29. New Addiction II

8.6K 408 13
                                        

Meskipun angin dingin mulai mencekam di luar sana, namun tak menghentikan kegiatan panas yang dilakukan oleh dua anak manusia yang saling bertukar kehangatan. Tak menghiraukan suhu dingin, malah hal tersebut membuat suhu tubuh mereka makin memanas meski tanpa sehelai benang pun.

Deru nafas panas dan desahan makin membangkitkan gairah, suara kecupan yang semula ringan kini berubah menjadi liar demi memperoleh kenikmatan. Bertukar saliva membuat geraman dan desahan makin terdengar seksi. Meninggalkan beberapa bekas di lekukan leher dan dada yang selalu menjadi candu bagi sebagian orang, begitu intens dan memabukan.

Gadis cantik itu terlihat mendongakan kepalanya seraya mendesah, menikmati setiap sentuhan yang diberikan oleh jemari besar di setiap tubuhnya. Lekuk tubuh gadis itu terlihat erotis, rambut pirang yang ia biarkan terurai indah terlihat menyala terkena pantulan sinar rembulan yang masuk melalui celah jendela.

Rasa ngilu yang awalnya membuatnya sedikit ragu kini tergantikan oleh rasa nikmat, meski perih ia tetap menikmatinya. Ia menyukai rasa perih, tekanan jemari serta bobot tubuh besar yang berada di atasnya.

Bergerak seirama dengan geraman seksi yang melantun indah di telinganya, kedua tangannya ditahan oleh lengan berbulu yang dua kali lebih besar dari lengannya. Tak membiarkan Vanessa bergerak sedikit pun, padahal gadis itu tak berniat untuk kemana pun selain menikmati hal yang telah lama ia nanti.

Leonard sangat memahami titik sensitif wanita, termasuk memainkan sebuah permainan yang panas. Membiarkan tubuh Vanessa menjadi sangat panas, setelah itu ia akan memulai permainannya. Seperti panas yang Vanessa rasakan di antara kedua kakinya saat ini, saat paha besar Leonard terus membuka lebar kedua paha Vanessa. Memberikan akses yang lebih luas lagi bagi Leonard.

"Kau sangat cantik..." bisik Leonard saat melihat wajah mulus tersebut tersinari oleh cahaya bulan, mendesah tanpa henti seraya menutup kedua matanya. Leonard bahkan tidak dapat berpaling dari bibir kenyal yang telah memerah karena perbuatannya tersebut, mengecupnya sesekali membuat Vanessa kesulitan bernafas.

Vanessa juga merasakan di bagian dadanya saat bersentuhan dengan dada Leonard, terasa berbulu... menggelitik... dan geli...

"Masih sakit kah?" Tanya Leonard di sela nafas berat dan kedua matanya yang mulai sayu.

Vanessa hanya menggeleng, ia tak lagi merasakan sakit karena ia menyukai rasa sakit tersebut.

Setelah mengetahui jawaban Vanessa, Leonard makin bersemangat memperdalam miliknya. Tubuh gadis itu terlihat melengking menikmati, Leonard yang melihat dada membusung dan menantang dirinya sontak membenamkan wajahnya di sana. Menghirup aroma manis dan wangi yang menguar dari tubuh gadis itu. Menahan pinggulnya agar tetap melengking, sungguh tubuh gadis itu benar-benar sempurna. Jika saja Vanessa adalah wanita penghibur, Leonard sudah pasti membayarnya terlalu murah.

"Berbalik!" Tukas Leonard, gadis itu membuka kedua mata dan Leonard telah membalik tubuhnya hingga membelakangi pria itu. Menekan kepala Vanessa agar tertumpu di ranjang sementara bokongnya menjulang dan membentuk bongkahan padat, Vanessa sempat terkejut saat Leonard menampar bokongnya dengan keras.

"Lain kali jangan menggunakan seragam maid yang terlalu pendek di hadapan Nathan, mengerti?"

Plak!

Ughhhh....

Vanessa yang membelakangi Leonard sedikit bingung, bukankah pria itu yang menyuruh Vanessa mengenakan seragam tersebut. Meskipun Vanessa sudah protes jika seragamnya tidak cukup untuk tubuh sintalnya.

