30. New Addiction III

7.6K 404 8
                                        

Vanessa sempat berpikir jika setelah melepas kehormatannya kepada Leonard, pria itu akan sedikit luluh atau setidaknya bersikap manis kepadanya. Karena Vanessa sempat mendengar pertanyaan Leonard yang terdengar khawatir jika dirinya masih merasakan sakit di antara selangkangannya. Namun ternyata, segala ekspektasi yang Vanessa pikir berubah ketika mereka berdua benar-benar telah melakukan seks hancur sudah.

Leonard tetaplah Leonard, hati pria itu benar-benar keras seperti pahatan tubuhnya yang juga sangat keras. Jika Vanessa memprotes hal tersebut, maka Leonard pasti akan melontarkan kalimat yang mengingatkan posisi Vanessa saat ini. Bahwa dirinya hanya penghibur Leonard, bahwa Vanessa hanya penghangat ranjang Leonard. Dan seharusnya ia tak berharap lebih.

"Beristirahatlah! Kau membutuhkannya." Ujar Leonard, pria itu berdiri dari duduknya di sisi ranjang menuju kamar mandi. Tak memperdulikan ketelanjangan yang memperlihatkan seluruh kulit kecoklatan yang berurat tersebut, Vanessa yang melihatnya merasa malu. Namun pria itu dengan santainya memungut pakaiannya sendiri lalu membersihkan diri di kamar mandi.

Vanessa tak memungkiri satu hal, bahwa ia masih menginginkan Leonard bersamanya di atas ranjang. Hanya saja pria itu merasa malam ini sudah cukup, Vanessa hanya seorang gadis yang baru saja melepas kesuciannya. Bukan wanita dengan bayaran tinggi dengan pengalaman seks yang bagus, akan sangat menyakitkan tubuh Vanessa jika Leonard tak segera menghentikannya.

Sesaat Vanessa mendengar pancuran air di kamar mandi, menandakan pria itu tengah membersihkan diri di dalam sana. Vanessa yang lelah mulai merebahkan tubuhnya di atas ranjang, menutupi seluruh tubuh telanjangnya dengan selimut tebal beraroma maskulin yang menguar dari tubuh Leonard. Rasanya sangat nyaman, sampai ia tak sadar jika Vanessa telah menutup kedua matanya dan tiba di alam mimpi.

Beberapa saat kemudian Leonard keluar dari dalam kamar mandi dengan handuk melilit di sekitar pinggul, tak menyadari jika Vanessa masih berada di kamarnya dan tertidur lelap. Setelah melihat pantulan sinar rembulan di rambut pirang, Leonard baru menyadari jika gadis cantik itu tengah tertidur.

Leonard menengoknya sejenak, tubuhnya terdiam saat melihat wajah cantik gadis itu tertidur dengan nafas teratur.

Mengapa dia sangat cantik?

Dan bodohnya Leonard hanya berani mengagumi kecantikan Vanessa dari kejauhan atau ketika gadis itu tengah tertidur seperti ini, bukan saat mereka berdua tengah berdekatan.

Karena Leonard menolak sebuah keintiman, ia tidak ingin melakukan hal yang terlalu intens dan menyebabkan sebuah perasaan lain masuk ke dalam kehidupan seks di antara mereka. Karena Leonard menyadari suatu hal di antara netra kebiruan gadis itu, ada sebuah ketertarikan di balik materi dan seks, dan Leonard khawatir ia tidak dapat memberikan kenyamanan atas sebuah hubungan kepada Vanessa.

Lagi pula, ia hanya seorang duda yang usianya sangat jauh dari gadis itu. Ia bahkan memiliki seorang putra yang seusia dengan Vanessa, semua orang akan berpikir negatif jika itu benar-benar terjadi. Nathan pun pasti akan membencinya, setelah mereka berdua baru saja membangun kehidupan antara ayah dan anak secara harmonis. Leonard tidak akan membiarkan hal itu terjadi, hanya karena seorang gadis.

Memikirkan hal itu membuat kepala Leonard terasa sakit, dengan handuk yang masih melilit di pinggul ratanya, ia memilih tidur di atas sofa di sudut ruangan. Lebih baik ia tidur berjauhan dengan gadis itu dari pada membangungkan juniornya lagi.

.
.
.
.
.

Vanessa terbangun dari tidurnya, mentari pagi yang masuk melalui jendela yang terbuka menyilaukan pandangan. Masih teringat gerakan erotis dan desahan serta geraman yang selalu berputar di kepalanya, pada awalnya Vanessa berharap itu hanyalah mimpi. Namun melihat keadaannya yang kacau dan hanya terbungkus selimut tebal menandakan bahwa hal itu benar-benar terjadi.

Jam menunjukan pukul 8 pagi dan ia hampir terlambat. Vanessa melihat sekitar, baru menyadari bahwa ini bukanlah kamarnya. Ia segera berlari ke kamar mandi guna membersihkan diri.

Beberapa saat kemudian, ia mengendap keluar. Sedikit terkejut ketika melihat punggung seseorang membelakanginya.

"Nate?" Panggil Vanessa.

"Hey, kau sudah bangun? Aku dan Ayahku sudah menunggu sedari tadi di ruang makan." sapa lelaki berambut ikal dengan kedua mata biru safir yang tak lain adalah sahabat baiknya itu.

"Untuk apa?" Tanya Vanessa bingung.

"Sarapan pagi."

"Oh, i-iya. Maaf, aku terlambat lagi" kata Vanessa kikuk.

Mereka berdua menuju ruang makan, dari kejauhan terlihat seorang pria yang tak lain adalah Ayah Nathan duduk di sana sambil membaca koran paginya.

Vanessa yang merasa gugup lalu duduk di sebelah Nathan, sementara sahabatnya itu terus mengoceh tak jelas sedari tadi.

"Daddy, Vanessa di sini." Kata Nathan kepada Daddy-nya.

Pria yang duduk berhadapan dengan Vanessa itu menurunkan korannya, membuat Vanessa tertunduk malu dan tak ingin memandang pemilik netra kecoklatan yang sangat indah tersebut.

"Uhm, terimakasih telah mengijinkanku untuk bekerja di sini Mr. Watson." ucap Vanessa gugup, tenggorokannya terasa kering saat berbicara dengan pria itu. Vanessa bahkan tidak sanggup jika harus mendengar suara besar yang selalu berhasil mengintimidasi dirinya itu.

"Hmm..." sahut Leonard, pria yang tak lain adalah Ayah kandung dari Nathan. Vanessa bahkan sempat menggigit bibir bawahnya sendiri mendengar geraman itu keluar dari mulut Leonard. Mengingatkan dirinya dengan kejadian semalam yang membuatnya mampu mencapai klimaks yang hebat.

Akhirnya Vanessa mencuri pandang dengan pria itu diam-diam, melihat Leonard yang duduk rapi berseberangan dengannya sambil menatap tajam ke arah Vanessa.

Kedua netra kecoklatan dan rambut dengan warna senada yang ditata serapih mungkin. Serta bahu besar yang tertutupi jas kerja, yang sayangnya tak dapat ia sentuh.

Setelah selesai dengan acara sarapan pagi, Leonard dan Nathan bergegas untuk pergi bekerja. Dari balik kaca jendela mobil Nathan melihat senyum gadis itu, berdiri di ambang pintu rumah seperti seorang istri yang selalu setia menunggu. Leonard melirik ke arah Nathan yang tersenyum.

"Vanessa sangat cantik ya, 'Dad?" Tanya Nathan, Leonard hanya membalasnya dengan geraman.

"Jika saja dia menjadi istri-"

"Lebih baik kau fokus mengurus perusahaan terlebih dahulu dari pada memikirkan wanita, Nathan." Potong Leonard, Nathan hanya mengangguk. Di sepanjang jalan, Nathan tak berhenti memikirkan Vanessa.

Kenapa Vanessa? Karena di kota sebesar ini, sangat sulit mencari gadis yang tidak hanya terlihat cantik dari luar. Namun juga dari dalam hatinya, dan Nathan yakin Vanessa memiliki hati yang bersih dan cantik seperti wajahnya.

"Baiklah. Tapi jika waktunya tiba, tentu aku boleh memilih calonku sendiri bukan Dad?" Tanya Nathan.

Leonard hanya diam...

***

To be continue

13 Oktober 2020

***

"when desire has been burned become a love, will you stay forever?" ❤

Dating His FatherCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang