🍃6

7.9K 1K 200
                                    

Plak!

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Plak!

Calvin meringis saat satu tamparan mendarat di pipinya, "Bukan Cal-

"Gak usah ngebela diri!" bentak Zahra keras, tangannya menggepal.

Apa-apaan ini? anaknya yang terkenal baik di sekolah, berprestasi, kesayangan guru-guru, melakukan hal gila yang tak masuk akal.

"Percaya sama Calvin, mom.." lirihnya sambil menunduk.

Jujur, Calvin seperti sudah melupakan jati dirinya sebagai seorang cowok, ia terisak saat ini, walaupun tangannya beberapa kali mengusap dan matanya mengerjap berharap air matanya tidak menetes.

Tapi nihil.

"Kamu sendiri yang bilang, anak itu punya kelainan mental kan?! terlalu polos? terus kamu bilang dia bohong, gitu?! anak kaya gitu gak mungkin bohong Calvin!"

Zahra menggepal kedua tangannya, rasanya ingin menampar atau bahkan memecahkan rahang Calvin.

Usapan Bella di bahunya sama sekali tak membuat Zahra luluh, jangankan begitu, Jeck yang dari tadi merasa takut sembari menyuruh Zahra berhenti. Itu tak dapat meredakan amarahnya.

"Mom, Calvin gak ngelakuin itu.. Calvin harus bilang apa lagi biar mommy percaya.." ucap Calvin, kali ini benar-benar menangis.

Calvin menangis bukan karna lemah, tapi ia sama sekali tak bisa membuat Zahra percaya padanya, melihat wajah mommy dan kembarannya itu kecewa membuat air matanya tak bisa di hentikan.

"Pergi,"

Jantung Calvin berdetak lebih kencang, Zahra menatapnya dalam.

Calvin meringis melihat Zahra juga terisak kecewa, tapi ia harus bagaimana lagi? memang bukan dia yang melakukan hal bodoh itu. Calvin masih bisa mikir, anak baik-baik, lalu? kali ini sama sekali tak ada yang mempercayainya.

"Mom..."

"Kemas barang-barang kamu,"

"Mom, sumpah-

"Nikahin anak itu!"

Mata Calvin membulat mendengar ucapan Zahra barusan.

"Mom, Calvin berani sumpah, bukan Calvin yang ngelakuin itu, Calvin gak mau,"

"Per-gi!"

ting tong!

Semua pasang mata beralih ke ambang pintu, Irene dan Reva datang, namun jarak mereka berjauh-jauhan, Irene biasanya memimpin Reva, tapi kali ini tidak.

Zahra berdecak sadis menatap keduanya.

"Masuk," ucap Zahra dingin.

Irene menarik nafasnya, mencoba untuk tenang.

Tak pakai basa-basi, Irene mencampak dua buah koper di hadapan Calvin dan Reva.

"Pergi jauh-jauh kalian berdua, sudah bisa hidup sendiri kan? dari pada kalian bikin malu,"

✔ CALVIN (selesai)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang