日食
Enam tahun berlalu, langit kali ini berwarna biru, menunjukkan cerahnya hari di musim panas yang baru. Di antara hijaunya pepohonan, seorang anak laki-laki berdiri menghadap dua buah batu nisan.
Matanya terpejam berbarengan dengan kedua tangan mungilnya yang menyatu di depan muka. Bibirnya tersenyum, sementara hatinya merapalkan doa-doa untuk mereka yang tenang di surga.
Soobin meletakkan seikat bunga lili putih di atas batu nisan, lalu mengusap pelan punggung si bocah.
"Sora, sudah selesai berdoa?" tanya Soobin ketika anak itu menatap ke arahnya.
Sora mengangguk sebagai jawaban. Matanya lucu, berkedip-kedip gemas tampak cantik karena bola matanya bak bertaburan bintang. Soobin jadi teringat dengan mata adiknya.
"Paman, mengapa kita harus kemari setiap tahun?" tanya Sora dengan polosnya. Soobin tersenyum, Sora masih berusia enam tahun. Masih terlalu belia untuk paham akan makna sebuah kematian.
"Karena Kakek dan Nenek ingin melihat Sora tumbuh setiap tahun." kata Soobin dengan senyum teduhnya.
"Tapi, Kakek dan Nenek tidak ada di sini. Dimana mereka?" tanya Sora lagi.
"Mereka ada di surga, Sayang. Melihat Sora dengan bahagia." kata Yeonjun yang sedari tadi terdiam di belakang mereka.
"Surga itu dimana?"
Yeonjun menggigit bibir dalamnya sedikit kesal, ia bingung menjawab apa.
"Sora!" sapa seorang lelaki yang baru datang. Sora menatap senang, lupa akan pertanyaan yang baru ia lontarkan.
"Ayah!" teriaknya sambil berlari ke arah Taehyun.
Tangannya ia rentangkan, meminta pelukan dari sang ayah. Taehyun berjongkok, lalu merengkuh anaknya ke dalam pelukan. Setelahnya, ia gendong si kecil dan berdiri.
"Apa kabar, Sora?"
Sora menoleh, mencari pemilik suara. Matanya lalu berbinar bersemangat menatap dia yang datang bersama Beomgyu.
"Paman Hueningkai!" teriak Sora riang.
Beomgyu yang berada di sebelah Hueningkai tersenyum, lalu mendekat menghampiri anaknya.
"Maaf ya, kami terlambat. Tadi di jalan kami bertemu Paman Hueningkai, Sayang." kata Beomgyu kepada Sora. Sora mengangguk tersenyum.
"Apa yang kau lakukan di sini?" tanya Yeonjun kepada Hueningkai.
"Oh, tadinya aku berkunjung ke makam orang tua calon istriku. Tapi, melihat Taehyun dan Beomgyu jadi berbincang-bincang sejenak. Oh iya ..." kalimat Hueningkai terhenti sejenak dan menimbulkan keheningan di antara mereka, "aku akan menikah dua minggu lagi."
Senyum sorak bahagia mengiringi mereka. Ucapan selamat dan jabat tangan pun Hueningkai dapatkan.
Beomgyu dan Taehyun merasa bahagia. Usaha mereka untuk mengingatkan hal-hal baik pada Hueningkai selama menjadi tahanan tidaklah sia-sia. Kini mereka bersahabat baik, bahkan Sora senang bermain bersama Huening.
日食
Hari menjelang sore, Taehyun menaiki kuda cokelatnya mengikuti Beomgyu dan Sora yang menunggangi kuda warna putih di depannya. Mereka kembali ke Negara Api.
Mereka berkunjung ke Negara Air setiap ada perayaan, atau sekedar mengunjungi makam orang tua Beomgyu.
Taehyun yang sedang asyik berkuda, tersenyum kala maniknya melihat tangan kecil Sora melambai-lambai dari balik jubah Beomgyu.
Bulan di langit mulai bersinar mengiringi perjalanan mereka, menandakan malam telah datang. Cahaya matahari tak padam memantul pada sang rembulan, indah.
Kadang bulan bulat sempurna, kadang ia menjadi sabit. Tak ada yang salah, hanya sebuah bentuk. Sinarnya masih sama, sinar dari mentari.
Tanpanya, langit kita tak bercahaya. Warnanya hanya gelap, tak ada kehidupan.
Bulan dan Matahari, dua hal indah yang bersama dalam satu tempat bernama Langit.
Tamat
Catatan Penulis:
Halo semua!
Cerita ini adalah cerita pertamaku di wattpad yang terselesaikan.
Aku sadar dalam cerita ini masih banyak kekurangan baik dari segi alur maupun penulisan, tapi aku selalu berusaha untuk menyajikan yang terbaik bagi pembaca.
Aku sangat berterima kasih kepada kalian yang sudah membaca setiap bagiannya, sudah mau memberikan vote dan komentar, serta memasukkan cerita ini ke dalam library atau daftar bacaan kalian.
Salam, semoga kalian bahagia selalu 🌼❤
KAMU SEDANG MEMBACA
Solar Eclipse | Taegyu
Fiksi PenggemarPutra mahkota Kang Taehyun ditakdirkan sebagai sang Bulan sejak lahir. Ia harus menikahi sang Matahari sebelum bulan purnama ketiga tahun naga api, atau ia akan mati. Berhasilkah ia menikahi sang Matahari sebelum waktunya berakhir? Genre: Boys Love...