Beberapa saat kemudian Vanessa merasakan cairan yang terasa lengket mendarat di bokong mulusnya dan diusap oleh jemari kasar Leonard hingga merata, aromanya wangi, Vanessa menyukainya. Namun sesaat kemudian ia merasakan bokongnya di tampar lagi lebih kuat dari sebelumnya, panas dan perih kini menjadi satu di selangkangan dan bokongnya. Vanessa bahkan tidak yakin jika besok ia bisa bangkit dari ranjang dan bekerja seperti biasanya.

"Aku tanya, apa kau mengerti?! Kau gadis nakal!!!" Cecar Leonard seraya mendaratkan pukulan keras dan remasan kasar di bokongnya, setelah Vanessa mendengar hal itu barulah ia menyadari bahwa Leonard seolah memainkan sebuah permainan. Dan Vanessa kembali bergairah mendengar kata 'nakal' yang ditujukan kepadanya.

Vanessa mengatur kembali posisinya dan semakin membuat bokongnya terlihat bulat menantang, Leonard yang melihat hal itu nafasnya mulai berat.

Seketika Vanessa merasa rambutnya dijambak dengan keras dan lehernya terasa dicekik, "apa kau menantangku, huh?" Tanya Leonard, menampar kedua pipi mulus Vanessa secara bergantian. Namun Vanessa malah menyukai hal tersebut seraya tersenyum nakal.

"Apa kau suka aku menjadi nakal, sir? Jika iya, hukumlah aku..." pinta Vanessa, Leonard menyeringai. Gadis ini melebihi ekspektasi Leonard, ia pikir Vanessa tipe gadis pendiam dan hanya bisa menerima perlakuan kasar Leonard. Namun makin kesini, Vanessa makin memperlihatkan sisi binalnya.

Siapa yang menyangka gadis pendiam bukanlah gadis yang binal, terkadang seorang pria hanya perlu memberikan sentuhan halus untuk melihat seberapa besar hasrat mereka.

"Kau akan menyesal telah menantangku, little girl..." bisik Leonard, mengecup bibir Vanessa sesaat sebelum ia benar-benar menghancurkan tubuh sintal yang baru saja melepas kehormatannya demi pria tua seperti Leonard.

Vanessa menahan rasa sakit dan nikmat secara bersamaan saat Leonard menungganginya bagai kuda liar, menarik rambutnya dan membiarkan tubuh Vanesaa melengking sempurna. Vanessa tidak dapat melihat wajah Leonard, sementara pria itu dapat melihat seluruh tubuh Vanessa dari belakang. Bergerak sesuai irama dan pergerakan mulai brutal, Vanessa bahkan tidak dapat membedakan mana jeritan dan mana desahan. Semua terasa mengerikan namun Leonard tak kunjung melepaskan jambakan rambutnya serta tak menghentikan kegiatannya.

Hingga beberapa menit kemudian, Leonard mendorong tubuh Vanessa dengan kuat. Tubuh sintal tersebut tersungkur lemas dengan nafas terengah, Leonard hampir saja membuatnya tak bisa bernafas saat hentakan kasar yang menyentuh ujung rahimnya.

Leonard membiarkan Vanessa menarik nafas sejenak, setelah itu ia membantu Vanessa perlahan bangkit dari atas ranjang. Dan lagi-lagi sentuhan Leonard membuat hasrat Vanessa yang sempat redup karena lelah, kini kembali lagi.

Ia berdiri di samping ranjang, berhadapan dengan pria yang duduk di tepi ranjang memainkan tubuhnya. Seperti jemari itu telah menjadi candu, mengingkannya terus-menerus bermain di seluruh tubuhnya dengan sedikit remasan dan membuatnya terpekik. Brewok tipis milik pria itu turut menggelitik perut ratanya dengan kecupan-kecupan ringan di bawah sana, terasa seperti kupu-kupu yang beterbangan.

"I love the way you explore my body" kata Vanessa seraya mendesah, kedua tangannya reflek ingin menyentuh bahu lebar pria itu, namun terhenti ketika kedua tangan besar milik Leonard menghentikan gerakannya. Vanessa merasa terkejut, ia lalu menatap Leonard. Kedua mata elang tersebut menatapnya tajam dengan pandangan penuh gairah namun terlihat kejam.

Kedua mata kecoklatan itu begitu indah, namun siapa sangka di balik segala keindahan yang dimiliki pria itu terdapat beberapa hal yang mengerikan.

Vanessa sempat bergidik ngeri begitu mengingat keganasan pria yang mampu membuat tubuhnya melemah dan menggeliat sekaligus.





***

To be continue

6 Oktober 2020

Dating His FatherCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang