"Ayaaahhh, boleh yaaa?" Sudah sejak pagi, El terus merengek untuk pergi keluar berdua dengan sang adik, Ariella. Ia ingin membawa adiknya itu untuk pergi ke taman kompleks yang ada agak jauh dari rumahnya. Memang mereka berdua terbiasa bermain disana, tapi bersama dengan Adelia atau suster yang saat ini membantu Adelia menjaga anak-anaknya.
"Enggak boleh, Kak. Itu bahaya. Kalo sama mamam, boleh deh," kata Devanno.
"Tapi kan mamam lagi kerjain tugas, Ayaaahhh~" El kembali merengek.
"Kakak sejak kapan ngga nurut sama ayah ya? Mamam marah nanti kalo kakak ngerengek terus."
El memasang wajah cemberutnya. Anak ini memang sedang dalam tahap membangkang. Kalau moodnya sedang tidak baik, ia tidak akan melakukan apapun yang disuruh oleh Adelia ataupun Devanno. Sifatnya benar-benar mirip dengan Adelia.
"Mas Devan, aku ngga usah kerjain tugas makalah ya? Aku capek banget." Kali ini Adelia yang merengek.
"Astaga, apa lagi ini ya Tuhan. Kamu nih ya sama aja kaya El. Nggak bisa! Itu tugas udah dari seminggu yang lalu lho. Aku udah kasih bahan-bahannya buat kamu."
"Ya tapi kan kerjaan aku banyak, Mas."
"Kamu udah putusin buat kuliah lagi, so kalo emang banyak tugas, ngga usah complain. Ok!?"
Adelia mendecak kesal. "Iya iya!"
.....
Dentingan sendok yang menyentuh piring terdengar saat keluarga ini sedang makan malam. Tawa Ariella juga sesekali terdengar ketika El menggodanya. Kedua anak Devanno sangat menyukai sayuran. Adelia terbiasa membiasakan mereka agar anak-anaknya tumbuh dengan baik karena makan makanan bergizi.
"Abis ini ayah mau ke supermarket, ada yang mau ikut?"
"Akuuu.."
"Al..." Kedua anaknya itu kompak menyahut.
"Aku juga ikut," kata Adelia cengengesan.
"Ok! Kalau gitu, habisin makannya dulu kita pergi setelahnya."
"Yeaayy, ayah juara," sahut El yang membuat Devanno tertawa.
Devanno tahu betul kalau anak-anaknya ingin bermain di tempat permainan yang ada di mall, jadi ia sengaja memilih supermarket yang ada terdapat area permainan anak.
"Aku seneng deh kalo jalanan macet gini," ucap Adelia.
"Kenapa?"
"Aku kan jadi bisa mesra-mesraan sama mas Devan di mobil," jawabnya seraya merangkul lengan kiri Devanno.
Hal itu membuat Devanno terkekeh pelan, lalu mengacak rambut Adelia gemas. "Malu sama anak-anak tuh."
"Kita udah lama banget ngga berduaan gini tau mas. Aku kangen."
"Emang Adelia-ku mau kemana berduaan sama aku?"
"Kemana keekk.. Sekarang kemana-mana pasti ada anak-anak yang ikut."
Devanno kembali terkekeh. "Ya terus masa anak-anak ditinggal?"
"Emang mas ngga pengen jalan-jalan ya?"
"Ya pengenlah, Ratuku tapi kan aku sibuk belakangan ini. Kamu juga sibuk kuliah dan tugas-tugas. Gimana hayoo?"
Adelia mendecak. "Makanya jangan kasih aku tugas mulu kenapa sih?"
"Ih, emang aku doang yang suka ngasih tugas banyak? Lagian itu demi nilai juga."
"Iya, sih."
Tangan Devanno beralih merangkul Adelia, membawa istrinya untuk bersandar di dadanya yang cukup lebar. Untunglah jalanan sedang sangat padat. Anak-anaknya pun sudah tertidur di car seat mereka di jok belakang.
"Kalo aku ajak bulan madu lagi, mau ngga?"
Pertanyaan Devanno barusan membuat Adelia mendelik kaget.
"Bulan madu? Kita? Berdua?"
Devanno mengangguk. "Tapi di Indonesia aja, ya? Kita kan ngga bisa lama-lama."
"Mau, Mas. Mau banget."
Devanno tersenyum. "Ok. Nanti kita atur jadwalnya ya."
"Aaahhhh seneng banget.. Makasih ya, Mas Devan," kata Adelia memeluk Devanno.
"Anything for you, My Queen."
.....
Setelah beberapa minggu mengatur jadwal mereka berdua, akhirnya Yogjakarta menjadi tujuan mereka untuk ber bulan madu yang kesekian kalinya. Elvano serta Ariella mereka titipkan sementara di kediaman orang tuanya.
Memiliki seorang Devanno merupakan suatu keberuntungan untuk Adelia. Pasalnya, suaminya itu selalu melakukan yang terbaik untuk membahagiakannya. Begitupun dengan Devanno. Ia juga merasa kehadiran Adelia yang terkesan tiba-tiba ini, membuat hidupnya lebih berwarna. Ia baru tahu arti kebahagiaan sesungguhnya saat memiliki Adelia serta anak-anaknya.
Kini keduanya sudah sampai di bandara Adisutjipto Yogyakarta. Sepanjang perjalanan, senyum dari pasangan suami-istri ini tak pernah pudar terlebih Adelia. Jari-jari tangan mereka pun saling bertautan dengan erat, seolah jika melepaskannya, salah satu dari mereka akan pergi menjauh. Memilih hotel yang tak terletak tidak jauh dari kota adalah pilihan Adelia. Ia ingin berbelanja dengan mudah tanpa harus berjalan jauh.
Sesampainya di hotel, mereka langsung membereskan barang bawaannya di lemari. Kebetulan sekali, keduanya adalah tipe orang yang merapikan dulu segalanya, baru istirahat setelah semuanya selesai.
Adelia mendekat ke arah Devanno, lalu memeluk suaminya itu. "Mas Devan, makasih ya udah ajak aku kesini."
Pelukan Adelia yang hangat, menuntun tangan Devanno untuk membalasnya. "Sama-sama, sayang. Aku juga kepikiran ini udah lama tapi waktunya belum pas terus."
"Mas mau hadiah apa dari aku?" tanya Adelia seraya mendongakkan kepalanya.
Tak menjawab, Devanno hanya memanyunkan bibirnya. Mengerti apa yang diinginkan suaminya, Adelia sedikit berjinjit lalu mengecup bibir Devanno sekilas.
"Kok cuma sekilas?"
"Iihh apa sih, Mas Devan? Aku malu."
"Ngapain malu? Kan kita kesini mau bulan madu."
"Aahhh, udah ah. Aku malu." Adelia melepas pelukannya. Namun Devanno menahan dan membuat Adelia jatuh ke pelukannya.
"Ngga perlu malu lagi sama aku, sayang." Devanno menarik tengkuk Adelia, menempelkan bibir keduanya lalu melumatnya. Cukup intens keduanya melakukan itu, sampai Devanno kembali melepasnya.
Pria itu tersenyum lalu berkata, "I love you, Adelia-ku."
"I love you too, Devanno-ku."
Tamat.
Dah ya.. Jangan nagih lagi 'next'nya hahahaha kalo mau tahu keuwuan mereka, pantengin IGnya aja hehehe
Eh jangan lupa, novel ini bakal terbit bulan depan. So, nabung mulai sekarang ya :*
See you!
Love,
Author and Devanno's family

KAMU SEDANG MEMBACA
My Lecture My Husband-Part 2
FanfictionJika kalian menganggap kalau rumah tangga Devanno dan Adelia berjalan mulus, kalian salah besar..