapa?"
"Fadhil merhatiin omongan aku," jawab Kamila tersipu-sipu.
Gue nyenggol bahunya pelan, tersipu-sipu juga. Ajegile. Apakah ini yang namanya kasmaran? Entahlah. Gue jadi ngerti kenapa Uncle Alvaro sama Aunty Anggi jadi kayak abege tua. Gue sama Kamila nggak ada bedanya.
Karena nggak jadi dibawa pulang, gue sama Kamila berakhir makan dulu di area foodcourt yang sepi, karena memang sekarang belum waktunya makan malam.
Pas Kamila lagi nyuapin sushi ke mulut gue, ponsel gue berdering. Dengan mulut yang masih penuh, gue bilang, "Sebentar."
KAMU SEDANG MEMBACA
Privileges
HumorTelah tersedia di toko buku seluruh Indonesia dengan judul yang sama Kamila orangnya easy going. Fadhil kaku banget. Kamila pengangguran, Fadhil workaholic nomor satu. Kamila suka duit, Fadhil suka ketenangan. Waktu dua keluarga jodohin mereka, Fadh...
